Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Paradigma Pendidikan Kita
Kamis, 03 Juli 2008
Dalam bahasa Indonesia tempat untuk menuntut ilmu (pendidikan formal) disebut sekolah, dalam bahasa Inggris disebut school. Pengertian sekolah antara bahasa Inggris dan Indonesia tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Sekolah diartikan sebagai sebuah lembaga untuk mengkaji ragam ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam bahasa Yunani dikenal dengan  schola, skhole, scola, scolae yang semuanya memiliki arti waktu luang. Orang Yunani tempo dulu mengisi waktu luang mereka dengan mendatangi orang yang mereka anggap bijak dan pintar untuk menanyakan berbagai hal yang mereka rasakan penting untuk diketahui (leisure devoted to learning).

Kegiatan mengisi waktu luang ini pada awalnya hanya dilakukan oleh para laki-laki dan orang tua kemudian juga dilakukan oleh anak-anak perempuan dan laki-laki mereka. Bahkan kemudian para orang tua menitipkan anak-anak mereka pada jangka waktu tertentu untuk ber-skhole pada seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan. Orang seperti Aristoteles, Archimides, Plato dan Socrates adalah tempat yang tepat menitipkan anak-anaknya.

Wajah Pendidikan Kita
Sistem pendidikan kita mendesign semua siswa untuk masuk ke perguruan tinggi, berbeda dengan jepang bagi mereka teknologi bisa ditiru sedangkan pekerja handal dan profesional tidak dengan mudah didapatkan. Sehingga ia hanya memasukkan 20 % siswa saja ke perguruan tinggi dengan seleksi yang super ketat untuk menjadi ilmuwan. Selebihnya mereka didik menjadi tenaga kerja profesional Sehingga dengan sistem yang demikian membawa jepang menjadi bangsa yang paling maju di Asia. Hal itu dilakukan Jepang karena di negara manapun jumlah orang jenius tidak lebih dari 20%, namun yang 20% benar-benar dididik dengan baik dan sungguh-sungguh sehingga mereka menjadi ilmuwan yang ahli di bidangnya. Banyak sekali proyek pembangunan yang dibangun di negeri kita melibatkan tenaga ahli dari jepang, bahkan untuk sekedar menyambung kabel fiber optik (kabel telepon) kitapun meminta bantuan ke pekerja jepang. Bahkan hampir semua tenaga ahli di perusahaan besar bukan berasal dari perguruan tinggi kita, tentu ini membuat kita bertanya tentang fungsi lembaga pendidikan di negeri ini.?

Begitu pula dengan foto-foto wisuda yang dipajang di ruang tamu sebagai penanda yang punya rumah adalah orang berpendidikan tinggi. Kita belum bertanya tentang karya, kita baru sampai pada fitur sama sekali bukan manfaat. Fenomena yang sangat menyedihkan sesungguhnya. Seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan semakin banyak kontribusi yang diberikan. Islam menyebutkan khairukum man yanfaunnas (hadits), yang paling baik adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain. Karya dan kontribusi bagi masyarakat adalah hal mutlak bagi seorang muslim sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

Pendidikan Sesuai Fitrah
Sejak lama telah dipahami bahwa pendidikan meliputi tiga wilayah mutlak seperti yang diajarkan pertama kali saat seseorang mengukuhkan dirinya untuk mendalami ilmu pendidikan. Tiga domain itu adalah afektif, Kognitif, dan psikomotorik. Ini adalah kuliah paling dasar diterima mahasiswa ilmu keguruan dan pendidikan sebelum melangkah lebih jauh ke kuliah-kuliah yang lain. Hal ini dikutif dari pendapat seorang psikolog pendidikan Benjamin Bloom, dan belum terbantahkan hingga hari ini. Siapapun yang ingin belajar tentang lekuk-lekuk pendidikan hal ini adalah aksioma yang sudah tidak dipertanyakan.

Jika diterjemahkan, domain afektif adalah bagaimana ilmu merubah perilaku sedangkan, domain kognitif adalah bagaimana suatu ilmu dapat dikuasai sedangkan psikomotor adalah keterampilan yang didapatkan dari lembaga pendidikan. ketiganya saling beririsan dan tidak terpisah satu sama lain. Hingga ia sempurna disebut pendidikan. Jika salah satu aspek diabaikan maka formulasi pendidikan menjadi tidak lengkap serta kehilangan makna hakikinya.

