• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 27 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Natuna Sumbang 20 Miliar Dolar
Rabu, 02 Juli 2008
Laporan JPNN, Jakarta
Meroketnya harga minyak ikut mengerek harga gas di pasar internasional. Karena itu, Indonesia pun  berpotensi menangguk untung besar dari ladang-ladang gas. Khusus untuk lapangan gas raksasa  Natuna D-Alpha, jika sudah beroperasi, sumbangan penerimaan negara diperkirakan mencapai  20  miliar dolar AS per tahun.

Demikian diungkapkan Pengamat energi dari Center for Petroleum & Energy Economics Studies  (CPEES) Kurtubi. Menurut dia, permintaan gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) dari  negara-negara di Kawasan Asia pada tahun 2030 diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dari  kebutuhan saat ini. ”Tingginya permintaan akan melambungkan harga gas,” ujarnya di Jakarta kemarin  (1/7).

Kurtubi mengatakan, terbukanya pasar gas di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur bisa  dimanfaatkan oleh Indonesia dengan mengoptimalkan potensi cadangan gas yang ada, salah satunya  adalah Blok Natuna D Alpha.

Lapangan gas di Kepulauan Riau tersebut, kata dia, memiliki cadangan gas terbukti sebesar 222 triliun  kaki kubik (TCF). Namun, karena kadar CO2-nya mencapai 70 persen, maka gas metana yang bisa  dipisahkan dan dimanfaatkan hanya 46 TCF. ”Jadi, blok ini merupakan salah satu lapangan gas  terbesar di kawasan Asia,” katanya.

Menurut Kurtubi, dengan asumsi harga minyak mentah di kisaran  200 dolar AS per barel, maka harga  jual LNG dari Blok Natuna diperkirakan bisa mencapai  35 dolar AS per juta British Thermal Unit  (BTU). ”Harganya memang bisa sepuluh kali lipat dari harga LNG Tangguh,” terangnya.

Karena itu, lanjut dia, jika cadangan terbukti 46 TCF di Blok Natuna D-Alpha tersebut bisa  diproduksi menjadi LNG, maka potensi penerimaan negara dari ekspor LNG mencapai sebesar  20  miliar dolar AS per tahun. ”Jumlah ini dua kali lipat dari penerimaan dari ekspor LNG Badak yang  sebesar  10 miliar dolar AS per tahun,” ujarnya.  Terkait besarnya potensi penerimaan itulah, kata  Kurtubi, maka pemerintah diharapkan terus mendorong Pertamina selaku perusahaan yang mendapat  hak kelola Blok Natuna D-Alpha, untuk segera mengembangkan blok gas tersebut. ”Semakin cepat  semakin baik,” katanya.

Untuk itu, menurut dia, Pertamina harus segera menetapkan mitra kerja yang akan digandeng untuk  mengembangkan Blok Natuna D Alpha. Kriteria mitra kerja yang harus dipilih Pertamina, lanjut dia,  adalah yang bisa memenuhi teknologi yang lebih maju dan memiliki pendanaan sendiri. ”Itu dua syarat  utama,” jelasnya.

Sebelumnya, Dirut PT Pertamina Ari H Soemarno mengatakan, hingga kini sudah ada tujuh  perusahaan yang menyatakan minatnya untuk berpartner dengan Pertamina mengembangkan Natuna.  ”Kebanyakan perusahaan internasional,” ujarnya. Tujuh perusahaan tersebut adalah ExxonMobil (AS),  Total Indonesie (Perancis), Shell (Belanda), ENI (Italia), Statoil (Norwegia), PTT (Thailand), dan  Petronas (Malaysia).

Menurut Ari, hingga saat ini Pertamina masih sebatas menampung minat tujuh perusahaan tersebut.  Pasalnya, hingga saat ini Pertamina pun juga belum menyelesaikan aturan persyaratan-persyaratan bagi  perusahaan yang ingin berpartner. ”Term of reference nya sedang disusun,” katanya.

Pertamina, tampaknya memang harus menggandeng partner untuk mengembangkan lapangan gas  raksasa dengan total cadangan 46 triliun kaki kubik (TCF) tersebut. Sebab, selain membutuhkan biaya  luar biasa besar hingga  52 miliar dolar AS, juga membutuhkan teknologi tinggi karena berada di laut  dalam dan kandungan CO2 nya cukup tinggi hingga 70 persen. (owi/jpnn)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailKedai Kopi Massa Kok Tong Lirik Pekanbaru

Jumat, 29 Agustus 2008

PEKANBARU (RP) - Kedai Kopi Massa Kok Tong yang sudah beroperasi sejak 1925 silam, kini hadir di Pekanbaru dengan lokasi di samping Hotel Grand Elite Pekanbaru. Kedai kopi khas Siantar ini...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailElpiji Tembus Rp105 Ribu

Jumat, 29 Agustus 2008

Pertamina: Jangan Beli di EceranKOTA (RP) — Pertamina baru saja menaikkan harga elpiji tabung isi 12 kilogram dari Rp63 ribu menjadi Rp69 ribu. Tapi, harga itu rupanya tak berlaku...

Simak Juga