| 2009, Anggaran Pendidikan Rp100 Triliun |
| Kamis, 03 Juli 2008 | |
|
JAKARTA (RP) - Wakil Presiden Jusuf Kalla optimistis anggaran pendidikan dalam APBN 2009 akan mencapai Rp 80 triliun–Rp 100 triliun. Syaratnya, total APBN meningkat dari Rp900 triliun menjadi Rp1.000 triliun.
Kalla mengakui pemerintah belum mampu memenuhi ketentuan UUD 1945 tentang alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen dari total APBN. Meski demikian, nominal anggaran pendidikan sudah jauh lebih besar selama empat tahun pemerintahannya. Bila awal 2004 anggaran pendidikan hanya Rp20 triliun, tahun ini sudah Rp44 triliun. “Kalau total APBN tahun depan Rp1.000 triliun, anggaran pendidikan bisa Rp 80-100 triliun, termasuk gaji guru,” ujar Kalla dalam audiensi dengan 500 alumni peserta pelatihan guru binaan PT Telkom Tbk di Istana Wakil Presiden kemarin (2/7). Meski demikian, Kalla meminta peningkatan anggaran pendidikan disertai tanggung jawab guru untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Bila pendidikan baik, Indonesia tak hanya bisa mengirim pembantu menjadi TKI, namun profesional. “Kita kirim sejuta TKI masih kalah devisa yang dihasilkan oleh negara lain yang mengirim 10 ribu profesional ke negara kita,” kata dia. Wapres juga meminta guru tidak berpuas diri dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya, karena ilmu pengetahuan tumbuh sangat dinamis. Dia mencontohkan, ilmu di bidang teknologi informasi akan tumbuh dua kali lipat setiap 18 bulan, sedangkan ilmu kedokteran tumbuh dua kali lipat dalam tiga tahun. “Kalau guru tidak belajar dan mengikuti pertumbuhan ilmu pengetahuan, orang lain sampai ke bulan, kita baru sampai pagar,” kata dia. Guru juga harus mendorong siswa mempelajari sendiri ilmu yang tidak diajarkan guru di sekolah. Dia yakin tidak seluruh materi pelajaran yang seharusnya diberikan pada siswa diajarkan oleh guru di sekolah. “Karena ujian nasional itu menguji yang seharusnya dikuasai siswa, bukan materi yang diajarkan oleh gurunya sendiri,” kata dia. Wapres mengaku kecewa dengan rendahnya mutu kelulusan siswa SMA yang baru mencapai 5,5. Menurut dia, angka kelulusan yang rendah tidak memacu para siswa belajar dengan keras. “Untuk apa belajar kalau semuanya bisa lulus,” katanya. Kalla menilai kritikan bahwa target nilai ujian nasional terlalu tinggi menyebabkan murid stres disuarakan orang yang tidak berfikiran ke depan. “Lebih baik seribu murid stres daripada sejuta murid bodoh. Karena hanya dengan target angka kelulusan yang tinggi anak mau belajar,” kata dia. Sebagai perbandingan, angka kelulusan siswa menengah atas di sekolah Indonesia tertinggal dibandingkan siswa Malaysia dan Singapura. Bahkan, pada zaman dulu, siswa hanya diuji dengan materi yang diajarkan gurunya, bila hasilnya kurang, nilainya masih didongkrak agar lulus. Sementara, Singapura dan Malaysia konsisten menerapkan batas bawah nilai kelulusan. "Ibaratnya kita lompat galah. Kalau galahnya rendah, semuanya bisa lulus. Sekarang galahnya setiap tahun kita naikkan, sehingga siswa semakin giat belajar,” kata dia. (noe) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





