| Cagub: Reputasi atau Karakter? |
| Rabu, 28 Mei 2008 | |
|
Menjelang Pilgubri 2008 ini, suhu perpolitikan di Riau meningkat. Kunjungan demi kunjungan semakin semarak dilakukan. Acara-acara pertemuan yang menghimpun massa dalam jumlah besar semakin ramai dihadiri oleh calon-calon yang akan bertarung memperebutkan dukungan masyarakat. Baliho, stiker, spanduk, banner, kalender, jam, dan sarung pun bertebaran. Media massa pun ramai-ramai mengangkat berita seputar tarik ulur pencalonan dan gonta-ganti pasangan oleh parpol.
Suasana hiruk pikuk Pilgubri 2008 ini pun semakin menyita perhatian masyarakat, paling tidak pada tingkat elit dalam dua tahun terakhir ini sehingga seolah-olah kerja elit politik hanya perebutan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur. Agenda-agenda pembangunan dan upaya mensejahterakan masyarakat seolah-olah hanyalah pekerjaan sampingan, kalau pun dilakukan seringkali beriringan dengan upaya mendulang simpati dan dukungan masyarakat. Kami khawatir, kesibukan masyarakat kita akhir-akhir ini pada Pilgubri hanya mengurusi popularitas dan reputasi saja. Sementara kinerja dan karakter sang calon hampir terlewatkan dan tidak mendapatkan sorotan berarti. Makanya setiap kali pemilihan yang tersorot hanyalah penampilan tampang, setor senyuman, dan tepukan tangan. Kita tidak mendapat suguhan dari media ataupun dari pembicaraan masyarakat tentang kerja keras calon-calon itu dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, tentang usaha mereka dalam memperbaiki negeri ini menjadi lebih baik. Reputasi adalah bungkus luarnya, sedangkan karakter adalah isinya. Reputasi berkaitan dengan popularitas, sosialisasi dan kampanye yang bisa dibuat-buat dan direkayasa. Sedangkan karakter berkaitan dengan kinerja, perilaku, dan keberpihakan yang tumbuh dari dalam diri. Karakter positif antara lain adalah tegas, berani, ramah, kerja keras, disiplin, sabar, efisien, pintar mengelola dan berilmu. Kebalikannya adalah peragu, penakut, sombong, santai, mulur, pemarah, boros, tak mampu mengelola dan kurang wawasan. Pemimpin berkualitas ditentukan dari sebanyak mana ini memiliki karakter positif ini, meskipun tidak semuanya bisa dipenuhi. Pemimpin yang berkualitas adalah pemimpin yang berani menghadapi tantangan; mau bersusah-susah dan berpenat-penat; siap untuk dimusuhi demi mempertahankan idealisme; rela berkorban demi cita-cita; dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak, bukan kelompoknya saja. Pemimpin yang berkarakter yang kita inginkan adalah pemimpin yang rela menderita demi menata ulang birokrasi yang berbelit-belit asalkan urusan masyarakat menjadi mudah. Mereka adalah pekerja keras dan tekun dalam membereskan kebuntuan-kebuntuan dalam birokrasi supaya urusan-urusan masyarakat, dunia usaha, pendidikan, dan kesehatan berjalan lebih lancar. Pemimpin berkualitas adalah pemimpin yang mau mengetahui dan mengontrol jalannya pemerintahan yang dipimpinnya, mengecek pelaksanaan program dan kegiatan yang telah digulirkan. Pemimpin yang kita inginkan haruslah orang yang rela mendatangi rumah-rumah masyarakat miskin, apakah mereka disantuni oleh pemerintah atau tidak; mengetahui permasalahan dan pemecahan yang dibutuhkan untuk mengatasi kemiskinan mereka, meskipun hanya dengan sampel acak. Pemimpin berkarakter pasti berani untuk mengurus dan menata proses tender supaya transparan, bersih, dan efisien demi mendapatkan kualitas pekerjaan pembangunan yang berkualitas; bukannya membiarkan proses lelang apa adanya