| Tambang Batu Bara Masih Dikaji |
| Jumat, 04 Juli 2008 | |
|
Laporan BUNYAMIN, Pangkalankerinci
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
PEMERINTAH Kabupaten Pelalawan belum memutuskan persetujuan eksplorasi batu bara oleh PT Medco Mining, anak perusahaan Medco Group. Keputusan baru akan dibuat setelah pemerintah mempelajari proposal Medco Mining secara seksama, dengan berbagai sudut pandang. Dalam hal dampak lingkungan misalnya, Medco harus membuat rencana rehabilitasi ladang batubara pasca ekspoitasi. Keputusan yang akan dibuat pemerintah, salah satunya akan didasari pada penilaian Bapedalda terhadap analisis rehabilitasi lingkungan yang disusun perusahaan. ‘’Nanti kita bandingkan analisa mereka dengan analisa kita punya. Yang jelas, kalau memang dampak positifnya lebih besar dari negatif, dari sisi Amdal mereka akan lolos. Tetapi kalau dampak lingkungan ini merugikan daerah, sebaiknaya eksplorasi dan eksploitasi batu bara ditunda dulu,’’ tegas Demikian diungkapkan Kepala Bidang Amdal Bapedalda Pelalawan HT Nahar MSi HT Nahar mengomentari ekspose pihak Medco Mining sehari sebelumnya. Menurutnya Pemkab pada prinsipnya sangat membuka diri bagi masuknya investor, baik investor lokal maupun mancanegara. Tetapi investasi tersebut harus tetap mementingkan penyelamatan lingkungan. ‘’Kita tidak mau investor meninggalkan bekas alam yang rusak pada 30 tahun kemudian. Kita bisa lihat bagaimana kondisi Pulau Singkep saat ini pasca penambangan timah besar-besaran. Bekas tambang batu bara hampir sama dengan tambang timah, akan terbentuk danau-danau kering yang tidak bisa dimanfaatkan,’’ terangnya. Meski seolah bersikap keras, Nahar menolak jika dikatakan menghalangi investasi. Apa yang dia sampaikan, menurutnya merupakan prosedur standar yang berlaku bagi semua usaha bidang eksploitasi alam. Apalagi, kawasan yang diduga memiliki kandungan batubara ternyata merupakan kawasan hutan konservasi dan hutan produksi yang masuk dalam blok Tesso Nilo. Bahkan besar juga kemungkinan kalau produksi batubara itu bakal mengancam kelestarian Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Sebelumnya, staff ahli Medco Mining Hari Prabowo menjelaskan kepada Wakil Bupati Rustam Effendy, rencana eksploitasi batu bara sama sekali tidak akan merusak lingkungan. Menurut dia, pihaknya akan menerapkan teknologi canggih paling mutakhir, yang memungkinkan tidak terjadi pembentukan lubang-lubang galian. ‘’Batubara yang diangkat ke permukaan sudah dalam bentuk cair dan gas. Memang akan ada lubang-lubang juga, tetapi kami menjamin untuk menutupnya kembali dengan tanah,’’ terang Hari. Untuk memberi jaminan tercukupinya tanah yang akan digunakan untuk menimbun bekas galian, Medco berjanji tidak akan menggali seluruh areal konsesi yang diberikan. Dia mencontohkan, kalau areal konsesi awal diberikan 400 hektare, maka penggalian hanya dilakukan setengahnya, 200 hektare. Sisanya 200 hektare lagi, berfungsi sebagai cadangan pemindahan hak milik masyarakat maupun perusahaan lain.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






