| Sejarah Baru LDU |
| Jumat, 04 Juli 2008 | |
Laporan JPNN, Rio de JenairoJUARA baru lahir di kancah Copa Libertadores. Secara mengejutkan klub Ekuador, Liga Deportiva Universitaria (LDU) Quito berhasil menjadi jawara Liga Champions-nya Amerika Latin ini. LDU juga mencatat sejarah sebagai klub Ekuador pertama yang berhasil menjadi juara ajang Copa Libertadores. Sebelumnya, prestasi tertinggi klub Ekuador di Copa Libertodores adalah melaju ke final. Torehan itu diraih klub Barcelona SC di edisi 1990 dan 1998. Tapi di kedua babak puncak, Barcelona disingkirkan Olimpia (Paraguay) dan Vasco da Gama (Brazil). Keberhasilan LDU menjadi yang terbaik ini serasa kian istimewa karena diraih di kandang lawannya di babak final, Fluminense (Brazil). Klub berjuluk Los Albos itu berhak menyandang gelar klub terbaik seantero setelah menang adu penalti 3-1. Drama adu penalti harus dilalukan setelah di leg kedua kemarin, LDU kalah 3-1. Di leg pertama, di kandang sendiri LDU menang 4-2 sehingga agregat menjadi imbang 5-5. Kiper LDU, Jose Francisco Cevallos, menjadi pahlawan bagi timnya. Dalam adu penalti, kiper 37 tahun itu berhasil menggagalkan tiga eksekusi lawan (Dario Conca, Thiago Neves dan Washington). Hanya satu eksekutor tuan rumah yang dengan sempurna menjalankan tugasnya, yaitu gelandang Cicero. Tiga algojo LDU, masing-masing Patricio Urrutia, Franklin Salas dan Joffre Guerron, sukses menjalankan tugasnya dan hanya pemain belakang, Jairo Campos yang eksekusinya melenceng. ‘’Ini kemenangan luar biasa bagi kami. Sejarah baru berhasil kami catatkan. Tidak hanya di liga (Copa Libertadores), tapi juga di persepakbolaan Ekuador,’’ kata Edgardo Bauza, pelatih LDU seperti dilansir Reuters. ‘’Pemain kami tampil sangat bagus kali ini. Mereka tetap solid meski tertinggal 1-3. Sangat berat menghadapi situasi sulit seperti itu. Tapi mereka bisa menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya,’’ lanjut Bouza. Di laga leg kedua di Stadion Maracana yang disaksikan 86 ribu suporter itu, tuan rumah dikejutkan dengan gol cepat striker Luis Bolanos di menit keenam. Tapi Fluminense berhasil membalasnya lima menit kemudian lewat Thiago Neves. Striker yang baru memulai debutnya bersama Timnas Brazil itu membalikkan keadaan menjadi 2-1 di menit ke-28 meneruskan crossing Cicero. Neves kemudian mencetak hat-trik-nya di menit ke-57 lewat free kick cantik. ‘’Saya mencetak tiga gol tetapi tidak berarti sama sekali karena kami tidak meraih piala kemenangan itu,’’ kata Neves. ‘’Kami main lebih bagus dari LDU dan layak meraih hasil lebih baik. Tapi harus menerima kenyataan pahit seperti ini. Tapi tim ini harus diberi ucapan selamat karena sudah memberikan yang terbaik,’’ timpa defender Fluminense, Thiago Silva. Dengan kekalahan ini, sirna sudah ambisi Tricolor Carioca (julukan Fluminense) menempatkan diri sebagai klub Brazil kesembilan yang pernah menjadi juara Copa Libertadores menyusul Palmeiras, Sao Paulo, Santos, Flamengo, Vasco, Internacional, Gremio, dan Cruzeiro. Kekalahan ini juga sangat memukul pelatih Fluminense Renato Gaucho yang sebelumnya siap-siap mencetak sejarah sebagai pemain dan pelatih pertama yang berhasil menjuarai Copa Libretadores. Pada 1983, saat menjadi pemain, Gaucho turut berperan penting mengantarkan Gremio menjadi juara. Dini hari kemarin LDU, menerima Trofi Copa Libertadores di stadion yang sudah nyaris kosong 20 menit setelah pertandingan berakhir, karena penonton meninggalkan lapangan setelah tendangan penalti berakhir.(ali/fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





Laporan JPNN, Rio de Jenairo