Howard Gardner menemukan beberapa kecerdasan pada diri manusia dan kecerdasan matematis-logis hanya salah satu bagian kecerdasan yang dimiliki manusia. Dan biasanya orang yang dianggap cerdas adalah mereka yang menyukai  dan memperoleh nilai tinggi pada pelajaran eksakta. Gardner dalam teori multiple intelligence (kecerdasan majemuk) menyebutkan ada banyak kecerdasan yang dimiliki manusia; Kecerdasan bahasa, spasial, interpersonal, intrapersonal, natural, body-kinestetis, matematik-logis.

Dengan pemahaman itu pula kita tidak akan gamang untuk menyebut Pablo Picasso, Diego Maradona, William Shakespear, Soekarno, Habibie, Mbah Marijan, Aa Gym, Tukul Arwana, Andrea Hirata sebagai manusia cerdas.

Totto Chan pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap murid yang tidak memiliki kecerdasan. Hal yang sama di juga dialami Thomas Alfa Edison, bahkan ia dianggap anak yang dungu.

Dikeluarkan dari sekolah ia diasuh langsung oleh ibunya hingga ia pada akhirnya ia berhasil menemukan bola lampu pijar yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Kembali ke teori Bloom tentang ranah afektif, kognitif dan psikomotor serta tujuan pendidikan nasional maka Ujian Nasional hanya menyentuh salah satu ranah saja. Menjadikan  manusia menguasai ilmu pengetahuan saja serta mengabaikan aspek-aspek lain. Dan pancapaian angka (nilai ) dalam ujian nasional menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan kita, lalu bagaimana aspek-aspek lain yang termaktub dalam tujuan pendidikan nasional tersebut? Apakah sekedar pajangan yang tidak bermakna apa-apa atau upaya menghabiskan anggaran negara untuk merumuskannya?

Apa yang dirumuskan Bloom dan apa yang tertulis pada tujuan pendidikan nasional kita adalah suatu keharusan dan mesti ada upaya yang dilakukan untuk mencapainya, jika tidak, maka tujuan pendidikan tersebut akan menjadi suatu yang utopis. Ini harus dibenahi, karena pendidikan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan aspek kehidupan yang lain. Disebut-sebut tingginya kemiskinan yang menyebabkan pendidikan sulit dilakukan, disisi lain rendahnya pendidikan menjadi penyebab kemiskinan. Dalam Islam, Allah SWT berjanji meninggikan derajat orang yang beriman dan orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Tentu ilmu pengetahuan erat sekali hubungannya dengan pendidikan, karena pendidikan adalah jalan yang harus dilewati untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ini bisa berarti pula pendidikan adalah salah satu kunci kemuliaan.

Untuk memperbaiki kualitas pendidikan di negeri kita telah dirumuskan UU Sisdiknas (sistem pendidikan nasional) diantaranya mengharuskan negara menganggarkan 20% dana APBN untuk pendidikan, begitu juga dengan APBD di seluruh Indonesia harus pula melakukan hal yang sama, serta dilakukan pula pembenahan kurikulum.

Undang-undang dibutuhkan agar ada dasar untuk berpijak, dengan itu pula evaluasi dapat dilakukan. Namun adanya perangkat peraturan saja belumlah cukup diperlukan kerja keras dari semua pihak agar tujuan pendidikan dapat dicapai. Mesti ada keikhlasan guru, kesungguhan orang tua, lingkungan yang sehat, program yang menghargai potensi-potensi anak didik dan lain sebagainya. Sehingga apa yang menjadi cita-cita pendidikan benar-benar bisa diwujudkan.***

Syahrizul: Kepala Sekolah SMP IT Al-Izhar-School Pekanbaru
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailLG Perkenalkan Lemari Pendingin Flower Pattern

Senin, 24 November 2008

Perkuat Pasar di Penghujung 2008 Laporan NUKE FATMASARI, Pekanbaru nukesar@riaupos.co.id Tren pasar yang terus bergulir dari waktu ke waktu membuat pemain konsumen elektronik harus tetap...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailLagi, Banjir Ancam Dua Kelurahan

Senin, 24 November 2008

Laporan LISMAR SUMIRAT dan MASHURI KURNIAWAN, Kota redaksi@riaupos.co.id HUJAN deras beberapa hari terakhir menyebabkan permukaan air Sungai Siak naik dan menggenangi perumahan warga yang...

Simak Juga