• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Kamis, 28 Agustus 2008 || 26 Syakban 1429 Hijriah
Total SportPerang Saudara

Rabu, 27 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSoal Mutasi Pejabat, Gubri Bisa Di-PTUN-kan

Rabu, 27 Agustus 2008

article thumbnail

Ini Panggilan Mendalam
Minggu, 11 Mei 2008
Riky Hariansyah ST, Ketua Dewan Tanfidz DPW PKB Riau Namanya baru mencuat di penghujung Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswillub) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Riau yang berlangsung akhir April lalu. Fenomenalnya, pria yang belum genap berusia 30 tahun ini terpilih secara aklamasi untuk menjadi Ketua Dewan Tanfidz DPW PKB Riau dalam Muswillub tersebut. Meski tergolong masih cukup muda, ayah dua anak ini optimis bisa membawa PKB Riau ke arah yang lebih baik. Padahal PKB sendiri saat ini sedang terjadi perpecahan di tingkat pusat yang tentunya sedikit banyaknya akan berimbas ke daerah nantinya. Pelaksanaan Muswillub di Riau merupakan salah satu indikasinya. Bagaimana Riky Hariansyah menahkodai PKB yang untuk kesekian kalinya dilanda konflik internal ini? Wartawan Riau Pos Firman Agus berkesempatan mewawancarai pria yang sebelumnya adalah Ketua Dewan Tanfidz DPC PKB Siak ini, Senin (5/5). Berikut petikannya; Kemunculan Anda sebagai salah seorang calon Ketua Dewan Tanfidz di Muswillub PKB Riau cukup mengejutkan, setelah sebelumnya Anda dikenal sebagai Ketua DPC PKB Siak. Bisa dijelaskan sehingga memutuskan maju dan terpilih secara aklamasi di Muswillub tersebut? Yang jelas saya secara pribadi di PKB sejak tahun 2003 dan di DPW (Dewan Pimpinan Wilayah, red) sendiri sebagai wakil bendahara. Kemudian melalui proses juga duduk di DPC Siak melalui Muscablub tahun 2005 dan dengan pengalaman juga pernah sebagai calon legislatif. Hasil Muswil tahun 2006 saya dipercaya sebagai ketua II oleh saudara Rizal Akbar pada saat itu. Ya, cukup intens mengikuti perkembangan di organisasi politik Partai Kebangkitan Bangsa ini. Terpilihnya saya sebagai Ketua DPW PKB ini, sebenarnya juga adalah refleksi dan dorongan keinginan yang kuat dari komunitas PKB se-Riau yang mengharapkan adanya konsolidasi partai secara total. Lalu, mereka melakukan pertemuan di Hotel Grand Zuri. Waktu itu, dihadiri kurang lebih 10 DPC (Dewan Pimpinan Cabang, red), yang terwakilkan dari kepengurusan DPC-DPC. Pertemuan itu menghasilkan surat pernyataan, yang isinya mosi tidak percaya terhadap saudara Ketua Rizal Akbar, yang dianggap tidak mampu melakukan konsolidasi terhadap DPC-DPC. Kemudian ada beberapa faktor yang mendukung juga, yakni saudara Rizal diyakini telah melanggar AD/ART. Sehingga muncul keinginan dari kawan-kawan untuk melaksanakan Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswillub, red). Proses demi proses, dilewati. Sehingga sampailah kita melakukan rapat pimpinan wilayah (Rapimwil, red), yang juga akhirnya merekomendasikan perlunya musyawarah luar biasa. Kemudian pada tanggal 30 April ditetapkan untuk mengadakan Musyawarah Wilayah Luar Biasa. Dalam proses itu kita melakukan koordinasi dengan kawan-kawan di DPC. Harus dicarikan alternatif untuk pengganti Rizal Akbar. Dalam beberapa pembicaraan dicarikan juga kesediaan kawan-kawan di DPC. Bahkan bukan saja dari kawan DPC, namun juga dari kawan-kawan di pengurus wilayah, untuk mengisi posisi Ketua Dewan Tanfidz. Lalu, muncul