| Omzet Bengkel Pesawat Capai Rp7,4 Triliun |
| Jumat, 27 Juni 2008 | |
|
JAKARTA (RP)-Omzet bengkel perawatan pesawat di Indonesia mencapai 750-800 juta dolar AS pertahun (Rp6,9-7,4 triliun) pertahun. Sayangnya, baru 30 persen yang dinikmati perusahaan dalam negeri. Oleh karena itu, rencananya akan dibangun kluster terpadu industri perawatan pesawat nasional.
“Rencana itu masih sebatas usulan, tapi kami akan bergerak menjualnya kepada investor swasta,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association (IAMSA), Agus Supraptomo kemarin. Menurut dia, pembangunan kawasan itu diperlukan untuk memperkuat kemampuan industri perawatan pesawat nasional, sekaligus melindungi SDM nasional yang banyak diambil oleh bengkel perawatan pesawat asing. Beberapa kawasan yang diproyeksikan bisa menjadi kluter terpadu tersebut antara lain di DKI Jakarta, Surabaya (Jawa Timur), Makassar (Sulawesi Selatan), dan Batam (Kepulauan Riau). Dia menamakan proyek itu sebagai Aviation Maintenance Estate dan direncanakan dikerjakan dalam lima tahun ke depan. Khusus di DKI Jakarta, dia memproyeksikan kawasan bengkel perawatan pesawat terpadu bisa dibangun di Bandara Pondok Cabe atau bandara baru Majalengka. “Lokasinya nanti tergantung kesepakatan,” tegasnya. Menurut dia, pembangunan tiga kawasan terpadu bermodel klaster itu akan menyatukan seluruh bengkel perawatan pesawat yang selama ini terpencar di sejumlah lokasi di Indonesia. Bengkel pesawat terbesar nasional adalah PT Garuda Maintenance Facilities (GMF), anak usaha maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Selain itu terdapat sekitar belasan bengkel pesawat yang umumnya berasal dari anak usaha maskapai penerbangan. “Proyek ini akan menambah nasionalisme kita,” tukasnya. Agus menambahkan, pembangunan satu kawasan terpadu itu diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar USD 45-50 juta. Dana sebesar itu dinilai sudah cukup untuk membangun infrastruktur perawatan untuk berbagai jenis perawatan dan tipe pesawat. Oleh karena itu dia mengaku telah menggulirkan rencana itu dalam kepengurusan IAMSA karena konsep Aviation Maintenance Estate. “Ini sudah mendesak untuk dilakukan,” tuturnya. Menurut dia, Indonesia termasuk negara yang ketinggalan mengplikasikan konsep kawasan terpadu bengkel perawatan pesawat. Sebab di berbagai negara sudah sejak lama melakukan hal seperti itu. Padahal pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia terbilang tinggi diabnding negara lain.(wir/jpnn) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






