Sabtu, 11 Oktober 2008 || 10 Syawal 1429 Hijriah
Total SportSony, Kido dan Nova Melaju ke Final

Minggu, 28 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaIdul Fitri, LE Undang Rakyat Riau

Minggu, 28 September 2008

article thumbnail

Menanti Peruntungan dari Arah Tiang Tongkang
Sabtu, 21 Juni 2008
Ritual Bakar Tongkang di Bagansiapi-api yang Sudah Berumur 138 Tahun
Jumat (20/6) petang, sekitar pukul 16.00 WIB adalah waktu bersejarah bagi puluhan ribu warga Tionghoa dalam dan luar negeri, baik yang bermukim maupun tidak di Bagansiapi-api, Rohil. Saat itu, ritual bakar tongkang dihelat. Seperti apa pelaksanaan dan apa makna yang terkandung dari ritual ini?

Laporan SYAHRI RAMLAN dan MURYADI, Bagansiapi-api --  Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
RITUAL turun temurun yang tiap tahun menyedot perhatian publik ini, merupakan salah satu kisah perjalanan warga Tionghoa dari suku Ang yang melarikan diri dari ancaman penguasa Siam yang sangat kejam. Dengan menggunakan tongkang, warga Tionghoa yang dipimpin Ang Mie Kui beranggotakan 18 awaknya melarikan diri sambil membawa patung Dewa Kie Hu Ong Ya dan lima dewa lainnya. Dalam pelariannya, Ang Mei Kui bersama anggotanya merasa yakin Dewa Kie Hu Ong Ya dapat memberikan perlindungan hingga membawa keselamatan dalam pelarian.

‘’Waktu dalam pelarian itu, mereka tidak mempunyai arah dan tujuannya yang jelas. Kapal yang mereka tumpangi terus berlayar tanpa arah, mengikuti arah angin dan alunan gelombang di laut yang luas,’’ kata salah seorang tokoh warga Tionghoa Bagansiapi-api asal suku Ang bernama Ang Giok He.

Di tengah pelayaran yang tidak menentu, akhirnya ditemukan suatu wilayah atau daerah yang disebut dengan istilah ‘’Bagan’’. Dari kejauhan, daerah tersebut terlihat menyala di malam hari yang menandakan ada sumber kehidupan di sana. Alhasil, rombongan suku Ang tersebut segera mengarahkan kapalnya ke kawasan ini. ‘’Waktu ditemukan, Bagan itu terlihat terang. Kalau terang, kan tentu ada sumbernya, yakni api. Atas perjalanan inilah kemudian daerah yang baru ditemukan itu dikenal dengan sebutan Bagansiapi-api,’’ kata Ang Giok He.

Sebagai daerah yang baru ditemukan, ternyata Bagansiapi-api memiliki potensi yang cukup besar. Salah satu di antaranya berasal dari sektor perikanan dan kelautan. ‘’Dulu, Bagansiapi-api ini banyak sekali ikannya. Alat tangkap apa saja yang dipasang, selalu mendapatkan ikan yang banyak. Lantaran hasil ikan ini cukup melimpah, setidaknya pada masa lalu telah mengantarkan Bagansiapi-api sebagai daerah penghasil ikan terbesar nomor dua di dunia setelah Peru,’’ kata Ang Giok He.

Lantaran sudah banyak memberikan kemakmuran, giliran warga Tionghoa dari suku Ang yang lari dari penguasa zalim tersebut memutuskan untuk tidak kembali lagi ke tempat asal. Sebagai konsekuensinya, kapal yang telah mereka tumpangi dan mengantarkannya ke Bagansiapi-api dibakar. Kegiatan membakar tongkang tersebut dilaksanakan tanggal 15 dan 16 pada penanggalan Imlek atau dikenal dengan sebutan Go Ge Cap Lak. Beranjak dari kisah tersebut, bakar tongkang oleh warga Tionghoa dijadikan salah satu budaya yang mengandung unsur ritual yang gilirannya terus dilaksanakan setiap tahunnya sampai sekarang.

‘’Kegiatan ritual bakar tongkang yang sampai sekarang masih dilaksanakan ini, sudah berlangsung selama 138 tahun. Melihat dari panjangnya rentang waktu ini, maka awal pelaksanaan ritual bakar tongkang yang pertama itu dilaksanakan sekitar tahun 1870 silam. Lantaran mengandung unsur sejarah serta memiliki nilai ritual inilah, kegiatan ritual bakar tongkang masih tetap eksis dilaksanakan di Bagansiapi-api,’’ kata Ang Giok He.

