• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Senin, 08 September 2008 || 7 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportBungkam Kritik

Minggu, 07 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaKloter Haji Pertama Berangkat 5 November

Minggu, 07 September 2008

article thumbnail

Kalau Sudah Jelas, Ditangkap Saja
Jumat, 27 Juni 2008
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar menegaskan, demo mahasiswa yang berakhir rusuh pada Selasa (24/6) ditunggangi seseorang berinisial FY. Siapa FY -meski kepanjangan inisial tersebut bisa dibeberkan? Itu tidak dipersoalkan. Tidak terlalu penting.

Sebaliknya, yang harus dipersoalkan adalah untuk apa Syamsir menyebut-nyebut insial sosok yang diduga menjadi penunggang demo yang rusuh itu? Masyarakat tidak peduli dengan inisial. Yang diperlukan adalah langsung saja yang bersangkutan dikejar. Tangkap. Proses hukum dan kelak —jika terbukti bersalah- harus dipenjarakan.

Menyebut-nyebut inisial adalah pekerjaan intelijen kuno. Intelijen masa kini, setelah menilik dan meyakini cukup bukti bahwa seseorang diduga telah bertindak kejahatan -termasuk kejahatan politik, menjadi provokator, atau menjadi penunggang demo-, cepat ditangkap.

Menuding dan menyebut-nyebut inisial nama seseorang justru kontraproduktif. Sebab, itu bisa memicu saling curiga. Kasak-kusuk. Bahkan, memicu munculnya rumor, isu, serta spekulasi yang berseliweran.

Kalau hal itu terjadi, pasca kerusuhan seperti demo yang anarkis pada Selasa sore lalu, bukan ketenteraman yang tercipta di masyarakat. Yang terjadi justru saling tuding yang bisa memancing pertikaian. Mendorong terjadinya konflik baru.

Intelijen di negara modern dalam menjalankan tugasnya, mengintai atau menilik seseorang yang diduga bertindak kejahatan, sangat jarang terang-terangan menyebut nama. Sebab, jika nama disebut -meski hanya inisial-, yang bersangkutan akan menyamar atau melarikan diri. Bahkan, tanpa disebut pun, yang bersangkutan akan lari.

Intelijen yang ‘’genah’’ (benar) tak banyak bicara. Kerjanya tak terendus publik. Namun, cekatan dalam arti pihak yang diincar langsung segera bisa ditangkap. Tak banyak babibu.

Bagi masyarakat, demo anarkis di Jakarta pada Selasa lalu adalah chaos yang menakutkan. Tidak aman. Menyengsarakan. Aktivitas rutin menjadi tidak normal. Agenda kegiatan menjadi kacau balau.

Karena itu, siapa pun pelakunya harus ditangkap. Tidak peduli siapa mereka. Bukan hanya ‘’dalang’’ atau yang menunggangi, yang jelas-jelas melempar batu ke arah polisi, yang merobohkan pintu gedung DPR yang bernilai Rp2 miliar itu, yang memukul atau menghancurkan Avanza pelat merah, yang membakar mobil itu, semua pelaku tindak kejahatan wajib dihukum.

Tidak ada gunanya menyebut inisial nama seseorang yang diduga sebagai penunggang demo, sedangkan pendemo yang jelas-jelas onar dan anarki banyak yang lolos. Atau, terlalu sedikit yang diproses hukum.

Demo menentang kenaikan harga BBM itu -sekalipun bertujuan mulia, ingin memperjuangkan kepentingan masyarakat- sudah jauh melampaui kepatutan. Memalukan. Aksi-aksi mereka sudah tidak patut dilakukan orang muda yang terpelajar.

Karena demo yang rusuh itu jelas-jelas melanggar aturan hukum, siapa pun yang terbukti turut serta menjadi pelakunya harus dihadapkan ke hukum. Harus ditangkap dan diproses sampai ke pengadilan. Tidak peduli itu mahasiswa. Tidak peduli aparat keamanan.***

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailFresh Lemon Sharp Siap Bersaing

Jumat, 05 September 2008

PEKANBARU (RP) - MASIH ingat kesegaran lemon yang telah diberikan Sharp sejak Hari Ibu tahun 2006 yang lalu hingga kini?

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailKembalikan Fungsi Awal Portal Jembatan Siak

Jumat, 05 September 2008

RUMBAI (RP) - Tumbangnya portal Jembatan Siak di sisi pesisir Rumbai memang sudah diwanti-wanti sejak awal. Apalagi sejak di bagian atas jembatan itu dipasang tempat baliho raksasa, beban...

Simak Juga