• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 27 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Seabad Kebangkitan Nasional?
Selasa, 20 Mei 2008
Sepanjang sejarah Indonesia, kononnya bangsa Indonesia telah pernah mengukir sejarah emas kejayaan yakni pada masa Sriwijaya, Majapahit, era kerajaan lokal daerah, era kerajaan Melayu Islam dan lain-lain. Kemudian kejayaan Indonesia tenggelam di era kolonialisme. Apakah Indonesia dapat mengukir kejayaan emasnya, atau semakin terpuruk atau bahkan terjadi disintegrasi. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan kita kebangkitan nasional apakah sebuah cita-cita atau sebuah kenyataan.
Sepanjang sejarah modern Indonesia, dari manakah mulainya kebangkitan Indonesia? Semua ahli sejarah sosial politik Indonesia sepakat bahwa, kebangkitan nasional bermula dari suatu badan perhimpunan yang bernama Budi Oetomo yang didirikan oleh para pelajar Sekolah Tinggi Kedokteran atas dasar semangat nasionalisme yang menggelora dengan tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia yang ditindas penguasa kolonialisme Belanda yang mengekploitasi kekayaan bangsa dan menginjak-injak  harkat dan martabat Indonesia.

Berkat keuletan pemuda Soetomo dan kawan-kawan yang anti kolonial berdirilah Perhimpunan Nasional pada 20 Mei 1908 yang dipimpin dr Wahidin yang selanjutnya perhimpunan ini bernama Budi Oetomo. Berdirinya Budi Oetomo ini merupakan tonggak sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia untuk melepaskan keterbelenguan dari cengkraman ‘’tangan besi’’ kolonial Belanda.

Berdirinya Budi Oetomo serta aktivitas pergerakan politiknya sangat memberi inspirasi bagi pemuda-pemuda yang lain untuk mendirikan organsisasi, maka berdirilah perkumpulan Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Islamieten Bond dan lain-lain. Kerena organisasi ini bersifat primordialisme dan agama termasuk Budi Oetomo, maka pada 27-28 Oktober diadakanlah kongres Pemuda dengan maksud untuk mempersatukan perkumpulan pemuda yang masih bernuasa kedaerahan tersebut. Hasil kongres tersebut menghasilkan rumusan yang cemerlang apa yang disebut dengan Sumpah Pemuda.

Jika dilihat dari sosio-historisnya sangat mulia dan cemerlang pemikiran dan tujuan pemuda-pemuda tersebut. Inilah merupakan cikal-bakal lahirnya nasionalisme dan semangat kebangsaan, barangkali juga cikal-bakal munculnya sebuah negara demokrasi.

Selajutnya perlawanan politik pemuda Indonesia menentang  ekploitasi kolonial Belanda menimbulkan banyak partai-partai politik yang pada akhirnya secara politis mengantarkan bangsa Indonesia kepada Deklarasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Namun pertanyaannya apakah Indonesia telah benar-benar merdeka atau bangkit?

Pasca-kolonial, semasa Soekarno, harkat dan martabat Indonesia di mata dunia sudah mulai di perhitung, ini ditandai dengan sepuluh tahun Indonesia merdeka, bangsa Indonesia telah membuat Konfrensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Indonesia mempelopori negara-negara di Asia dan Afrika untuk menentang penjajahan kolonialisme, impreliasme dan kapitalisme. Bangsa Indonesia di era Soekarno juga mampu mendirikan gagasan negara non-blok. Namun ide-ide besar pada masa Soekarno tersebut, kita hanya hanyut dalam eforia politik mercusuar. Masyarakat kita masih tetap hidup dalam kemiskinan dan belenggu kebodohan, dan konflik sosial-politik yang semakin tajam.

Pada masa Orde Baru, yang dipimpin Soeharto selama 32 tahun, lebih parah lagi keadaan bangsa Indonesia yang hidup terbelenggu dalam rezim militer masyarakat hidup dalam keadaan yang serba dikonstruksi oleh militerisme dan kekuasaan otokaritik-oligarkis. Kekuasan dan kekayaan dinikmati segelintir orang, sedangkan sebagian besar orang hidup terbelenggu dalam kemiskinan dan bodoh. Pada era ini sesungguhnya bangsa Indonesia dijajah oleh bangsanya sendiri.

