| Dari Hasil Temu Ramah dengan Deputi Menteri Alam Sekitar |
| Kamis, 03 Juli 2008 | |
|
Masyarakat Peduli, Hot Spot Berhasil Dikurangi
Masalah kebakaran hutan dan lahan terutama yang muncul di setiap musim kemarau merupakan salah satu fenomena yang tidak dapat dihindari termasuk di di Rohil. Laporan SYAHRI RAMLAN, Bagansiapi-api Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya KABUT asap yang muncul dari proses kebakaran hutan dan lahan hingga mampu mengganggu semua akses yang ada baik darat maupun laut dan udara yang gilirannya mampu memperanguhi tingkat perputaran ekonomi dan mengancam keselamatan dan kesehatan. Dalam menjawab fenomena tersebut berbagai kebijakan segabai wujud pencegahan dan penanggulangan dini sudah dilakukan. Salah satu di antaranya melalui kesepakatan kerja sama antara pemerintah pusat dengan negara Malaysia. Kabupaten Rohil sendiri yang luas wilayahnya mencapai sekitar 8.881,59 kilometer persegi yang membawahi tiga belas kecamatan, juga disebut-sebut sebagai daerah penghasil hot spot yang menimbulkan bencana kabut asap bagi Provinsi Riau. Berdasarkan rekapitulasi kebakaran hutan dan lahan yang dihimpun oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten Rohil, tahun 2005, daerah ini memiliki hot spot sebanyak 1.659 titik panas yang tersebar di tiga belas kecamatan. Daerah terbanyak hot spot di Kecamatan Bangkopusako sebanyak 329 titik. Sedangkan daerah yang bersih dari hot spot yakni di Kecamatan Rantaukopar. Upaya untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan terhadap kebakaran hutan dan lahan terus diintensifkan. Dengan membentuk Satuan Koordinasi Pelaksana Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Satkorlak Dalkarhutla) yang beranggotakan dari unsur Dinas Kehutanan, Satuan Polisi Pamong Praja (PP) dan Bapedalda, upaya pemadamannya telah dilakukan. Regu pemadam dari unsur Bapedalda sebanyak dua tim dengan jumlah personil mencapai 20 orang. Kemudian, regu pemadam dari Dinas Kehutanan sebanyak dua regu dengan jumlah personel sebanyak 30 orang. Dari unsut Satpol PP sebanyak dua regu dengan personel sebanyak 20 orang. Selain membentuk Satkorlak Dalkarhutla, upaya pencegahan dan penanggulangan lainnya yakni membentuk tim relawan anti api yang berasal dari unsur masyarakat di setiap kecamatan. Jumlah regu pemadam dari relawan anti api tersebut sebanyak 75 tim dengan jumlah personil mencapai 1.427 orang. Dengan membentuk Satkorlak Dalkarhutla serta mengoptimalkan potensi masyarakat melalui tim relawan anti api, masalah kebakaran hutan dan lahan di Rohil dari 2006 hingga 2008 terhitung dari bulan Januari hingga Juni, jumlah hot spot berhasil dikurangi. Di mana paad 2006, jumlah hot spot yang tersebar di sejumlah daerah di Rohil berhasil ditekan menjadi 554 titik panas. Daerah terbanyak terdapat di Kecamatan Tanahputih sebanyak 110 titik panas. Sedangkan daerah yang tersedikit terdapat di Kecamatan Sinaboi hanya satu titik panas. Selanjutnya, di tahun anggaran 2007, jumlah hot spot di Rohil kembali diberkurang menjadi 305 titik panas. Daerah terbanyak masih dipegang Kecamatan Tanahputih sebanyak 76 titik. Sedangkan daerah terbersih dari hot spot hanya Kecamatan Batuhampar. ‘’Melalui berbagai kebijakan yang sudah dibuat serta dukungan dan peran serta dari semua pihak, masalah hot spot yang sering muncul setiap tahun di Rohil,’’ katanya. ini, secara bertahap dapat terus ditekan atau dikurangi. Kalau di tahun 2005, jumlah hot spot sampai sebanyak 1.659 titik panas, maka di tahun berikutnya dapat dikurangi hingga sampai 2008. Dan tidak lupa kami juga sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat di semua daerah dalam rangka pencegahan kebakaran hutan dan lahan,’’ kata Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Rohil, Drs H Syahruddin AS Bsc. Mengingat kondisi hot spot di Rohil pada 2005 sudah sangat memprihatinkan, berbagai terobosan barupun tercipta. Salah satu diantaranya melakukan kerja sama antara pemerintah pusat dengan Malaysia. Melalui kerja sama tersebut telah menghasilkan beberapa kesepakatan yakni mengirimkan sebanyak 20 warga untuk mengikuti pelatihan pencegahan dan penanggulangan masalah kebakaran hutan dan lahan yang dipusatkan di Sepang, Malaysia yang segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Pelatihan dan pembekalan bagi puluhan warga tersebut sepenuhnya ditangani langsung oleh regu pemadam kebakaran Bomba Malaysia. Masih dari hasil kerja sama tersebut, Pemerintah Malaysia merencanakan segera mengembangkan pengolahan lahan gambut tanpa api serta membangun satu unit alat pemantau kualitas udara di Rohil. ‘’Atas berbagai kejadian munculnya kabut asap itulah, lahir suatu rumusan baru untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan secara terpadu itu. Salah satunya yakni adanya peran serta dari Malaysia dalam menyikapi masalah kebakaran hutan dan lahan ini. Baik memberikan pelatihan hingga sampai merencanakan membangun satu unit alat pemantau kualitas udara ini,’’ kata Syahruddin.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