beberapa nama, termasuk saya. Oh ya, nama yang disebut-sebut itu adalah Pak Yulios yang saat ini duduk di DPRD Riau dan Bapak Yusuf Sikumbang, Wakil Ketua DPW PKB. Dalam proses itu, akhirnya Pak Yusuf menyatakan belum bersedia. Maka, tinggallah dua nama. Dan menjelang pemilihan, muncul keinginan yang kuat dari komunitas PKB untuk menyepakati perlunya sebuah kebersamaan dan satu tekad di tubuh PKB, sehingga tidak muncul konflik-konflik lain. Pelaksanaan Muswillub sendiri adalah setelah melewati sebuah proses konflik. Jika, kemudian untuk memilih ketua pun harus konflik lagi, maka itu tidak akan mencerminkan sesuatu yang baik di internal partai dan masyarakat luas. Jadi kita melakukan pembicaraan. Katakanlah semacam bargaining begitu. Akhirnya muncul kesediaan Pak Yulios —sebagai senior, bahwa beliau menyerahkan kepada yang muda. Dalam hal itu kawan-kawan sudah menyepakati, yang dihadiri lebih kurang delapan DPC saat proses Muswillub itu. Maka ditetapkanlah saya sebagai Ketua Dewan Tanfiz DPW PKB Riau dan KH Abdurrahman Kaharuddin sebagai Ketua Dewan Syuro. Memutuskan untuk ikut merupakan sebuah keputusan yang berani dan berat di tengah kondisi PKB saat ini, bagaimana menurut Anda? Betul. Memang ada beberapa faktor dan pertimbangan. Pertama, yang jelas kita ingin membesarkan partai ini. Karena kita melihat potensi PKB ke depan cukup baik. Karena saya juga mengalaminya sendiri. Keinginan besar dan bukan saja sebagai orang muda, karena banyak sebenarnya kader-kader yang lebih senior dari saya. Tapi memang ini sebuah panggilan yang cukup mendalam bagi saya, untuk maju sebagai Ketua DPW PKB Riau. Saya sangat menyadari bahwa banyak yang memiliki kemampuan untuk bersama-sama di PKB ini. Tapi, keyakinan itu muncul bahwa akan lebih baik ada sinergi antara orang muda yang enerjik dan kreatif, dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dalam membesarkan partai ini. Sesungguhnya, ada keinginan yang kuat untuk membesarkan partai ini bersama-sama kader PKB lainnya. Selama ini PKB identik dengan konflik internal. Bagaimana Anda melakukan antisipasi ke depannya? Kalau saya melihat, ini sebagai fenomena politik yang biasa terjadi di partai. Tapi dengan terjadinya beberapa konflik ini, paling tidak bisa membawa PKB ini kepada hal yang lebih dewasa dalam menghadapai sesuatu hal. Ada positif dan negatifnya, memang. Dari segi negatif, jelas memberikan dampak membingungkan kepada konstituen kita. Tapi kita lebih condong menangkap dalam proses konflik yang terjadi ini, kita anggap sebuah proses pendewasaan agar bisa lebih mencermati suatu hal dengan lebih baik untuk partai PKB ini ke depan. Rentang Pemilu 2009 tinggal satu tahun. Apa yang bisa Anda lakukan dalam rentang waktu yang cukup singkat itu? Fakta, keadaan ini adalah sebuah kondisi emergency. Perlu langkah-langkah cepat dan akurat. 5 April 2009 Pemilu. Maka waktu yang efektif, kurang lebih satu tahun. Memang ini bukan suatu kerja yang ringan. Kita akan memaksimalkan rentang waktu satu tahun untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dan problem kita. Yang paling penting itu adalah menyolidkan kembali kepengurusan internal, hingga ke ranting, dan cabang. Kemudian ke tingkat desa, kecamatan dan DPC. Selama ini kita melihat ketergantungan kepada pengurus wilayah itu cukup besar. Kita berusaha ada suatu kemandirian di tingkat DPC untuk bisa