| TKI Hamil Selamat Setelah Berenang 2 km |
| Rabu, 02 Juli 2008 | |
|
Laporan RPG, Batam
SEBANYAK 15 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia kembali di pulangkan. Selasa (1/7) siang, TKI tersebut tiba di Batam dengan didampingi staf KJRI Johor Baru, Sabari dan beberapa orang kunsuler KJRI. Diantara terdapat satu orang korban perahu karet yang tenggelam yang selamat. Yang menelan 10 orang jiwa, 22 Juni 2008 lalu. “Dari dua belas penumpang dan dua awak perahu karet, sepuluh penumpang tewas,” kata Subari di tempat penampungan Dinas Sosial Kota Batam, Selasa (1/7). Menurut Sabari, mereka pergi meninggalkan Malaysia, tanpa izin (ilegal) sekitar pukul 12.00 WIB dini hari, 22 Juni 2008. Setelah 20 menit berlayar, perahu karet tersebut pun terbalik. Tiwi (25), wanita korban perahu tenggelam yang berhasil selama tersebut mengatakan, perahu yang ditumpangi 12 penumpang tersebut terbalik di tejang ombak. “Saat itu, ombak memang besar,” aku Tiwi, yang berhasil menyelamatkan diri dengan cara berenang ke tepian kira-kira sejauh dua kilo meter. Ia berhasil selamat, namun satu keluarga yang terdiri dari enam orang tewas tenggelam dalam peristiwa itu. Meski tergolong nekat, wanita yang sedang hamil empat bulan, anak ketiganya ini mengatakan, dirinya terpaksa pulang ke Indonesia melalui jalur ilegal. “Kosong,” ujar wanita asal Flores ini, blak-blakkan. Tiwi menambahkan, dirinya ke Malaysia mengikuti suami, tanpa memiliki dokumen apapun. Biaya yang dikeluarkan untuk dapat pulang ke Indonesia melalui Malaysia Batam tersebut sebesar satu juta rupiah. Sabari kembali menambahkan, 14 orang lainnya hanyalah permasalahan gaji yang tidak dibayar dan beberapa korban kererasan majikan. “Tidak ada kasus pemerkosaan,” tambah Sabari. Seperti yang diungkapkan Asmaniah (48), dirinya mengaku selama 14 bulan bekerja, tidak pernah mendapatkan gaji setiap bulannya, yang dijanjikan 400 ringgit setiap bulannya. Sementara konsuler KJRI, Luky Angga Satria mengatakan, selama ini yang datang dan mengadu ke KJRI, umumnya dalam keadaan stres. “Baik itu diakibatkan tekanan majikan dan lain sebagainya,” kata Luky. (cr10) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






