| Anggota DPR Minta Judi Dilegalkan |
| Selasa, 01 Juli 2008 | |
|
Laporan JPNN, Batam
Pemerintah harus bertindak tegas terhadap praktik pelarian uang perjudian dari Indonesia ke negara-negara tetangga. Bayangkan, capital flight dari Indonesia ke rumah-rumah judi di luar negeri seperti ke Macau, Republik Rakyat China (RRC) nilainya Rp 1-2 triliun untuk setiap transaksinya. Wakil Ketua Komisi III DPR Aziz Syamsuddin ikut prihatin atas kasus tersebut. Menurut dia, nilai capital flight perjudian justru lebih besar lagi yang disebut di atas. “Wah, bisa mencapai Rp 5 triliun setiap transaksinya sebulan. Berapa nilai untuk setahun. Sangat besar sekali bagi negara kita yang kesulitan anggaran ini,” papar Aziz, Senin siang (30/6). Praktik perjudian di Indonesia memang haram. Apalagi, sejak Jenderal Sutanto menjadi Kepala Polri. Penjudi-penjudi pun tiarap. Namun, bukan berarti mereka tak bisa bermain lagi. Para penjudi Indonesia sekarang justru lebih happy membuang duit ke rumah-rumah judi di Macau. Hampir setiap minggu, kelompok penjudi terbang ke sana dengan membawa duit mencapai ratusan miliar rupiah. “Ini yang harus dipertimbangkan pemerintah. Integrated resort perlu dibangun sebagai solusi menghindari pelarian dana ke luar negeri dengan jumlah besar. Termasuk untuk melokasisasi praktik judi secara legal,” jelas Aziz yang meraih gelar Doktor dengan desertasi tentang legalisasi judi di Indonesia ini. Selain itu, sambung politisi muda Golkar ini, integrated resort juga untuk kepentingan investasi yang sangat menguntungkan bagi Indonesia. “Kalau Singapura buka (lokalisasi judi) duluan, habis uang kita ke sana. Karena nilai investasinya sangat besar sekali dan tentu ini akan menjadi pilihan para pemain judi tak hanya dari Indonesia. Pemerintah harus berani mengambil langkah bijak. Judi memang bagi umat Islam haram, tapi bagi penganut Konghuchu tidak. Ini yang harus disikapi bijak, selama negara bisa mengambil untung seperti pajak dan terbukanya lapangan kerja,” demikian Aziz Syamsuddin.(rm/iga/bud) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






