• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Kamis, 28 Agustus 2008 || 26 Syakban 1429 Hijriah
Total SportPerang Saudara

Rabu, 27 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSoal Mutasi Pejabat, Gubri Bisa Di-PTUN-kan

Rabu, 27 Agustus 2008

article thumbnail

Minyak, "Orang Minyak" dan Budaya Teror
Minggu, 11 Mei 2008
''Hii... antara geli dan ngeri aku mendengarkan beberapa isu di tengah-tengah masyarakat Riau saat ini. Anehnya, ini terjadi bersamaan dengan Presiden SBY memberi sinyal harga BBM akan naik, dan mejelang Pilgubri. Atau hanya kebetulan belaka,'' begitu isi e-mail mengawali cerita panjang saya dengan Son Haji, karib lama ketika sama-sama menuntut ilmu di IPB Bogor. Saya yakinkan dia kembali —kebetulan Son Haji tidak pernah ke Bumi Lancang Kuning. Tahu soal Riau dari referensi, cerita yang mengalir dari e-mail kami— bahwa Riau yang kaya minyak atas dan bawah itu, kini tidak seperti yang dia banyangkan. Masyarakat di sini masih terpengaruh dengan isu-isu tak rasional, di saat masyarakat ini digiring untuk rasional dalam mengambil sikap, yaitu rasional dalam menilai kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM dan rasional pula dalam menentukan pilihan dalam Pemilihan Gubernur Riau secara langsung September mendatang. Agaknya betul analisa yang disampaikan sohib ini pekan lalu, bahwa dalam pesta demokrasi dan ekonomi yang semakin menghimpit tidak jarang terjadi ketidakseimbangan di masyarakat. Contohnya, masyarakat memilih pemimpinnya karena fanatisme pribadi, popularitas. Tidak mengedepankan rasionalitas program, dan track record calon. Dan jika kalah, dan tak berdaya, sangat mudah terimbas budaya teror. ‘’Baru saja pemerintah mengumumkan akan menaikkan harga BBM, ada saja orang mengambil kesempatan untuk menaikkan harga, menimbun dan lainnya. Semua itu muncul karena rasa takut telah meneror masyarakat,’’ kata Son Haji dalam balasan e-mail-nya. Agaknya, senada dengan dosen kami di IPB, Pak Didin S Damanhuri. Dikatakannya, jika masyarakat masih bereaksi dengan isu tak rasional, mengindikasikan masyarakat belum seimbang. Atau masih ada yang kurang dalam komunitas itu. Padahal, beberapa bulan lalu saya katakan kepadanya, jika harga minyak dunia naik hingga melebihi 100 dolar AS per barel, daerah ini yang paling enak, karena keuntungan dari produksi minyak akan berlipat ganda. Artinya, ketika itu juga orang-orang Riau ini bisa menyembangkan senyum. Tapi, entah logika siapa yang salah, asumsi sederhana itu tidak berlaku. ‘’Ah, Son ternyata di sini sama saja dengan di Bogor dan Jakarta tempat tiap hari kami melangkah. Semua ini berawal dari masalah minyak, kan?’’ kata saya untuk menganulir kembali pikirannya tentang Riau yang makmur ini. Okelah, soal minyak memang tidak pernah tuntas saya bahas dengan karib ini. Tapi, seperti awal kutipan kalimat di atas, sama dengan isu ‘’orang minyak’’ yang pernah berkembang saat saya menghabiskan masa kecil di Tanjungbalai Karimun, Kepri. Kini muncul lagi dalam bentuk yang mirip. ‘’Son, kamu harus camkan, orang minyak yang kumaksud bukan seperti cerita sinetron itu, yang menggambarkan orang kaya, tapi bisa dibilang musuh masyarakat, tukang teror dan sosok yang menakutkan. Ingat itu ya, supaya diskusi kita ini jelas,’’ kata saya memberi pengertian. Meski hingga sudah besar, tidak pernah berjumpa dengan ‘’orang minyak’’, namun ketika itu, saya merasakan ‘’orang minyak’’ cukup menakutkan, kerjanya membunuh orang, merampok dan menebar teror serta kegiatan negatif lainnya. Umumnya, kata orang tua-tua dulu, isu itu dibuat untuk menakuti anak-anak supaya tidak keluar bermain saat Magrib dan malam tiba, atau agar anak-anak tidak degil. Mirip, kini penyakit psikologis menimpa warga. Pekan ini warga di sini diresahkan dengan isu SMS Maut, SMS Merah atau SMS Santet. Ada satu lagi, isu kunci jawaban Ujian Naional juga sudah menjadi teror yang berserakan di WC sekolah. Lalu kalau begitu kenyataannya, mempercayai isu itu, senang melihat orang cemas, ikut-ikut pula mengambil keuntungan dari kisruh harga BBM akan dinaikkan, menjelek-jelekkan calon lain agar tak dipilih dan yang sengaja menciptakan teror, bisa diindikasikan sebagai ‘’orang minyak’’. Atau kita semua dianggap masih anak kecil. Maukah kamu dikatakan sebagai ‘’Orang Minyak’’, Son?*** Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org