| Pesan dari Marissa Haque |
| Rabu, 25 Juni 2008 | |
|
Sebuah pernyataan ‘’kuno’’, klasik, namun cukup mengusik emosianal yang muncul dari artis nasional Marissa Haque tentang hutan Riau. Politikus dari PDIP ini mengaku prihatin melihat kondisi kerusakan hutan di Riau.
Sama seperti yang sudah diutarakan berbagai pakar, pencinta lingkungan dan masyarakat bahwa seharusnya kerusakan itu tak akan terjadi, bila sejak dulu pemerintah serta instansi terkait tidak membiarkan berlangsungnya aktivitas pembalakan liar. Pernyataan seorang yang berpendidikan dan publik figur seperti Marissa, soal hutan Riau ini, sangat wajar menjadi bahan renungan bagi kita semua. Meskipun banyak pihak di daerah ini sudah mengetahui bahwa hutan Riau yang begitu luas, megah dan punya keunikan kini hampir hanya tinggal kenangan. Meskipun di berbagai kawasan, pemerintah pusat sudah menetapkan beberapa kawasan hutan menjadi suaka marga satwa dan hutan lindung dengan posisi dan luas tertentu yang tertuang dalam SK, namun rata-rata kenyataannya, luas kawasan hutan yagn dilindungi itu tidak seluas SK. Hampir semua penyebabnya seperti yang dikatakan Marissa Haque itu. Marissa Haque pun tahu analisa mengapa hutan Riau ini musnah —karena melakukan disertasi S3 untuk program doktor berjudul Pengembangan Sistem Hukum dan Kebijakan Pemberantasan Pembalakan Liar untuk Pengendalian Bencana Ekologis studi kasus Hutan Provinsi Riau— bahwa sebagian kerusakan lingkungan dan hutan juga disumbangkan oleh kurang tegasnya aparat penegak hukum yang dulu membiarkan praktek pembalakan liar terjadi. Selain itu kerusakan hutan juga disebabkan oleh kepala daerah yang mengeluarkan izin pemanfaatan kayu tidak sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku. Apa yang bisa disimak dari pesan Marissa Haque ini bagi kita? Paling tidak ada beberapa renungan. Pertama, pernyataan ini memiliki kandungan yang cukup dalam dan harus menjadi perhatian bersama. Sebab, sosok yang menyebutkan tentang kerusakan hutan Riau ini, memiliki argumentasi yang kuat dan representatif, yaitu selain publik figur, argumentatif akademik, pilitikus dan juga langsung melihat kenyataan di lapangan. Kedua, meski ‘’isu basi’’, namun rasanya tidak ada kata terlambat untuk merespon pernyataan itu. Bahwa penyelamatan hutan Riau yang masih tersisa tidak ada kata tidak, harus sekarang. Bahkan hutan-hutan yang sudah punah ranah itu diupayakan menjadi pulih kembali. Ketiga, suara Marissa Haque ini cukup menjadi alasan pemerintah daerah dan aparat penyegak hukum segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan hutan Riau yang sudah hampir punah ini. Seharusnya ini menjadi energi tambahan untuk bekerja lebih giat lagi, meskipun sebelumnya tuntutan ke arah itu sudah disampaikan berbagai pihak. Keempat, ucapan Marissa ini seharusnya menjadi kesadaran menyeluruh untuk masyarakat Riau bahwa, kondisi hutan Riau memang sangat memprihatinkan. Terutama, kasadaran akan efek domino yang ditimbulkan dari kerusakan hutan, seperti suhu udara lebih panas, banjir, kekeringan yang akhirnya mengancam kehidupan masyarakat di daerah ini. Akhirnya, ‘’pesan Marissa Haque’’ ini harusnya menjadi kesadaran semua pihak bahwa, mulai dari saat ini, berhentilah kita merusak hutan dalam kapasitas dan peran kita apa pun di daerah ini. Malah dianjurkan kita untuk memiliki kesadaran untuk menjaga dan menjadikan kawasan di tempat tinggal kita selalu sejuk. Jika tidak kita yang menjadi lingkungan, siapa lagi. Ingat kita masih memerlukan alam ini lebih lama lagi.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






