| Setiap Satu Juta Lembar Uang Ada Satu Lembar Uang Palsu |
| Jumat, 16 Mei 2008 | |
|
KOTA (RP) — Kendati peredaran uang palsu di Pekanbaru masih belum pada tahap mengkhawatirkan, namun masyarakat harus selalu mewaspadai peredaran uang palsu tersebut. Karena berdasarkan penemuan Bank Indonesia Pekanbaru dari setoran bank umum pada triwulan laporan tercatat sebanyak 18 lembar uang palsu.
‘’Dalam setiap satu juta lembar uang yang masuk ke Bank Indonesia dari Bank Umum, terdapat satu lembar uang palsu. Memang kalau dari perbandingan uang asli dengan uang palsu masih jauh, namun tetap perlu diwaspadai. Jangan-jangan uang kertas yang ada pada kita termasuk salah satu uang palsu tersebut,’’ungkap Peneliti Madya Bank Indonesia Pekanbaru, Muhammad Nur kepada Riau Pos, Kamis (15/5). Menurutnya untuk mengurangi peredaran uang palsu, Kantor Bank Indonesia (KBI) Pekanbaru terus melakukan berbagai upaya diantaranya dengan melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah secara langsung kepada masyarakat. Hal itu perlu digalakkan agar masyarakat benar-benar bisa membedakan dan mengetahui secara pasti bagaimana mengenali uang palsu. ‘’Seperti yang diiklan di TV kunci mengetahui keaslian uang adalah dengan tiga D yakni dilihat, diraba dan diterawang. Dilihat Uang asli memiliki kontras warna yang jelas, uang palsu cenderung buram dan pudar. Diraba uang asli terasa kasar karena memiliki cetak timbul, sementara uang palsu cenderung halus dan licin. Diterawang uang asli memiliki benang pengaman dan gambar tanda air, sementara benang pengaman pada uang palsu nyaris tak ada, apalagi tanda air,’’jelasnya. Mengenai modus peredaran uang palsu oleh pelaku adalah dilakukan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) saat membayar BBM, membeli belanjaan di kedai dimalam hari ataupun memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. ‘’Modus seperti itu memang sering terjadi. Masyarakat diberi uang palsu oleh pelaku dengan berpura-pura membeli barang dikedai, setelah itu dibayar uang palsu kepada pemilik kedai. Setelah berhasil menyebarkan uang palsu tersebut pelaku memburu korban lainnya,’’ kata M Nur. Pria yang ramah ini justru lebih mengingatkan masyarakat terhadap kecanggihan tehnologi pemalsuan uang seperti yang terjadi di Jakarta. Biasanya pelaku merancang dan menciptakan uang palsu dengan tehnologi tinggi, dan hasilnya menyerupai uang asli. ‘’Kalau di Pekanbaru, uang palsu yang kita temukan biasanya kasar dan mudah dibedakan. Kalau sudah memakai teknologi modren, seperti kejadian di Jakarta, uang palsu benar-benar menyerupai uang asli. Kalau tak teliti bisa-bisa malah kita yang menjadi korban dari peredaran uang palsu tersebut,’’ ulasnya. (mar) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|







