Kamis, 04 Desember 2008 || 5 Zulhijah 1429 Hijriah
Total SportMusuh Abadi

Sabtu, 22 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTak Ada Solusi Atasi Krisis Global dalam APEC

Senin, 24 November 2008

article thumbnail

Rusia v Spanyol, Siap Tumpah Amarah
Kamis, 26 Juni 2008
WINA (RP)- Sejak format fase grup dan fase knockout diterapkan berkala sejak Euro 1984, bentrok hingga dua kali antar tim yang sama di satu turnamen telah tiga kali terjadi. Kasus terakhir adalah di Euro 2004. Yunani dua kali memecundangi tuan rumah Portugal, yakni di fase grup dan partai final. Yunani mengulang sukses Jerman atas Republik Ceko di Euro 1996.

Namun, tak selalu sebuah tim memenangi dua kali pertemuan. Di Euro 1988, Belanda yang kalah di fase grup dari Uni Soviet, balik membalas di partai final. Nah, kisah Belanda itulah yang coba dinapaktilasi Rusia atas Spanyol di semifinal Euro 2008 dini hari WIB, Jumat (27/6) besok.

Tim Beruang Merah (sebutan Rusia) yang kalah telak 1-4 dari Spanyol di partai pertama penyisihan grup D pada 10 Juni lalu, siap menumpahkan kemarahannya di Stadion Ernst Happel, Wina, Austria. Asa Rusia bisa saja terealisasi menilik sepak terjang Sergei Semak dkk di tiga laga terakhir (menang terus) atau sejak hasil negatif di laga perdana.

Rusia tampil menggila dengan skema permainan menyerang yang agresif. Hal itu ditunjang aksi Andrei Arshavin, bintang Zenit St. Petersburg, yang sempat absent di dua laga awal timnya karena skorsing kartu merah. Tapi, setelah bisa tampil di lapangan, pemain 27 tahun itu menjadi ruh permainan Beruang Merah.

Kondisi sebaliknya menimpa Spanyol. Usai kemenangan atas Rusia, permainan La Furia Roja — sebutan Spanyol— perlahan-lahan drop. Permainan tik-tak cepat yang dipadu keunggulan skill individu Fernando Torres dkk, seolah hilang. Itu tampak kentara di laga terakhir lawan Italia di perempat final 22 Juni lalu.

‘’Jika bisa mempertahankan permainan di tiga laga terakhir, kami yakin bisa meraih sukses lagi,’’ kata Guus Hiddink, arsitek Rusia, sebagaimana dikutip Associated Press, Rabu (25/6).

Memang, Hiddink harus sedikit merotasi komposisi starting eleven seiring absennya bek tengah Denis Kolodin akibat akumulasi kartu. Roman Shirokov atau Verezutskiy bersaudara (Vasily dan Aleksei) bisa mengisi pos yang ditinggalkan Kolodin. Sementara absennya winger Dmitry Torbinsky (akumulasi pula) tidak membuat risau Hiddink. Sebab, Torbinsky yang mencetak satu gol kemenangan Rusia di masa injury time atas Belanda di perempat final (21/6) lalu itu, bukan pilihan reguler.

‘’Spanyol adalah tim dengan penguasaan bola yang bagus. Sekali saja kami lengah, khususnya lini belakang, mereka bisa memanfaatkanya menjadi gol,’’ terang Yuri Sherkov, bek kiri Rusia,
kepada CNN.

Rusia boleh saja jumawa bisa melakukan revans. Namun, Spanyol adalah tim yang sangat haus gelar setelah penantian selama 44 tahun. Dengan skuad muda penuh talenta, inilah kesempatan
emas Spanyol mengangkat trofi juara. Selain itu, Tim Matador tentunya lebih mewaspadai kekuatan Rusia.

‘’Jika berpikir Rusia adalah tim yang sama seperti di fase grup, itu jelas salah. Kami telah mempersiapkan strategi berbeda,’’ ucap Cesc Fabregas, gelandang serang Spanyol seperti dikutip BBC.

Fabregas yang selama ini hanya tampil sebagai pemain pengganti, kecuali saat lawan Yunani (18/6), ada kemungkinan diturunkan Luis Aragones (pelatih Spanyol) sebagai starter. Tapi, Fabregas mengaku dirinya lebih sreg dengan strategi selama ini. Dengan karakter lebih menyerang dibandingkan bertahan, pemain 21 tahun asal Arsenal itu menang lebih efektif dimainkan di babak kedua.

‘’Tidak ada yang lebih favorit dalam duel kali ini. Kemenangan 4-1 di fase grup sejatinya juga tidak diraih dengan mudah karena kala itu Rusia belum tampil maksimal,’’ sahut David Silva, winger Spanyol, kepada Marca.(dns/jpnn)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org