Tahun 1998 militeristik jatuh digantikan dengan dengan Orde Reformasi, mulai dari pemerintahan Presiden Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudoyono. Di era ini orang-orang diberi kebebasan, namun pertanyaan apakah bangsa kita sudah terlepas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Apakah bangsa kita telah menjadi bangsa yang bermartabat. Jika kita bandingkan dengan negara tetangga misalnya Malaysia medeka 1957, Singapura merdeka 1965, Brunai Darusslam merdeka 1980-an. Mereka lebih maju dari kita, apa yang salah dari kita, apakah masyarakatnya tak dapat urus atau penyelengaraan negara ini salah mengurus?

Keterpurukan nampaknya makin terbuka lebar di Indonesia. Terkondisikannya degradasi moral, etika, dan budaya serta terkikisnya rasa nasionalisme membuat keserakahan makin subur. Sayangnya, ketika kehancuran makin nyata banyak pihak secara terbuka melakukan pembusukan spirit nasionalisme dan mengkondisikan pertentangan indentitas diri dengan mengobarkan fanatisme kedaerahan. Akibatnya, rasa nasionalisme mencair menjadi penghadang menuju pembangunan masyarakat yang madani dan sejahtera

Banyak hal yang patut dievaluasi dalam perjalanan bangsa ini. Setidaknya, pertama yang perlu dievaluasi adalah komitmen bangsa ini untuk menjadi bangsa yang bermartabat. Ketika landasan hidup berbangsa ini rapuh akibat berbagai gesekan kepentingan, Indonesia bisa terpuruk.

‘’Saya melihat bergaungnya kembali wacana kebangkitan bangsa karena bangsa ini telah menyadari ada banyak penyimpangan dalam makna spirit kebangkitan bangsa yang dicanangkan oleh para pemuda pada 1908 dan 1928. Ada anasir-anasir ideologi, fanatisme kedaerahan, disintegrasi bangsa yang menguat.  

Banyak ahli-ahli sosial mengatakan secara umum Indonesia masih belum bangkit dari keterpurukan, bahkan cenderung mengalami kemunduran. Bahkan, dalam satu abad Kebangkitan Nasional, integrasi bangsa malah makin terancam. Tak adanya fondasi yang kuat di sektor ekonomi, sosial, politik, agama dan pertahanan, intensitas konflik politik membuat pintu kehancuran menganga.

‘’Bangsa ini kurang melakukan konsolidasi ke dalam dan cenderung menjadi bangsa yang besar. Padahal dalam banyak hal bangsa ini belum solid sebagai sebuah bangsa. Otonomi daerah yang diharapkan menjadi kekuatan penyangga malah tumbuh menjadi ancaman karena para pemimpinnya memaknai otonomi sebagai kekuasaan serba bebas dan tanpa koordinasi.

Dari persoalan-persoalan di atas apa makna seabad kebangkitan Nasional bagi bangsa Indonesia, apakah bangsa Indonesia sudah benar-benar bangkit, atau telah menjadi bangsa yang terlelap selama satu abad.***

Drs Husni Thamrin MSi,
Direktur Lembaga Penelitian UIN Suska Riau.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailKedai Kopi Massa Kok Tong Lirik Pekanbaru

Jumat, 29 Agustus 2008

PEKANBARU (RP) - Kedai Kopi Massa Kok Tong yang sudah beroperasi sejak 1925 silam, kini hadir di Pekanbaru dengan lokasi di samping Hotel Grand Elite Pekanbaru. Kedai kopi khas Siantar ini...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailElpiji Tembus Rp105 Ribu

Jumat, 29 Agustus 2008

Pertamina: Jangan Beli di EceranKOTA (RP) — Pertamina baru saja menaikkan harga elpiji tabung isi 12 kilogram dari Rp63 ribu menjadi Rp69 ribu. Tapi, harga itu rupanya tak berlaku...

Simak Juga