| In Memoriam Profesor Deliar Noer, Cendekiawan Muslim Indonesia |
| Kamis, 19 Juni 2008 | |
|
Asingkan Diri ke Australia, Sempat pula Dilarang Mengajar
Cendekiawan Muslim yang juga eks Ketua Umum Partai Umat Islam Indonesia (PUII) Prof Deliar Noer menghembuskan nafas terakhir di RSCM Jakarta sekitar pukul 10.30 WIB. Seperti apa kesehariannya semasa hidup? Laporan JPNN, Jakarta CENDIKIAWAN muslim Indonesia itu wafat pada usia 82 tahun. Rabu (18/6) jenazah disemayamkan di rumah duka, di Klender, Jakarta Timur. “Kakek meninggal sekitar pukul 10.30 WIB. Saat ini jenazahnya sudah ada di rumah duka,” ujar cucu Deliar Noer, Nadia, Kamis (18/6). Menurut Nadia, jenazah akan dimakamkan hari ini, Kamis (19/6) sekitar pukul 10.00 WIB di TPU Karet. Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka di Jl Swadaya Raya No 7-9 Klender, Jakarta Timur. “Rencananya besok (hari ini, red) akan dimakamkan,” ujarnya. Deliar Noer lahir di Medan 9 Februari 1926. Puluhan karya tulis hasil pemikirannya telah dibukukan, termasuk biografi politik “Mohammad Hatta, Hati Nurani Bangsa 1902-1980”. Deliar merupakan doktor politik pertama di Indonesia. Kepergian Deliar melahirkan kedukaan di kalangan para murid maupun rekan seperjuangannya. Sepak terjang Deliar sungguh menarik disimak. Dia dikenal sebagai orang yang berprinsip tegas. Sandungan yang menjerat di masa Orde Lama maupun Orde Baru tak mampu melumerkan idealismenya. Salah satu tapak pendiri Sekolah Laboratorium Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) itu adalah, dia sempat dilarang mengajar di negeri sendiri. Dari pemberitaan media massa yang tersebar di internet, karena dituding anti-Nasakom, pada tahun 1964 dua kali Deliar melepas jabatannya sebagai dosen Universitas Sumatera Utara (USU). Pada 1974, Deliar diberhentikan sebagai rektor IKIP Jakarta, karena bersikukuh akan membacakan pidato pengukuhannya selaku guru besar, di universitas yang sama. Deliar pun dilarang mengajar di perguruan tinggi negeri maupun swasta oleh Menteri P dan K yang saat itu dijabat Syarif Thayeb. Akhirnya, pada 1975 Deliar mengungsi dari tekanan politik ke Australia. Dia harus mengasingkan diri ke Australia selama 12 tahun karena dikejar-kejar aparat pemerintahan Soeharto. Di Australia, Deliar sempat ditawari menjadi warga negara Australia. Namun didasari rasa nasionalisme yang kuat, Deliar menolak. Ketika di dalam negeri dilarang pemerintah untuk mengajar, justru banyak pihak yang meminta dia berbicara di depan podium. Maka ia pergi dari satu kota ke kota lain, seperti Canberra, London, dan New York. Persentuhannya dengan politik dimulai sejak Deliar kecil. Dia dilahirkan di tengah keluarga kaum pergerakan. Rumah orangtuanya dulu sering menjadi tempat pertemuan para pejuang kemerdekaan dan persinggahan para anggota Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) yang hendak lari ke Malaya (kini Malaysia). Saat belajar ilmu sosial politik pada Universitas Nasional (Unas), Jakarta, dia aktif dan menjadi Ketua HMI Cabang Jakarta. Akhirnya, Deliar terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar HMI tahun 1953-1955. Deliar yang sempat menjadi staf khusus Presiden Soeharto RI tahun 1966-1968 ini, mengkritik terpilihnya kembali Soeharto sebagai presiden tahun 1998-2003. Dia mempertanyakan Soeharto yang bisa dipilih kembali padahal sudah jelas-jelas gagal. Gagal mempertahankan nilai rupiah, gagal mengantisipasi krisis karena menuruti saran-saran International Monetary Fund (IMF). Mekanisme sidang di parlemen, baik DPR atau MPR, dinilainya, tidak berjalan sesuai fungsinya. Tak ada mekanisme interupsi, adanya ancaman recall bagi anggota yang interupsi atau vokal, dinilai Deliar sebagai parlemen yang mandul. Setelah era reformasi, Deliar pun mendirikan partai, yaitu Partai Umat Islam (PUI) pada tahun 1998, untuk mengikuti pemilu demokratis pertama pasca runtuhnya Orde Baru. Namun partai ini tidak terlalu bergaung. Deliar memperoleh kesempatan belajar di AS atas biaya Yayasan Rockefeller, sampai meraih gelar doktor. Gelar itu digondolnya pada 1962, setelah mempertahankan disertasi berjudul ‘’The Rise and Development of the Modernist Moslem Movement in Indonesia, 1900-1942'’. Jadilah Deliar menjadi peraih gelar doktor pertama ilmu politik di Indonesia dari Cornell University-Ithaca, AS. Deliar menikah dengan Zahara, gadis yang ditemuinya saat sama-sama belajar di AS. Saat hendak menikah, karena uang terbatas, hanya Zahara yang pulang ke Indonesia, yang kemudian dikawinkan dengan diwakilkan. Dari pernikahannya, Deliar dikaruniai dua orang anak, yang seorang di antaranya meninggal sewaktu masih bayi. Deliar juga membuat otobiografi berjudul ‘Aku Bagian Ummat Aku Bagian Bangsa’ (1996). Dia juga menulis beberapa biografi Bung Hatta, berjudul, Mohammad Hatta, Hati Nurani Bangsa 1902-1980 (2002), dan ‘’Mohammad Hatta: Biografi Politik’’ (1990). Selamat jalan, Prof.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





