• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 06 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Beras Riau
Rabu, 28 Mei 2008
Ada oleh-oleh menarik yang dapat dipetik dari kehadiran Menteri Pertanian RI Ir Anton Apriantono ke Kabupaten Siak beberapa waktu lalu. Ketika itu sang menteri menyatakan bahwa, negeri ini masih memungkinkan memiliki lahan yang cukup untuk menghasilkan padi baik bagi masyarakat negeri sendiri, maupun negara lain.

Perlahan tapi pasti, beras yang menjadi makanan pokok masyarakat dunia —meskipun bisa diproduksi secara terus-menerus alias tidak akan pernah habis— lama kelamaan akan mengalami nasib seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menyebabkan terjadi resesi ekonomi, termasuk negeri kita yang tidak bisa mengelak dari kebijakan menaikkan harga BBM di dalam negeri, yang akhirnya memiliki implikasi yang sangat luas.

Beras akan mengalami devisit, karena perkembangan industri yang cukup pesat, dimana terjadi alihfungsi lahan dan sawah yang sudah ada untuk keperluan lain, dan terputusnya regenerasi petani, sehingga semakin sedikit orang memiliki minat menanam padi, karena sudah menjadi kebiasaan, bahwa bertani sawah itu identik dengan kemiskinan.

Bagi Riau sendiri, kesulitan dan krisis beras sudah berlangsung sejak lama, padahal menurut ramalan dari berbagai pihak, krisis beras di dunia baru akan terjadi suatu waktu yang akan datang. Ironis bukan?

Artinya, kinilah saatnya kita memulai program penyadaran dari dini bahwa perlu ada terobosan terhadap krisis beras untuk Bumi Lancang Kuning ini. Apa yang telah dilakukan Riau Investment Corporation (RIC) pekan lalu dengan meluncurkan Riau Rice atau produk beras Riau perlu diacungkan jempol.

Sebab, secara berangsur-angsur, produksi beras yang memiliki identitas Riau ini, sedikit banyaknya telah memberikan motovasi kepada berbagai pihak agar menyadari, bahwa jika suatu saat nanti Riau ini bisa menjadi salah satu penyelamat dunia, ketika suatu saat terjadi krisis beras dunia.

Tak hanya itu, RIC secara tidak langsung memberikan harapan kepada para petani sawah untuk terus menanam padi, dengan lebih tenang tanpa dihantui oleh kecemasan, gagal panen, rugi dan kendala lainnya.

Apalagi, RIC memiliki konsep akan membeli gabah petani dengan harga yang sesuai, sehingga petani bisa terus berproduksi dan tidak mengalami kerugian. Artinya, sudah saatnya pula Riau bisa memproduksi beras sendiri, sehingga secara berangsung-angsung bisa mengurangi ketergantungan produksi beras dari daerah tetangga.

Selain itu, mind set masyarakat kita akan mulai mengalami perubahan bahwa, kini dan seterusnya, memiliki sawah tidak akan rugi, tetap punya masa depan dan menjadi lahan yang menjanjikan. Tidak yang terjadi selama ini, bahwa masyarakat berbondong-bondong mengalihkan lahannya menjadi kebun kebun sawit, bahkan sawah pun ikut menjadi korban.

Semoga dengan terobosan yang dibuat RIC ini memberi motifasi lebih bagi Riau, sehingga apa yang dikhawatirkan sang Menteri Pertanian, bahwa suatu saat akan terjadi krisis beras bagi masyarakat dunia bisa diatasi. Bahkan Riau termasuk salah satu daerah di negeri ini yang mampu memberi solusi ketika daerah-daerah tertentu kekuarang beras. Kita tidak ingin Riau seperti saat ini yang sangat tergantung dari beras Sumbar dan Sumut.***
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailFresh Lemon Sharp Siap Bersaing

Jumat, 05 September 2008

PEKANBARU (RP) - MASIH ingat kesegaran lemon yang telah diberikan Sharp sejak Hari Ibu tahun 2006 yang lalu hingga kini?

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailKembalikan Fungsi Awal Portal Jembatan Siak

Jumat, 05 September 2008

RUMBAI (RP) - Tumbangnya portal Jembatan Siak di sisi pesisir Rumbai memang sudah diwanti-wanti sejak awal. Apalagi sejak di bagian atas jembatan itu dipasang tempat baliho raksasa, beban...

Simak Juga