|
Kehidupan diawali oleh sebuah kebebasan. Selanjutnya dia diurus dalam pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan berpembawaan ‘mengatur’. Alias setelah kebebasan menjadi warna kehidupan di awal kejadian, maka manusia harus mengatur dan menahan. Selanjutnya, dikenal pula istilah ‘takdir’. Setiap takdir membawa dampak tersendiri bagi kehidupan manusia. Gempa, tsunami, anggaplah takdir, tetapi fatalitas dari takdir itu bisa dijinakkan, bisa diantisipasi dan bisa direduksi dengan ilmu pengetahuan. Membangun rumah vernakuler [kediaman] berpijak pada kearifan lokal, rumah panggung, elastis, juga memperkecil fatalitas takdir, sehingga terhindar dari rempuhan gempa dan tsunami.
Begitu juga jodoh adalah takdir. Jodoh perkawinan yang mempertemukan asam di gunung, garam di laut, ialah takdir. Selanjutnya setelah takdir diterima, maka selanjutnya penerima takdir diberi kekebasan dalam membuat keputusan-keputusan, manajemen rumah tangga demi menjadi rumah tangga yang sakinah, bersuasana home sweet home, bainati jannati. Inilah makna kebebasan yang dilakon manusia dalam menjalani kehidupan dan memperkecil resiko takdir. Jika takdir diterima dengan pasif, maka kebebasan sebagai hak dasar kemanusiaan tidak dimanfaatkan dengan baik oleh manusia. Ketika, banjir bandang, tanah runtuh, angin puting beliung menyambar (entah takdir atau memang petaka yang diawali oleh keserakahan manusia), dia juga menuntut kebebasan improvisasi manusia untuk memperkecil resiko dan fatalitas yang diakibatkan oleh bencana tersebut.
Kehidupan itu berawal dari kebebasan. Tapi tak ada seorang pun bisa bebas menyelenggarakan kehidupan ini secara bebas mutlak. Kebebasan itu bukan dilayari dengan kenderaan filosofi, akan tetapi dilayari dengan nalar dan akal. Kebebasan menggunakan akal untuk memperkecil segala resiko dan fatalitas yang diakibatkan oleh bencana yang dibuat oleh manusia atau alam [takdir]. Banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus adalah fenomena alam dan takdir itu sendiri. Kebebasan akal menuntut untuk menggesa manusia melakukan penanaman, pemeliharaan lingkungan dan alam sekitar untuk menjaga keseimbangan alam. Mengerem pembabatan hutan, melalui regulasi adalah bagian dari kebebasan penggunaan akal untuk memperkecil resiko dan fatalitas yang diakibatkan oleh bencana banjir.
Pemanasan global (global warming) telah menjadi bencana atau takdir yang disuguhkan di depan mata dan hidung kita hari ini. Di sini dituntut kebebasan akal manusia untuk mengatasi atau memperkecil resiko melalui pendekatan kuratif dan preventif yang selama ini bertabiat cenderung mencederai lingkungan. Pembuangan gas emisi, karbon dan semua bentuk oksidan dan racun ke udara tempat habitat manusia bermukim, adalah bagian dari penggunaan kebebasan akal dan ilmu pengetahuan manusia. Pasrah, sebuah konsep yang diterjemahkan secara salah selama ini. Dia langsung disandingkan dengan semangat tawakkal. Padahal tawakkal yang dijinjit dalam kemasan Islam adalah sebuah ikhtiar menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa secara aktif dan kreatif, bukan pasif. Hari ini, seolah pasrah itu adalah tawakkal itu sendiri. Lebih mengedepankan pasifitas, bukan aktivitas. Di sinilah makna puasa sebagai jalan pembebas yang mendorong orang bergerak aktif, tidak pasif, meskipun dalam kondisi perut yang kosong dan tekak yang dahaga.
