• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 27 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Waisak dan Kebangkitan Nasional
Selasa, 20 Mei 2008
Tahun ini bertepatan dengan umat Buddhis merayakan Hari Suci Waisak ke 2552/2008, dan satu abad Peringatan Hari Kebangkitan Nasional bagi bangsa Indonesia,  pada hari yang sama (20 Mei). Peringatan ini dapat dijadikan momentum yang tepat bagi bangsa dalam upaya meningkatkan kebersamaan dan keharmonisan hidup dengan merenungkan kembali nilai-nilai perjuangan dan jerih payah para pahlawan bangsa yang telah bersusah payah mencetuskan semangat kebangsaan 20 Mei 1908 atau 100 tahun yang lalu.
Kita haruslah bersyukur dan berterima kasih kepada pemimpin bangsa dan mendoakan keselamatan bangsa dalam ritual perayaan Hari Suci Waisak tahun ini. Sebagai umat Buddhis kita harus senantiasa berpaling ke dalam diri apakah semangat Buddha untuk melawan Mara (Penggoda) pada 2600 tahun lalu masih kita miliki untuk melawan diri dari hawa nafsu dan pengendalian diri. Begitu juga semangat cinta kasih  para pejuang kita di zaman dahulu yang telah berkorban jiwa-raga mempersatukan bangsa dan memerdekakan Indonesia. Para Pejuang akan bersedih hati sampai melihat kenyataan  mengharukan yang terjadi di tengah-tengah komunitas bangsa kita, perpecahan bangsa karena agama dan suku, lunturnya semangat persatuan dan kesatuan, nilai-nilai kerukunan hidup berbangsa dan bernegara dalam pluralisme sudah mulai pudar, semangat gotong royong sudah berkurang.

Semangat Kebangkitan Nasional yang sudah berusia 100 tahun ini merupakan benih kasih perjuangan para pahlawan, seharusnya dapat menjadi contoh dan teladan bagi kita. Bahwa mereka telah melahirkan sebuah  kemerdekaan yang tak ternilai harganya, mereka mampu bersatu walaupun berbeda, dengan satu semangat  berani berkorban jiwa raga untuk cita-cita negara yang merdeka dan berdaulat yang diproklamirkan 17 Agustus 1945, sebagai orang yang bermoral, tahu budi,  tahu bersyukur dan merasakan kasih pejuang, hendaknya kita semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Memaknai Hidup dalam Kebersamaan
Makna hidup yang sebenarnya adalah menghormati dan hidup dalam kebersamaan. Tidak untuk diri sendiri atau  egois tapi hidup yang penuh kasih. Kunci kesamaan adalah kebangkitan nurani, sadar dan cemerlang. Hanya dengan sebuah kecemerlangan nurani setiap orang baru bisa menciptakan kebersamaan,  keharmonisan,  demokrasi nurani, saling menghargai, berjiwa nasionalis dan globalis. Dalam wujud nyatanya seseorang selalu berbuat untuk kepentingan dan kebahagiaan orang lain, selalu menjalin hubungan baik terhadap dan kepada siapapun, terhadap alam dan lingkungannya.

Tiga sikap kebersamaan yang harus dilaksanakan dalam kehidupan adalah: Pertama, kehidupan bersama Sang Buddha bersabda; Untuk membina kebersamaan dan keharmonisan hidup, seseorang harus mengembangkan dan memancarkan jiwa kasih dalam perbuatan sehari-harinya.  Baik  melalui tindak perbuatan, kasih melalui ucapan, kasih melalui pikiran, kasih melalui bantuan kepada orang lain, kasih pada orang yang bermoral, dan kasih dengan pandangan yang sama, pandangan hidup dalam hidup berbangsa, bernegara, dengan satu tujuan.

Faktor penting di atas akan dapat menghindari perpecahan konflik antar umat, terbina kerukunan hidup, saling menghormati, mencintai, menghargai dan dapat menunjang persatuan dan kesatuan. Dapat hidup bersama satu dengan  lain adalah sebuah kemuliaan, tidak diskriminatif, hidup tenteram, bahagia, harmonis, tidak saling membenci, melukai, bagaikan saudara dalam hati nurani. Inilah semangat kebangkitan kasih dalam persaudaraan.