mengoordinasikan hingga ke tingkat desa dan kecamatan. Ini tidak lepas dari monitoring pengurus wilayah. Saya berusaha ke depan di internal solid. Setelah itu baru kita bisa menentukan langkah yang mendasar untuk proses Pemilu 2009. Mungkin saya juga akan menargetkan, setelah pelantikan kurang lebih dalam waktu satu bulan harus melakukan konsolidasi besar-besaran di tubuh PKB mulai dari tingkah anak ranting, ranting anak cabang, pimpinan kecamatan, hingga cabang. Sehingga bila dalam tubuh itu sudah solid, kita akan memiliki perspektif, visi dan misi yang sama dalam mengembangkan partai ini. Saya yakin untuk pergerakan di tingkat konstituen di PKB tidak akan terkendala. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan. Ini didasari hanya sebuah keinginan. Kita berkeinginan untuk membesarkan sesuatu itu, bisa akan tercapai dengan lebih baik. Dalam proses konsolidasi nanti bagaimana dengan ‘’lawan-lawan’’ politik Anda? Ada beberapa hal penting dalam proses Muswillub itu yang menghasilkan rekomendasi-rekomendasi tegas dan harus dilakukan. Pertama kita diamanahkan untuk mencari kader-kader yang memiliki loyalitas yang tinggi dan memiliki sikap dan militansi. Dalam kepengurusan nanti akan banyak perubahan-perubahan. Secara ekstrem, kader yang tidak loyal akan dilakukan tindakan tegas. Bahkan kalau ada DPC yang tidak solid dengan kita, akan dilakukan tindakan pembekuan bahkan hingga pemecatan dari kepengurusan PKB. Ini salah satu rekomendasi dan amanah. Jadi kita berusaha untuk tidak ada halangan lagi untuk mengoordinasikan dengan kawan-kawan DPC. Musuh politik itu hal yang biasa, tapi kita hanya berusaha untuk menyikapi agar hal-hal yang seperti itu diminimalisir. Fenomena banyak orang muda tampil di kancah perpolitikan, khususnya di Riau saat ini, Anda melihatnya bagaimana? Sebenarnya fenomena orang muda di politik sesuatu hal yang wajar. Dan kemunculannya itu bukanlah hari ini saja. Kita melihat dari sosok Bang Lukman Edi (Meneg PDT, red) sendiri, dimana kader muda itu mampu berkiprah di tingkat nasional. Itu kan membuktikan bahwa orang muda itu sudah terbukti memiliki eksistensi yang baik dan membawa ke arah yang lebih baik. Mungkin dari sisi pemikiran, orang muda lebih mengarah ke hal yang praktis bagaimana sesuatu hal itu bisa dicapai dan dilaksanakan. Jadi saya yakin sekali, bahwa bukan saja hari ini saja orang muda, sebelumnya juga sudah muncul. Contoh di Ketua Umum DPP sendiri, Muhaimin Iskandar juga masih cukup muda. Dan banyak di pengurusan DPP sendiri terdapat kader-kader muda. Di DPW yang tersebar di Indonesia juga banyak kader-kader muda. Selain itu, kader muda itu sudah terbukti memiliki eksistensi yang baik. Kalau Anda memandang Riau ke depan dengan orang mudanya bagaimana? Banyak orang muda di Riau ini yang memiliki kemampuan dan potensi berkiprah di dunia politik. Saya fikir hal yang lumrah karena kita berkiblat kepada kemampuan. Kalau sudah merasa mampu, saya fikir kenapa tidak untuk eksis di Riau ini. Konflik di tubuh PKB di tingkat pusat ini serius dan tentunya akan sampai ke daerah dan ‘’tegangan tinggi’’ tentunya. Seperti apa nantinya Anda menghadapinya atau apa yang telah dan akan Anda lakukan? Saya pikir kalau pengaruh terhadap konstituen itu pasti sangat berpengaruh. Memang perlu langkah strategis untuk memberikan pemahaman dan pengertian kepada konstituen. Kita melihat konflik