Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Newspaper is Dead
Rabu, 02 Juli 2008
Image59 Tahun Perjalanan Jawa Pos, Sebuah Catatan
Newspaper is dead. Era koran sudah berakhir. Kalau belum, era koran sudah hampir berakhir. Dihajar  televisi, dan –yang kata orang paling mematikan— dihajar internet.

Harga koran terus naik, harga online terus turun. Kertas, jarak, dan waktu terbit menjadi penjara bagi  koran untuk berkembang. Warga Melawi, Kalimantan Barat, sampai sekarang baru mendapatkan koran  sehari setelah terbit. Warga Bima, Nusa Tenggara Barat, masih mendapatkan koran yang beritanya  terlambat sehari.

Di dua tempat itu, kalau mau, internet sudah tersedia. Belum cepat, tapi tinggal menunggu waktu  (tidak lama) sebelum cepat. Ketika harga online terus turun, tidak ada alasan bagi warga-warga di sana  untuk langganan koran bukan?

Ini belum bicara di Amerika Serikat, negara tempat di mana-mana orang bisa online. Secara  keseluruhan koran terus turun. Yang besar-besar pun tinggal menunggu waktu untuk turun, bahkan  mati.

Saya baca majalah Fortune edisi baru-baru ini. Marc Andreessen, salah satu pendiri Netscape yang  juga pebisnis media (online, tentunya!), punya rencana besar seandainya memiliki koran sebesar New  York Times.

Dia bilang, dia akan mematikan “koran fisik” itu sesegera mungkin, pindah penuh ke online. “Lebih  baik merasakan sakit parah sekarang daripada bertahun-tahun kesakitan,” ucapnya.

Dia juga menyinggung, sangat sulit bagi New York Times untuk mengamankan masa depan, karena  jajaran direksinya gaptek. “Ada yang pakar binatang, ada yang pakar makanan. Tapi tak ada yang  mengerti internet,” katanya.
***

Beberapa waktu lalu, saya diminta untuk menjadi pembicara di acara Hari Pers Nasional, di Semarang.  Menurut panitia, sudah waktunya mendengarkan pendapat orang-orang media yang masih “muda.”  Maksudnya, yang berusia belum 40 tahun.

Saya mewakili koran, membahas tentang peran media koran dalam mewujudkan Indonesia 2030 yang  ideal.

Saya tidak salah ketik. Tahunnya benar-benar dua ribu tiga puluh. Ya terus terang, tak banyak yang bisa  saya sampaikan. Saya bilang, ini ironis juga. Saya merupakan pembicara termuda, tapi bicara soal  media yang paling kuno. Pada 2030, saya sudah umur 52. Idealnya, ya saya sudah pensiun sejak umur  50. Lagipula, emang ya bisa koran bertahan sampai 2030?

Kemudian, ratusan insan media (kebanyakan koran) yang ada di hadapan saya waktu itu usianya  –maaf— tua. Bukan hanya 40-an. Tapi 50-an, bahkan ada yang 80-an. Dalam hati, saya berpikir, “Buat  apa saya bicara di depan bapak-bapak ini, kalau mereka belum tentu ada pada 2030 nanti?”

Bicara soal koran untuk 2030, bagi saya, sangat tidak realistis. Kalau bicara soal koran, sekarang  sebaiknya maksimal untuk lima tahun ke depan. No more. Sekarang saja saya pribadi sudah jauh lebih  banyak baca berita lewat internet. Minimal dua jam sehari. Koran? Maksimal 20 menit.

Apakah ini berarti koran harus sepenuhnya ditinggalkan? Penentunya masih sama seperti dulu sampai  sekarang: Koran itu sendiri dan pembacanya.
***

Melihat orang-orang di acara pers itu, saya pun berpikir. Masalah koran mungkin bukan hanya pada  usia medianya. Tapi pada usia orang-orangnya. Perasaan yang sama saya dapati ketika mengikuti  sebuah acara sepak bola nasional, beberapa waktu lalu.

Orang-orang yang mengurusi sepak bola itu masih sama dengan orang-orang yang saya baca di koran  waktu masih SD dulu. Hanya satu atau dua yang usianya tidak jauh dari saya. Yang lebih muda dari  saya hanya pemain.

Saya berpikir, “Apa karena ini ya sepak bola Indonesia tidak maju-maju? Ilmu yang sama diputer-puter  sampai habis. Orang yang satu pindah ke tempat yang lain, memuter-muter ilmu yang sama sampai  habis.”

Padahal, lingkungan sudah berubah, ada beberapa tingkatan generasi baru yang lebih tahu tentang  ilmu-ilmu baru. Mereka hanya belum sempat mendapat kesempatan untuk menjajal ilmu-ilmu baru  itu, lalu mengetahui kelemahan dan kesalahannya, karena orang-orang yang lama terus memaksakan  ilmu-ilmu lama.
***

Sekali lagi, bukannya saya menyinggung mereka yang –maaf— tua. Karena saya suatu saat juga akan  –maaf— tua. Dan saya kelak mungkin bakal jadi orang –maaf— tua yang mudah tersinggung.

Saya tahu betul perjuangan koran. Saya dari keluarga newspaperman. Saya tidur di atas koran mungkin  sejak bayi. Waktu lulus SMP, pada 1993, saya diikutkan program siswa pertukaran ke Amerika Serikat  supaya jauh dari koran. Dasar nasib, ternyata saya justru diterima dan tinggal di keluarga koran yang  lain.

Pada 1993-1994, saya benar-benar bekerja di sebuah koran yang bergaya –maaf— tua. Namanya  Ellinwood Leader, oplah mingguan hanya sekitar sekitar 1.500. Koran itu terbit di kota Ellinwood,  Kansas, yang penduduknya hanya 2.500 dan kebanyakan –maaf— tua dan pensiunan.

Karena belum bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar, pekerjaan awal saya adalah fotografer,  cuci cetak, sekaligus montase dan layout.

Kamera yang saya pakai masih Nikon FM-2 (full manual tanpa baterai). Cetak foto pakai enlarger  (generasi sekarang mungkin sudah tidak tahu apa itu enlarger). Layout koran juga masih model  gunting dan tempel di atas meja lampu. Di Jawa Pos sekarang, hanya satu atau dua orang yang pernah  menjalani proses yang sama. Dan mereka sudah –maaf— sangat tua.

Semua pekerjaan harus efisien. Ngetik kepanjangan, makin panjang juga yang harus digunting. Motret  hanya modal film satu roll, tidak bisa nge-bren ala machine gun seperti fotografer-fotografer digital  sekarang. Habis motret pertandingan basket atau football, kalau tidak ada foto yang fokus, habislah  sudah cerita koran minggu itu.

Menurut saya, segala pengalaman ini memberi saya skill set yang unik. Saya adalah generasi baru, tapi  pernah menjalani dan merasakan kerja di koran gaya old school. Saya pun bisa menggabungkan  efisiensi gaya lama itu dengan peralatan modern.

Jadi, sekali lagi, bukan berarti saya tidak respek dengan mereka yang –maaf— tua. Tapi, saya sudah  tahu bahwa segala hal harus berubah menyesuaikan dengan zaman.***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org