Di sisi lain, pelaksanaan ritual ini memiliki agenda penting, yakni sebagai ungkapan rasa kegembiraan untuk merayakan ulang tahun dewa laut Kie Hu Ong Ya. Pelaksanaan perayaan ulang tahun dewa laut Kie Hu Ong Ya tersebut dilakukan sehari sebelum puncak ritual bakar tongkang. ‘’Kamis (19/6) kemarin, adalah merupakan hari perayaan ulang tahun dewa laut. Sedangkan Jumat (20/6) yang dikenal sebagai puncak ritual bakar tongkang, pada prinsipnya adalah budaya saja. Kendati budaya, namun ada nilai-nilai religius yang tersirat disana,’’ kata Ang Giok He.

Selain sejarah, hal penting dari ritual tahunan ini adalah kemana arah jatuhnya tiang tongkang yang dibakar. “Disini kita torehkan harapan dan masa depan. Arah tumbang tiang tongkang kami deskripsikan sebagai acuan kegiatan usaha hingga satu tahun mendatang,” sebut Kok Pui, warga Bagansiapi-api yang sejak tiga tahun terakhir tinggal dan menetap di Jakarta dengan seabrek kegiatan usaha. Pria dua anak ini membawa serta keluarganya pulang ke Bagansiapi-api untuk menyaksikan ritual ini.

Akan tetapi, sedikit berbeda dari tahun yang sudah-sudah, soal arah tiang tongkang ini belum diputuskan. Sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa yang dihubungi Riau Pos memilih tidak berkomentar dengan dalih belum melihat atau mengetahui arah jatuh tiang secara pasti.

Sejumlah tokoh warga Tionghoa enggan memberikan kepastian, dengan dalih mendampingi Gubernur Riau HM Rusli Zainal bersama rombongan Bupati Rokan Hilir H Annas Maamun dan Muspidakab.

“Saya tidak lihat langsung hingga selesai. Mohon maaf dulu,” ujar A Beng, seorang tokoh masyarakat Tionghoa, kemarin. Beberapa tokoh lainnya juga melontarkan jawaban hampir sama. A Hok, tokoh muda Tionghoa dari kota ikan itu mengatakan, sebelum tiang tongkang benar-benar rubuh, ia juga buru-buru meninggalkan lokasi mendampingi pejabat yang hadir.

Bahkan sampai malam tadi, hingga berita ini dibuat, belum satupun warga Tionghoa yang menyampaikan keterangan resmi. Namun dari hasil pantauan Riau Pos di lapangan sebagaimana terlihat hingga pukul 17.05 WIB, tiang tongkang paling besar mulai condong kearah Timur Laut. Walau belum tumbang sepenuhnya, tetapi arah tiang menghala antara timur dengan utara. Sehingga dengan demikian, berbagai pihak masih belum memastikan arah tiang tumbang, yang menjadi asa atas nasib dan peruntungan selama satu tahun mendatang. “Besok (hari ini, red) kami jawab setelah mendapati kepastiannya,” ujar Abeng berjanji.

Nilai Wisata    

Sementara Gubri HM Rusli Zainal yang didampingi Bupati Rohil H Anas Maamun menyebutkan, bakar tongkang merupakan salah satu ritual milik warga Tionghoa Bagansiapi-api, Kabupaten Rohil yang memiliki nilai wisata yang cukup besar bagi Provinsi Riau maupun nasional. ‘’Dengan kegiatan ini menjadikan ritual bakar tongkang masuk dalam kalender wisata Indonesia dari Provinsi Riau,’’ kata Gubri di sela-sela acara.

Mengingat sudah menjadi agenda wisata nasional, tambah Rusli, setiap tahunnya kota Bagansiapi-api didatangi pengunjung yang berasal dari dalam maupun luar negeri. ‘’Sisi lain dari kegiatan ritual bakar tongkang ini adalah suatu tradisi pulang kampung. Artinya, warga Tionghoa kelahiran Bagansiapi-api yang sekarang berdomisili di luar daerah maupun negara selalu memanfaatkan momen itu untuk pulang kampung. Apalagi saya sudah mendengar, warga Tionghoa yang datang ke sini untuk menyaksikan maupun mengikuti ritual bakar tongkang ini, adalah kelahiran Bagansiapi-api,’’ kata Rusli Zainal.

Mengingat ritual bakar tongkang sudah menjadi aset wisata, tambahnya, keberadaannya harus terus dipertahankan. Karena, melalui kegiatan ritual bakar tongkang tersebut Bagansiapi-api kembali dikenal secara luas hingga sampai ke manca negara. ‘’Kita berharap, agar kegiatan yang sudah dilaksanakan ini dapat terus ditingkatkan lagi. Karena, aset dari sektor wisata ini memberikan andil yang cukup besar demi kemajuan daerah,’’ katanya lagi.***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org