internal, di tingkat kecamatan sudah cukup mempengaruhi. Bahkan sudah ada asumsi-asumsi bahwa PKB ini adalah partai konflik berkepanjangan. Nah, kita berusaha memperbaiki sistem. Itulah kita munculkan kader-kader muda yang mampu memberikan penjelasan terhadap konstituen kita, sesungguhnya konflik yang terjadi ini merupakan konflik yang kita anggap proses pendewasaan tadi. Kedua, kita harus memandang konflik ini dari sisi faktornya. Kenapa harus terjadi konflik? Ternyata konflik yang terjadi ini baik itu dari tingkat DPP hingga wilayah itu, hanya faktor kepentingan. Ada kepentingan yang cukup besar untuk menguasai partai. Apalagi PKB yang merupakan pemenang nomor tiga pada Pemilu 2004. Ternyata konflik itu dipicu, dipengaruhi oleh orang-orang yang berkeinginan dan merasa memiliki hak menguasai di tubuh PKB itu sendiri. Ini membuktikan segelintir orang ingin menguasai suatu kedudukan di PKB. Itu masalahnya. Tapi, PKB ini adalah partai besar dan memiliki pengaruh yang luar biasa di tingkat nasional. Karenanya, kita harus mampu memberikan penjelasan bahwa konflik yang terjadi hari ini bukan semata-mata konflik untuk memecah-belah kubu A dan kubu B. Ini hanya konflik segelintir orang yang memaksakan suatu persoalan agar dia bisa mengusai partai ini. Sehingga mengarah kepada hal yang tidak baik. Ini terjadi di DPP. Mudah-mudahan konflik ini cepat selesai dan tampaknya sudah mengarah kepada penyelesaian dengan dijalankannya Muktamar Luar Biasa, mudah-mudahan hasilnya positif dan memberikan jawaban yang pasti bagi kostituen bahwa sesungguhnya beginilah hasil muktamar itu dan beginilah konflik yang terjadi di internal itu akan terjawab. Begitu juga kita di DPW, Muswillub ini juga dipicu oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan. Tapi mudah-mudahan kita mampu memberikan penjelasan-penjelasan yang logis kepada konstituen. Sekarang di pusat kan ada dua DPP, kemungkinan di daerah bagaimana? Beberapa DPW seperti di Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi bahkan di Sumatera, umumnya tak ada masalah. Hanya di Riau satu-satunya DPW yang melakukan Muswillub pascakonflik yang terjadi di DPP itu. Ini terjadi karena masing-masing memiliki pandangan dan perspektif politik yang berbeda dan memiliki opini yang berbeda-beda. Tapi kita yakin Muswillub itu dibangun bukan hanya semata-mata mosi tidak percaya. Tapi lebih juga mengarah kepada sesuatu hal yang lebih besar terjadi di DPP. Tapi jelas, dalam muktamar itu hadir delapan DPC yang mendukung Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Dewan Tanfidz DPP PKB. Hadir delapan, berarti ada tiga yang tidak hadir. Jadi bagaimana dengan status ketiganya? Menurut informasi yang kita terima, mereka ikut Muktamar Luar Biasa di Parung, Bogor (versi Gus Dur, red). Yakni Indragiri Hulu, Bengkalis dan Dumai. Sebagai Ketua DPW yang baru, bagaimana dengan status ketiganya? Kalau melihat dari situasi hari ini, kita juga akan melihat rekomendasi dari DPP. Yang jelas kalau Muhaimin menang pasti ada tindakan yang bukan hanya sekadar sanksi. Tapi bahkan bisa memicu kepada pembekuan DPC-DPC itu sendiri. Sebenarnya Anda siap untuk menghadapi konflik itu sendiri? Tentu harus siap. Hingga saat ini mengenai legalitas keduanya, kan belum pasti juga sebagai peserta Pemilu hingga batas waktu yang ditentukan Depkumham pada tanggal 12 Mei nanti, bagaimana menurut