| Bank Masih Tahan Bunga Kredit |
| Jumat, 04 Juli 2008 | |
JAKARTA (RP) - Kenaikan suku bunga acuan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 8,75 persen disikapi hati-hati oleh industri perbankan. Mayoritas dari mereka memilih untuk tidak langsung menaikkan bunga kredit.Presiden Direktur PT Bank NISP Tbk Pramukti Surjaudaja menyatakan, bank lebih baik untuk melihat terlebih dahulu kondisi keseimbangan pasar sebelum menaikkan bunga kredit. ”Kondisi dunia usaha dan arah perekonomian nasional harus dicermati serius,” ujarnya di Jakarta kemarin (3/7). Dia menyatakan, bank-bank akan lebih memilih menahan bunga kredit karena mayoritas bank sudah menaikkan bunga kredit ketika BI rate kali pertama naik 25 basis poin Mei lalu. Begitu juga NISP. ”Hampir semua bank rasanya sudah menaikan bunga kredit, khususnya bagi nasabah baru. Kenaikan berkisar sekitar 1 persen,” terangnya. Pramukti memprediksi, tren suku bunga ke depan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan bunga acuan oleh BI. Di bank yang dikendalikan OCBC Bank Singapura tersebut, kata dia, bunga dinaikkan sesuai dengan kondisi pasar. ”Misalnya, kita lihat jenis industri,” ujarnya. Dengan berbagai prediksi tersebut, dia memprediksi kredit akan tumbuh moderat. ”Akan berkisar kurang lebih 15 persen,” ujarnya. Itu berarti di bawah target industri sebesar 24,6 persen. ”Saat ini LDR kami sudah lebih dari 90 persen, karena itu tidak ada tekanan memberikan kredit,” katanya. Per kuartal pertama 2008, outstanding kredit di bank beraset Rp27,58 itu mencapai Rp18,9 triliun. Selain karena baru saja menaikkan bunga kredit, para pelaku di industri jasa keuangan tersebut memilih untuk sedikit mengorbankan net interest margin (NIM, selisih antara bunga yang diberikan debitur dan bunga yang harus dibayarkan bank ke nasabah). Itu dilakukan terutama bank-bank yang sudah mempunyai NIM tinggi, di atas 5 persen. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menyatakan, tidak akan menaikkan bunga kredit. Dengan besaran NIM yang tinggi, sekitar 10,5 persen, mereka sudah merasa cukup aman untuk menjaga kesinambungan pendapatan. “Kita akan melihat lebih dulu tren bunga tersebut. NIM kami sudah cukup, karena itu kenaikan bunga kredit tidak akan dilakukan terburu-buru,” ujar Corporate Secretary BRI Hartono Sukiman. Wapresdir PT Bank Danamon Tbk Jos Luhukay menyatakan, kenaikan bunga kredit akan berpotensi menimbulkan peningkatan kredit bermasalah (NPL). Padahal, masyarakat juga sudah sangat kesulitan pascakenaikan harga BBM. Sehingga, risiko peningkatan NPL sangat besar. Karena itu, Danamon tidak akan menaikkan bunga kredit, dan memandang NIM yang dipunyai saat ini sudah cukup untuk menjaga kestabilan pendapatan karena berada di kisaran 7 persen. ” Kita juga melihat dulu pengaruh kenaikan bunga terhadap kemampuan dunia usaha. Sekarang semuanya kita kaji,” tuturnya. ”Tanggal 17 nanti sikap resmi kami keluar. Yang jelas, kami mengantisipasi semua kondisi pasar,” imbuhnya. Wakil Presdir PT Bank Central Asia Tbk Jajha Setiaatmadja menambahkan, untuk kenaikan bunga kredit, banknya tidak akan terburu-buru. Lebih baik, kata dia, mengkaji dengan seksama daripada membuat keputusan yang salah, yang tentu bisa berakibat fatal. Misalnya, meningkatnya NPL. “Karena itu, kami memutuskan tidak akan terburu-buru menaikkan bunga kredit,” katanya. NIM BCA saat ini sekitar 5,8 persen. Meski cukup mepet, itu dinilai sudah cukup untuk menjaga stabilitas keuntungan. Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, potensi peningkatan NPL cukup besar. Karena itu, bank-bank lebih baik memilih menahan bunga kredit.(jpnn/fiz) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





JAKARTA (RP) - Kenaikan suku bunga acuan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 8,75 persen disikapi hati-hati oleh industri perbankan. Mayoritas dari mereka memilih untuk tidak langsung menaikkan bunga kredit.
