| Kebangkitan Nasional Kedua |
| Senin, 19 Mei 2008 | |
|
Mei adalah bulan spesial bagi rakyat Indonesia. Awalnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, dan penghujung akhirnya diperingati sebagai Hari Kebangitan Nasional. Ditilik dari sisi sejarah, memang banyak perdebatan soal penetapan tanggal-tanggal bersejarah ini. 2 Mei, hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara yang ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional menuai banyak kritik. Antara lain keterbatasan ruang lingkup perjuangan Ki Hadjar Dewantara dengan Taman Siswa-nya pada wilayah dan etnis tertentu. Para tokoh Islam menyuarakan bahwa Kiai Haji Ahmad Dahlan jauh lebih besar perjuangannya dan karenanya layak diapresiasi sebagai tokoh utama pendidikan nasional, sehingga legitimasi 2 Mei sebagai Hardiknas harus segera ditanggalkan.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang dipancangkan pada tanggal 20 Mei juga tak sepi dari kritik. Para pakar sejarah seperti Adaby Darban (UGM) dan penulis Rizky Ridyasmara, juga banyak mengkritik perkara salah pilih tanggal ini. Kelahiran Boedi Oetomo yang dianggap tonggak pertama kebangkitan pemuda adalah hal salah kaprah. Dua alasan yang dikemukakan antara lain karena Boedi Oetomo bukanlah organisasi pejuang pemuda yang pertama. Sebelumnya telah lahir organisasi yang jauh lebih besar baik volume maupun level dan intensitas perjuangannya, yakni Sarekat Islam. Selain itu Boedi Oetomo juga dipandang sebagai organisasi elitis, perkumpulan para anak bangsawan Jawa. Ia bukanlah sebuah organisasi inklusif yang terbuka untuk semua kalangan, dan karenanya tak begitu layak dinobatkan sebagai tonggak kebangkitan. Kritik yang datang belakangan juga terkait dengan keterlibatan Boedi Oetomo dengan gerakan Zionisme Yahudi, lewat ajaran-ajaran yang merancukan agama semisal ajaran Theosofi-nya Annie Bessant. Konon, keluarnya Dr Soetomo, pendiri Boedi Oetomo dari gerakan ini adalah karena kekecewaan beliau atas organisasi yang dibentuknya itu dengan tokoh-tokoh Zionis. Allahua’lam. Terlepas dari segala kritik konstruktif tersebut, bulan Mei sebagai satu satuan waktu yang merupakan karunia Allah SWT tetaplah memiliki nilai strategis. Ia harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kebaikan. Bila perlu, bulan ini dijadikan titik tolak kebangkitan bangsa ke depan. Lantas apa yang perlu diperbaiki dari bangsa ini? Berjuta jawaban tentu akan muncul dari berbagai kalangan dengan beraneka perspektif. Namun saya hendak menyoroti satu sisi saja, yakni sisi mental, terutama mental para pemuda. Alasannya, mentalitas adalah alam pertama dari diri manusia. Kekokohan mental-spiritualnya akan menghantarkan kepada ketajaman akal-pikiran dan produktivitas amal. Saat sekarang ini, era di mana materialisme menjadi sesembahan baru, penyakit mental di kalangan pemuda semakin parah saja. Di antara penyakit itu adalah kecintaan yang berlebih kepada materi, kekayaan dan popularitas yang dicapai dengan cara instan. Pelajar dan mahasiswa lebih bercita-cita menjadi bintang AFI atau Indonesian Idol daripada menjadi pengganti Agus Salim, misalnya. Forum diskusi, seminar atau bedah buku yang membicarakan masa depan bangsa selalu sepi pengunjung, di lain sisi konser musik yang tidak begitu jelas kualitasnya penuh sesak, bahkan sampai memakan nyawa. Gejala apa ini? Di sudut lain, ada para pemilik otak jenius yang kehilangan semangat. Semuanya berbondong-bondong menyeragamkan cita-cita mereka: menjadi ambtnenaar (PNS) atau bekerja di perusahaan swasta. Sebenarnya tidak ada yang salah, kecuali tipisnya cita-cita dan lemahnya abstraksi soal masa depan. Tidak ada semangat enterpreneur, jiwa pebisnis ataupun pekerja sosial. Minim sekali spirit pendobrak. Semuanya terlena di batas comfort zone (zona nyaman) dan sibuk berburu kemapanan instan. Kalau demikian adanya, sesungguhnya negeri ini tengah melangkah menuju kematian. Delapan Penyakit Mental Di zaman Rasulullah SAW, pembenahan mental dan spiritual benar-benar mendapat perhatian lebih. Pembinaan yang baik ini menghantarkan generasi jahiliyah Arab pada saat itu menjadi sokoguru peradaban dunia, dalam kurun waktu dua dasawarsa saja. Ada kejadian menarik yang dapat diambil sebagai pelajaran utuk kita saat ini. Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW melihat salah seorang sahabat duduk-duduk di masjid pada siang hari, pada jam kerja, di mana semua orang mengisi waktunya dengan produktivitas. Sahabat itu bernama Abu Umamah. Lalu Nabi bertanya: ‘’Wahai Abu Umamah, kenapa engkau duduk-duduk saja di masjid, padahal ini bukan waktu shalat?’’ Jadi, dalam pandangan Islam, tak selamanya duduk di masjid itu positif. Abu Umamah menjawab: ‘’Aku gelisah karena dililit hutang wahai Rasulullah.’’ Lalu Nabi mengajarkan doa yang kemudian menjadi wirid kaum Muslimin di pagi dan sore hari, Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ajzi wal kasl, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa’audzubika min ghalabatiddayni wa qahrirrijaal. Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari rasa gelisah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dan dari lilitan utang serta intimidasi manusia. Doa ini merupakan gambaran yang integral tentang rangkaian penyakit mental pemuda dan manusia pada umumnya, serta efeknya terhadap kehidupan di alam nyata. Pertama ada kegelisahan. Kegelisahan adalah keadaan di mana seseorang bingung, tidak mengerti apa yang harus diperbuat. Kegelisahan ini kemudian berbaur dengan kesedihan. Sedih terhadap keadaan, terhadap kehidupan, kegamangan akan masa depan dan sebagainya. Kegelisahan dan kesedihan yang didramatisir akan melahirkan sikap lemah dan malas. Kelemahan yang berpadu dengan kemalasan adalah apatisme, keengganan untuk berbuat. Besar kritik tapi minim aksi. Apatisme melahirkan orang-orang pengecut dan kikir. Tidak mau berkorban dan tidak berani mengambil resiko. Padahal keberanian mengambil resiko dan kesanggupan untuk berkorban adalah investasi sosial terbesar. Seseorang tidak akan mendapat posisi apa-apa di masyarakat selagi tidak mau berkorban dan mengambil resiko dalam berjuang. Maka efek selanjutnya adalah orang-orang yang seperti ini secara ekonomi dililit utang, dan secara politik diintimidasi dan dikooptasi. Jadi, ada latar psikologis yang panjang yang mendahului fenomena marginalisasi ekonomi politik yang menimpa seseorang. Indonesia sebagai sebuah bangsa, kiranya tengah mengindap penyakit serius ini. Penyakit mental dan efeknya telah bertumpuk-tumpuk menghimpit pundak-pundak anak bangsa. Celakanya lagi, penyakit ini secara akut diderita pula oleh kaum mudanya. Maka sudah seharusnya sebuah terobosan diperjuangkan. Harus ada shock-therapy yang menyadarkan. Sudah seharusnya kata perubahan dikumandangkan. Mungkin sudah saatnya pula, Kebangkitan Nasional kedua dideklarasikan!*** Andree SIP: Ketua Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) UGM-Jogjakarta |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






