| Natuna Sumbang 20 Miliar Dolar |
| Rabu, 02 Juli 2008 | |
|
Laporan JPNN, Jakarta
Meroketnya harga minyak ikut mengerek harga gas di pasar internasional. Karena itu, Indonesia pun berpotensi menangguk untung besar dari ladang-ladang gas. Khusus untuk lapangan gas raksasa Natuna D-Alpha, jika sudah beroperasi, sumbangan penerimaan negara diperkirakan mencapai 20 miliar dolar AS per tahun. Demikian diungkapkan Pengamat energi dari Center for Petroleum & Energy Economics Studies (CPEES) Kurtubi. Menurut dia, permintaan gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) dari negara-negara di Kawasan Asia pada tahun 2030 diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dari kebutuhan saat ini. ”Tingginya permintaan akan melambungkan harga gas,” ujarnya di Jakarta kemarin (1/7). Kurtubi mengatakan, terbukanya pasar gas di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur bisa dimanfaatkan oleh Indonesia dengan mengoptimalkan potensi cadangan gas yang ada, salah satunya adalah Blok Natuna D Alpha. Lapangan gas di Kepulauan Riau tersebut, kata dia, memiliki cadangan gas terbukti sebesar 222 triliun kaki kubik (TCF). Namun, karena kadar CO2-nya mencapai 70 persen, maka gas metana yang bisa dipisahkan dan dimanfaatkan hanya 46 TCF. ”Jadi, blok ini merupakan salah satu lapangan gas terbesar di kawasan Asia,” katanya. Menurut Kurtubi, dengan asumsi harga minyak mentah di kisaran 200 dolar AS per barel, maka harga jual LNG dari Blok Natuna diperkirakan bisa mencapai 35 dolar AS per juta British Thermal Unit (BTU). ”Harganya memang bisa sepuluh kali lipat dari harga LNG Tangguh,” terangnya. Karena itu, lanjut dia, jika cadangan terbukti 46 TCF di Blok Natuna D-Alpha tersebut bisa diproduksi menjadi LNG, maka potensi penerimaan negara dari ekspor LNG mencapai sebesar 20 miliar dolar AS per tahun. ”Jumlah ini dua kali lipat dari penerimaan dari ekspor LNG Badak yang sebesar 10 miliar dolar AS per tahun,” ujarnya. Terkait besarnya potensi penerimaan itulah, kata Kurtubi, maka pemerintah diharapkan terus mendorong Pertamina selaku perusahaan yang mendapat hak kelola Blok Natuna D-Alpha, untuk segera mengembangkan blok gas tersebut. ”Semakin cepat semakin baik,” katanya. Untuk itu, menurut dia, Pertamina harus segera menetapkan mitra kerja yang akan digandeng untuk mengembangkan Blok Natuna D Alpha. Kriteria mitra kerja yang harus dipilih Pertamina, lanjut dia, adalah yang bisa memenuhi teknologi yang lebih maju dan memiliki pendanaan sendiri. ”Itu dua syarat utama,” jelasnya. Sebelumnya, Dirut PT Pertamina Ari H Soemarno mengatakan, hingga kini sudah ada tujuh perusahaan yang menyatakan minatnya untuk berpartner dengan Pertamina mengembangkan Natuna. ”Kebanyakan perusahaan internasional,” ujarnya. Tujuh perusahaan tersebut adalah ExxonMobil (AS), Total Indonesie (Perancis), Shell (Belanda), ENI (Italia), Statoil (Norwegia), PTT (Thailand), dan Petronas (Malaysia). Menurut Ari, hingga saat ini Pertamina masih sebatas menampung minat tujuh perusahaan tersebut. Pasalnya, hingga saat ini Pertamina pun juga belum menyelesaikan aturan persyaratan-persyaratan bagi perusahaan yang ingin berpartner. ”Term of reference nya sedang disusun,” katanya. Pertamina, tampaknya memang harus menggandeng partner untuk mengembangkan lapangan gas raksasa dengan total cadangan 46 triliun kaki kubik (TCF) tersebut. Sebab, selain membutuhkan biaya luar biasa besar hingga 52 miliar dolar AS, juga membutuhkan teknologi tinggi karena berada di laut dalam dan kandungan CO2 nya cukup tinggi hingga 70 persen. (owi/jpnn) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