sehingga amburadul dan malah memberikan keuntungan pada kroninya. Pemimpin berkualitas akan mau sama-sama merasakan penderitaan rakyatnya. Ia harus juga merasakan penderitaan masyarakat ketika melewati jalan yang berlubang dan membunuh pengendara yang melewatinya. Bukannya dengan berlomba-lomba mendapatkan mobil bagus dengan shock-breaker empuk untuk mengatasi ketidaknyamanan dari lubang yang ada di jalan. Jika ia merasakan penderitaan yang sama, empatinya akan muncul, ia pun akhirnya berpikir keras untuk mengatasi persoalan itu, bukannya mengabaikan dan melupakannya. Pemimpin yang tidak berkualitas adalah pemimpin yang tidak mau repot; tidak mau menghadapi tantangan; hanya mau nampang, setor senyuman, memancing simpati dan bertepuk tangan pada acara peresmian-peresmian. Mereka rela meninggalkan persoalan-persoalan yang pelik, memendamnya, melupakannya, dan membiarkannya menjadi bom waktu untuk orang lain. Pemimpin seperti ini marah bila dikritik; tidak mau menerima masukan; senang mendengarkan laporan yang baik-baik saja; merasa tersanjung bila dipuji; malas mengecek dan turun sendiri langsung memantau program yang dijalankan. Mereka tidak memiliki sense of crisis untuk merasakan penderitaan masyarakat. Lihatlah pemimpin-pemimpin besar yang menghiasi negeri kita ini. Mereka meninggalkan karya-karyanya yang besar di tengah kesulitan yang mendera. Soekarno telah berjuang memimpin bangsa ini menjadi bangsa yang disegani dan diakui eksistensinya di dunia di tengah ancaman negara-negara besar waktu itu. Soeharto telah banyak sekali melakukan pembangunan dan meningkatkan perekonomian bangsa. Ali Sadikin telah membangun Jakarta dengan caranya meskipun dicemooh oleh banyak orang waktu itu. Bupati Untung di Sragen telah berhasil mendudukkan sistem pemerintahan yang baik sehingga kehidupan masyarakat menjadi jauh lebih maju. Bupati Jembrana berhasil mengefisienkan anggaran daerahnya sehingga dengan keterbatasan APBD mereka bisa menggratiskan pendidikan dan kesehatan masyarakatnya. Gamawan Fauzi dikenang karena keberhasilannya menata Kabupaten Solok sehingga ia mulus menjadi Gubernur Sumbar. Mereka semua adalah pemimpin-pemimpin yang berkarakter mulia, berani menanggung resiko dan tantangan sehingga kinerja mereka secara otomatis mengharumkan reputasi mereka. Masyarakat sudah sangat cerdas dalam menilai. Mahmoud Ahmadinejad melarang fotonya dipasang di kantor-kantor dan di rumah-rumah di Iran, tetapi rakyatnya masih tetap mengidolakan dan membelanya. Kalau pemimpin-pemimpin kita pada hari ini memiliki karakter, dekat dengan masyarakat, membela hak-hak rakyat untuk mendapatkan keadilan dan meningkatkan kesejahteraannya, mereka tidak perlu takut untuk tidak terpilih. Tidak perlu sosialisasi terlalu banyak untuk mendapatkan dukungan atas dirinya. Kita tidak menginginkan pemimpin yang hanya mengandalkan reputasi dan ketenarannya saja untuk menjadi pemimpin. Kita merindukan pemimpin yang memiliki karakter, yang jelas terlihat keberpihakannya pada kesejahteraan masyarakat, terutama mereka yang lemah, miskin, dan tertinggal. Kita merindukan pemimpin seperti Umar yang menggendong sendiri gandum untuk sebuah keluarga yang miskin di malam hari, tentu saja dalam konteks kekinian. Saat ini kita memerlukan pemimpin yang berkarakter dan karenanya memiliki reputasi cemerlang di mata masyarakat dan Allah SWT, bukan sebaliknya! Wallahua’lam.*** Dr Ir Muhammad Ikhsan MSc; Dosen S2 Studi Perkotaan Unri |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






