| Titik Api Menurun Drastis |
| Sabtu, 05 Juli 2008 | |
|
BAGANSIAPI-API (RP) - Jumlah hot spot yang menjadi sumber utama penyebab munculnya kabut asap di Kabupaten Rohil, ternyata mengalami penurunan sangat dratis. Ketika mereview ke belakangan kegiatan pencegahan dan penanggulangan hot spot dilakukan oleh tim Satuan Pelaksana Koordinasi (Satkorlak) Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), ternyata menemukan sejumlah hambatan dan kendala.
‘’Kalau dilihat dari belakang, jumlah hot spot di Rohil 2005 tercatat sebanyak 1.659 titik panas. Kemudian, jumlah hot spot tahun berikutnya yakni 2006 berkurang menjadi 554 titik panas. Selanjutnya pada 2007, jumlahnya kembali mengecil menjadi 305 titik, Khusus 2008 terhitung dari bulan Januari hingga Juni ini, titik api hanya sebanyak 180 saja,’’ kata Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Rohil, Drs H Syahruddin AS Bsc. Dalam prosesi pelanggulangan hot spot, tambah Syahruddin, semua potensi yang ada telah dikerahkan. Selain membentuk tim Satkorlak Dalkarhutla, kebijakan lain juga dilakukan. Salah satu di antaranya memberdayakan masyarakat di semua kecamatan dengan membentuk relawan anti api. ‘’Relawan anti api ini dibentuk di semua kecamatan yang ada di Rohil. Dengan melibatkan semua potensi yang ada itulah, kondisi hot spot di Rohil ini setiap tahunnya dapat kita tekan. Dan ini semua berkat dukungan dan peran serta dari semua pihak termasuk masyarakat,’’ kata Syahruddin. Syahruddin menjelaskan, dalam pelaksanaan di lapangan hanya satu permasalahan yang selalu menjadi kendala. Salah satu di antaranya yakni sulitnya menjangkau lokasi atau medan yang terbakar. ‘’Umumnya daerah yang terbakar itu, berada di tengah-tengah hutan. Sementara, kapasitas daya jangkau kita terbatas. Selain jauh, ternyata sumber air juga sulit didapatkan. Itulah salah satu kendala yang serius kita hadapi pada waktu itu,’’ kata Syahruddin. Kendala lainnya yakni menyangkut kondisi lahan yang terbakar. Di mana, sebagian besar kondisi lahan yang terbakar tersebtu berupaya lahan gambut yang memiliki ketebalan cukup tinggi. ‘’Kalau dilihat dari atas, apinya memang tidak kelihatan. Kalau di dalam, baranya terlihat jelas. Makanya, kalau tidak dipadamkan secara betul, api itu akan muncul lagi. Makanya, setelah mengoptimalkan semua potensi yang ada, keterbatasan sarana bukan menjadi alasan untuk dapat memadamkan api itu,’’ kata Syahruddin.(sah) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






