| Krisis Bulutangkis, Krisis Identitas |
| Senin, 19 Mei 2008 | |
|
BETAPA beratnya menanggung beban sejarah. Tetapi, mungkin, lebih berat lagi menjelaskan kepada orang bahwa sejarah harus selalu “berulang”. Sejarah, sejatinya, memang tak pernah berulang, karena sebagai fakta dia hanya terjadi sekali saja. Jika ada pengulangan-pengulangan, itu hanyalah sebuah rangkaian spiral yang mungkin antara kejadian yang satu dengan yang lain saling berhubungan dalam bingkai yang sama.
Tetapi benar, menanggung beban sejarah gemilang di masa lalu, memang pekerjaan yang berat. Di saat harga pangan merambat naik tak terkendali, kekonyolan politik yang semakin menjadi-jadi dan kebijakan-kebijakan tak populer yang diambil oleh pemerintah, dalam sepekan terakhir kita diberi harapan akan prestasi di cabang bulutangkis, yakni Piala Thomas dan Uber yang dipentaskan di Istora Senayan, Jakarta. Bulutangkis memang menjadi sebuah kebanggaan kita sebagai bangsa di mata internasional. Dari cabang inilah, selain pariwisata Bali, Indonesia dikenal luas. Kita pernah menjadi raja di Piala Thomas semasa Ferry Soneville, Tan Tjoe Hok, hingga turun ke generasi berikutnya seperti Liem Swie King, Lius Pongoh, Christian Hadinata, Icuk Sugiarto, Kartono, Haryanto, Hastomo Arbi, Alan Budikusuma, Ardi B Wiranata, Joko Suprianto, Hendrawan hingga ke generasi Taufik Hidayat. Taufik adalah generasi terakhir kita yang mampu berprestasi tinggi. Para yuniornya, Sony Dwi Kuncoro atau yang lainnya belum mampu bersaing di level atas di tengah dominasi Cina yang menyeruak sejak awal 1980-an. Indonesia terakhir meraih Piala Thomas tahun 2002 di Jakarta setelah mengalahkan Cina. Di sektor putri, kita pernah memili Ivana Lie, Imelda Wiguna, Lilik Sudarwati, Rosiana Tendean, Verawati Fajrin, Sarwendah Kusumawardani hingga generasi emas Susi Susanti dan yang lainnya. Namun dalam sepuluh tahun terakhir setelah pensiunnya Susi, sektor putri tak bisa berbuat banyak. Terakhir, generasi Susi berhasil meraih Piala Uber tahun 1996 saat mengalahkan Cina di Hongkong. Setelah itu, prestasinya tak bisa diharapkan, baik di perorangan maupun kejuaraan beregu. Hingga kini, Indonesia memang tetap disegani di percaturan bulutangkis dunia. Setiap Olimpiade digelar, Indonesia selalu memiliki tradisi emas sejak Alan dan Susi mengawinkan emas di tunggal putra-putri Olimpiade 1992 Barcelona. Tahun itu, untuk pertama kali, bulutangkis resmi masuk dalam daftar cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade, setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan. Tetapi, melihat miskinnya regenerasi yang kita lakukan, Olimpiade Beijing 2008 ini akan penuh dengan tanda tanya. Di sektor tunggal putra misalnya. Setelah Taufik Hidayat mengalami penurunan drastis sejak menikah, Soni, Simon Santoso atau Tomi Sugiarto yang diharapkan, hingga kini belum juga memberikan hasil yang signifikan. Sepanjang sejarah tunggal putra, baru saat inilah kita mengalami krisis yang paling buruk setelah kritis di sektor putri dalam sepuluh tahun terakhir, meski di sektor ganda (putra dan campuran) kita masih salah satu yang terbaik. Lalu, apa jalan keluar yang harus dilakukan? Pembinaan model apa yang harus dibuat untuk menandingi kedigjayaan Cina, Korsel dan Malaysia, juga untuk menjauhi semakin maju dan berkembangnya negara-negara “kecil” seperti Thailand, Inggris, Jerman, Jepang atau Singapura? Para pakar bulutangkis harus mencari jalan keluar, kalau perlu berguru ke Cina untuk membuat formulasi baru agar cabang ini masih bisa membuat kebanggaan bagi Indonesia yang semakin lama semakin terpuruk dalam banyak hal ini. Kita bisa asal kita mau. Persoalannya, kita tak pernah mau belajar dari orang lain dan merasa selama ini kita yang terbaik...*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