Kedua, kesadaran bersama. Kesadaran berbangsa dan bernegara, kesadaran beragama adalah sama-sama menyejukkan kehidupan ini, semua sadar akan tugas dan tanggung jawab masing-masing, semua berjalan di atas rel hukum. Kesadaran hukum sebenarnya bisa dipraktikkan melalui hidup sehari-hari, bagaimana kita bisa berbuat sesuai dengan nurani, tidak melanggar nurani maka tidak melanggar hukum dunia maupun agama. Jiwa kebersamaan ini hendaknya menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menjadi orang bijaksana dan penuh kasih. Ini disebut semangat kebangkitan kesadaran hidup.

Ketiga, kedamaian dan ketenteraman bersama. Sebuah ketentraman tidak datang dari luar, melainkan dari diri setiap manusia. Kalau kita  berusaha mencari dari luar diri, hanya bersifat sementara. Kedamaian sejati datang dari diri bagaimana selalu memberi kedamaian dan ketenteraman pada orang lain, maka bila ada orang mencari kedamaian dan ketenteraman dengan mencelakai orang lain maka orang tersebut tidak pernah tenang, bila seseorang dengan akal liciknya menjatuhkan orang lain,  maka akibatnya ia tidak pernah damai, karena secara tidak langsung Sang Hakim Agung, Nuraniah telah mengutuk dan menghukum dirinya. Bangsa yang besar harus selalu mengutamakan kepentingan orang banyak dan secara bersama mendapatkan ketenteraman diri. Ini disebut semangat kebangkitan dan kemuliaan hati nurani.  

Memaknai Waisak
Setiap tahunnya umat Buddha dunia merayakan Hari Tri Suci Waisak, untuk mengenang kembali historis perjuangan Sang Buddha dalam melawan hawa nafsu keduniawaian. Beliau berkorban segalanya demi menemukan obat yang dapat menyembuhkan penderitaan (dukha) manusia. Tiga peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan Buddha yakni kelahiran Sang Bodhisatva Siddharta Gotama. Sang Bodhisatva Siddharta mencapai kesempurnaan Buddha dan Buddha Gotama memasuki Maha Parinirvana (Wafat). Ketiga momen ini jatuh pada bulan yang sama  di Waisak (Mei) tepatnya bulan Purnama Sidhi. Nasehat dan pesan Buddha yang sakral di akhir kehidupan Beliau: ‘’Bahwa semua yang ada saha loka ini adalah anicca (tidak kekal) dan yang tak kekal adalah dukha (tak memuaskan), berjuang dan berbuatlah dengan kesadaran.’’

Untuk apakah semua kekayaan dan kemewahan yang dicapai, untuk apa semua bentuk kekerasan, penipuan, kebohongan dalam pencapaian itu, yang kesemuanya bersifat sementara. Ini bukan   pesimistis, namun harus ditingkatkan untuk menemukan Sang Jati Diri, sebagaimana Sang Buddha telah menemukanNya di bawah pohon Bodhi dan mengajarkanNya. Temuan Buddha ini sebagai formula ampuh mengobati penyakit batin manusia.

Marilah kita jadikan Semangat Waisak 2552 dan 100 tahun kebangkitan nasional tahun ini sebagai momen untuk bisa membangkitkan hati nurani. Bangkitlah hati nurani, bangkitlah bangsaku, damai dan tenteramlah dunia.  Semoga kita semua dan sekalian makhluk berbahagia dan tenteram.  Swaha...(semoga).***

Sonika ; Tokoh Masyarakat Buddhis Riau

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
 

StopGlobalWarming.org

Google
 

Ekonomi & Bisnis

article thumbnailKedai Kopi Massa Kok Tong Lirik Pekanbaru

Jumat, 29 Agustus 2008

PEKANBARU (RP) - Kedai Kopi Massa Kok Tong yang sudah beroperasi sejak 1925 silam, kini hadir di Pekanbaru dengan lokasi di samping Hotel Grand Elite Pekanbaru. Kedai kopi khas Siantar ini...

Simak Juga

Metropolis

article thumbnailElpiji Tembus Rp105 Ribu

Jumat, 29 Agustus 2008

Pertamina: Jangan Beli di EceranKOTA (RP) — Pertamina baru saja menaikkan harga elpiji tabung isi 12 kilogram dari Rp63 ribu menjadi Rp69 ribu. Tapi, harga itu rupanya tak berlaku...

Simak Juga