Puasa menjadi ‘jalan pedang’ yang molek untuk memaknakan kebebasan dan prinsip ‘menahan’ dalam sebuah pilihan pada kebebasan itu sendiri. Menahan diri untuk tidak menebang kayu hutan, beriringan dengan kebijakan menekan ‘global warming’. Demikian seterusnya; menahan diri untuk tidak membuang gas emisi, karbon dan oksidan secara memusnahkan juga menjadi ikutan kebijakan dari kisah pemanfaatan kebebasan berfikir dan akal serta nalar yang dianugerahkan kepada manusia. Puasa sebagai ‘pengikat’ diri untuk tidak melakukan sesuatu yang memusnahkan kehidupan secara semesta. Bahwa kehidupan ini adalah hak dasar [asasi] bagi segala makhluk. Bukan milik manusia semata. Ini adalah juga sebuah kebebasan apresiasi dan improvisasi dalam mengenderai akal dan nalar secara bebas.
Pemanfaatan akal dan nalar secara bebas bagi manusia, bukan berarti demi memusnahkan kehidupan, memusnah keseimbangan alam yang menjadi tempat duduk dan berbaring segala makhluk termasuk manusia. Sejauh ini, manusia mengangap segala khazanah yang ada di hutan rimba sebagai tumbuhan, bukan tanaman. Sebab, sejauh ini, manusia belum berhasil menghasilkan tanaman, karena manusia belum pernah menanam. Bagi mereka yang pernah menanam, akan berat hatinya untuk menebang tanaman. Selama ini, orang ringan tangan untuk menebang hutan, karena dia adalah sehamparan tumbuhan, bukan tanaman. Tumbuhan adalah takdir, dia diturunkan oleh kehendak langit, maka menjadi tumbuhan hutanlah, maka menjadi tumbuhan karanglah di lautan dan samudera. Ini adalah wilayah takdir alamiah (sunatullah). Sesuatu yang tumbuh, mudah ditebang, karena manusia belum mengikatkan emosinya pada tumbuhan. Kapan emosi terikat dan singgah? Ketika dia berubah menjadi tanaman. Di dalam tanaman, ada tersemat kasih sayang manusia. Sebab sejak dari benih, persemaian dan penanaman, manusia sudah mencurahkan emosi dan afeksasinya kepada tanaman itu, sehingga dia besar.
Untuk itulah, isu ‘pemanasan global’ selalu didekatkan dengan isu penanaman, bukan penumbuhan. Manusia harus diajar menanam, agar dia tahu bagaimana sakitnya menebang. Sejauh ini, manusia hanya menyaksikan tumbuhan yang tiada emosi manusia dalam perjalanan panjang pembentukan tumbuhan yang liar di hutan-hutan. Manusia menjadi makhluk galak dan rakus, seolah-olah sedang menyelenggarakan kebebasan yang menjadi sari pati awal dari kehidupan itu. Padalah sebaliknya, manusia sedang menyelenggarakan kebodohan dan kekufurannya, ketika mereka tidak memanfaatkan akal dan nalar secara bebas untuk memisahkan semangat yang terbawa di dalam sebuah tumbuhan dan semangat yang tersemat dalam sekuntum tanaman.
Menanam adalah bagian dari penciptaan. Berjenis-jenis kayu kayan di hutan bakal musnah dan hilang dari peta ingatan manusia. Namun dia bisa hadir dan bertahan ketika manusia melakukan penanaman ulang, pembenihan dan menyelenggarakan kultur jaringan yang kontinu dari segala jenis tanaman yang terancam punah. Ini adalah juga bagian dari semangat kebebasan yang dibawa oleh manusia. Bentuk-bentuk seperti inilah yang disebut dalam ilmu pengetahuan sebagai bagian dari pilihan-pilihan keputusan yang harus dijatuhkan oleh manusia, demi memelihara kebebasan yang telah menjadi hak inayah bagi kehidupan itu sendiri.
Semuanya tergantung dari cara kita menerjemah kebebasan untuk berbuat. Kebebasan sebagai alat untuk menyelamatkan kehidupan makhluk muka bumi. Puasa, sebuah cara bebas untuk menerjemahkan kebebasan yang bersandar pada prinsip menahan. Tuhan berkata: “semua ibadah yang dilakukan selain puasa, adalah untuk manusia. Puasa adalah ibadah untuk Ku”. Bahwa kebebasan yang menjadi ‘merek dagang” awal kehidupan manusia, sesungguhnya bisa dilayari dengan prinsip yang berpembawaan serba menahan dalam kebebasan. Dan, puasa menitikkan air bening itu di depan mata.*** |