| Pulau Jemur Rawan Illegal Fishing |
| Sabtu, 05 Juli 2008 | |
|
Laporan MURYADI, Panipahan
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
KAWASAN perairan Pulau Jemur di Kecamatan Pasir Limau Kapas paling rawan terhadap pencurian ikan (illegal fishing). Didalangi kapal berteknologi modern, paling banyak dilakukan oleh nelayan asal Belawan, Tanjung Balai Asahan dan sejumlah negara tetangga. Penegasan itu dikemukakan Camat Pasir Limau Kapas Binhar Jamil, Jumat (4/7) menyikapi sejumlah kiat yang dilakukan Dinas Perikanan dan Kelautan dibantu aparat keamanan lokal yang berada di masing-masing kecamatan. Katanya, dalam menjalankan kejahatan illegal fishing, tak jarang para pelaku dan nelayan memanfaatkan kekuatan pihak tertentu terutama menghadapi jikala berpapasan dengan nelayan tradisional. ‘’Maka ketika itu benar-benar terjadi, tak urung nelayan tradisional terdesak. Jika melawan, maka buruk akibatnya lebih-lebih semasih berada dilaut lepas,’’ sebut Binhar mengulas kejahatan pencurian ikan kerap dilakukan dalam jumlah besar, dengan barikade kapal-kapal bertonase berat dan berteknologi mutakhir. Berbicara soal waktu, Binhar menyebut tidak dapat memastikan kapan saja waktu para bajak-bajak laut itu merambah keperairan Pulau Jemur khususnya. Sebab bila merunut berbagai temuan lapangan, kapal-kapal pukat ikan itu pada umumnya memiliki satelit pantau dimana mampu memprediksi komunitas ikan dibawah laut. Sehingga dalam sekejap melaksanakan aksinya, kapal-kapal pukat ikan itu mampu meraup belasan ton ikan hanya untuk satu kali operasi. Pernah satu ketika seperti disampaikan Binhar, sekitar Desember tahun lalu ditemukan 12 kapal pencurian ikan bertonase berat melakukan penangkapan ikan di Pulau Jemur. Masa itu, aparat keamanan yang berada di Panipahan berkebetulan melakukan pengawasan laut bersama sejumlah anggota DPRD dan menemukan langsung. Sehingga upaya pengusiran paksa ditempuh berbekalkan segenap kekuatan yang ada. Akibat tindakan hukum tersebut, kapal-kapal pukat ikan kabur meninggalkan seluruh alat tangkap yang sedang beroperasi menghindari kejaran petugas. Walau kabur, belasan kapal asal Belawan dan Sumatera Utara itu khususnya ditengarai telah meraup tangkapan dalam jumlah besar. ‘’Kasus-kasus seperti itu, paling banyak terjadi disekitar Gugusan Kepulauan Arwah. Sampai suatu ketika, kapal-kapal pengawas perikanan yang kini rutin dilapangan dapat mencegah dan menangkal dari sekian kasus yang masih saja terjadi dilapangan,’’ tukasnya. Insiden demi insiden seperti diutarakan Binhar, sebenarnya kerap terjadi seperti aksi pembakaran kapal pencurian ikan yang tertangkap baik oleh petugas maupun oleh masyarakat. Aksi brutal warga itu sebenarnya lebih pada pelampiasan amarah akibat pencurian itu merugikan nelayan-nelayan tradisional dari Rokan Hilir. ‘’Efek jera itu pasti ada. Namun demikian, karena dalam jumlah para pelaku cukup banyak maka sebanyak itu pula kasus serupa terus terulang,’’ tutup Binhar.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






