| 2006-2008, 1.209 Laporan Ayam Mati Flu Burung |
| Sabtu, 17 Mei 2008 | |
|
KOTA (RP) - Dari data Distan dan Diskes Pekanbaru, selama tahun 2006-2008, dua orang warga Pekanbaru meninggal karena virus flu burung. Dua orang tersebut adalah Any (40), warga Komplek Nangka Sari dan Linda Tiesmeri (44) warga komplek PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) Rumbai. Sementara itu laporan ayam mati yang diterima pada periode yang sebanyak 1.209 ayam mati mendadak di Pekanbaru. Virus tersebut mewabah di Kecamatan Senapelan, Bukit Raya, Marpoyan Damai, Rumbai, Rumbai Pesisir, dan Payung Sekaki. Sedangkan tahun 2006 jumlahnya laporan tercatat sebanyak 1.668 ekor ayam mati mendadak. Menurut Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Pekanbaru Ir Sentot Prayitno, kejadian mewabahnya virus flu burung, sebaiknya menjadi contoh bagi warga lainnya. Sentot berharap warga bisa menghindari pemeliharaan unggas di sekitar perumahan padat penduduk. ‘’Bila tidak ingin terjangkit virus flu burung. Dari semula kami sudah melakukan sosialisasi tentang pencegahan penyakit mematikan ini. Tapi kondisi di lapangan berbeda jauh dari harapan, banyak masyarakat yang tidak peduli,’’ kata Sentot pada Riau Pos. Diungkapkan, pasien suspect flu burung di Pekanbaru selama periode tersebut adalah Vivi Sukowati warga Jalan Limbungan Gg Cemara I Kecamatan Rumbai Pesisir, NI dan Mr perawat Rumah Sakit Awal Bros, Putri Amanda warga Jalan Kartama, Gang Jahe, Kelurahan Maharatu, Marpoyan Damai, Muhammad Hasif Hibatullah (tiga tahun sembilan bulan) warga Jalan Limbungan, Kecamatan Rumbai, Azza Zhafira warga Kelurahan Tangkerang, Kecamatan Bukit Raya dan Kevin Saputra warga Jalan Melati RT 05/RW01, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Sukajadi. ‘’Mereka yang terjangkit flu burung kebanyakan tinggal di rumah padat penduduk, tanah becek, lembab, dan kotor sangat berpotensi mewabahnya virus flu burung. Di lokasi terlihat jelas kondisi itu. Kita berharap warga bisa menghindarilah memelihara ternak di perumahan warga padat penduduk. Jangan sampai virus mematikan ini menjangkiti kita lagi,’’ imbuh dia. Menurut dia, virus flu burung dapat dikatakan wabah yang perlu keseriusan dalam penanganannya, sehingga tidak menelan korban jiwa di Pekanbaru. Setiap puskesmas, kata dia, bisa melakukan antisipasi rapid test diagnosis pasien terjangkit flu burung. Dengan demikian, tingkat kematian pasien flu burung tidak terjadi lagi 2008 ini.(new) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