Anda? Belum. Tapi saya sebagai Ketua DPW PKB Riau versi Muhaimin katakanlah seperti itu, sikap yang optimis bahwa Muhaimin bersama kawan-kawan lain di DPP itu akan membawa nahkoda PKB ke proses Pemilu 2009. Kapan kepengurusan Anda dilantik? Kita menunggu SK, baru kita melakukan persiapan pelantikan. Bagaimana dengan target Pilgubri hingga Pemilu 2009? Untuk Pilgubri, pada saat Muswillub itu juga dibarengi dengan Muskit atau Musyawarah Kebangkitan. Dalam Muskit yang dihadiri delapan DPC itu sudah ada keputusan mendukung nama yakni mendukung Bapak HM Rusli Zainal sebagai calon Gubernur Riau 2008-2013 dari PKB yang hari ini versinya Muhaimin. Kita telah melalui mekanisme Muskit itu. Kerja yang paling dekat saat ini apa? Yang pasti kita membentuk kepengurusan. Badan formatur akan bekerja membentuk kepengurusan yang baru kemudian memroses pelantikan. Pascapelantikan kita akan melakukan konsolidasi besar-besaran di DPC untuk merapatkan barisan kembali dan melupakan segala persoalan yang terjadi di tingkat DPW ini. Keputusan Anda terjun sebagai Ketua DPW PKB Riau tentu dengan konsekuensi akan tercurahnya waktu Anda lebih banyak untuk mengurus partai sedangkan Anda juga dikenal sebagai pengusaha muda. Bagaimana dengan keluarga Anda sendiri? Kalau dengan keluarga, jelas karena keputusan yang diambil ini harus dengan restu keluarga. Karena ini akan memakan waktu yang luar biasa. Konsentrasi sudah penuh ke partai ini dan tidak bisa disia-siakan karena kondisi hari ini yang cukup emergency. Mudah-mudahan keluarga bisa pengertianlah untuk menjalankan amanah ini. Anda di PKB, sedangkan orang tua saudara Anda Arwin AS adalah Bupati Siak. Bupati Siak itu merupakan salah satu orang Golkar meski tidak di Golkar lagi. Apakah Anda terjun ini sudah mendapat restu dari keluarga besar atau malah dilarang? Tidaklah. Yang jelas setelah adanya wacana Muswillub ini, setelah melalui pemikiran yang jernih untuk maju, saya tidak lepas dari meminta restu beliau. Hari ini saya katakan secara jujur bahwa penasehat politik atau orang yang membesarkan saya secara pemikiran politik adalah beliau. Tentu saya meminta restu dari beliau. Dan beliau sangat merestui dan mendukung saya berkiprah di PKB. Sesungguhnya beliau sudah tahu lama saya berkiprah di PKB. Mengenai proses mendudukkan sebagai Ketua Dewan Tanfidz ini juga sudah restu beliau dan itu harus. Tentu beliau mendukung dengan hal itu. Persoalan beliau dikatakan orang Golkar atau tidak, inikan keputusan politik. Keputusan anaknya mungkin dalam hal ini bisa berkiprah di partai politik lain sah-sah saja. Selama ini beliau kan sudah tahu bahwa saya besar di PKB, bukan baru-baru ini. Ada pesan khusus saat Anda mencalonkan diri menjadi Ketua DPW PKB? Pesan khususnya, yang pasti pertanyaan yang sederhana itu adalah mampukah membawa PKB ini? Inilah yang paling penting. Saya jawab waktu itu kalau sudah siap berarti kan sudah punya kemampuan. Karena ini kan bukan bersendirian, ada kawan-kawan lain. Kalau pesan khusus, amanah yang paling besar itu jalankanlah partai ini dengan sebaik-baiknya. PKB adalah salah satu partai yang selalu menempatkan kekuatan individu. Tapi Anda agak mengedepankan kekuatan kolektif, ini kan fenomena baru? Kalau saya memandangnya seperti ini. Yang terjadi di tingkat DPP sudah membuktikan dengan Gus Dur melakukan pemecatan terhadap Muhaimin. Nah dari salah satu fenomena itu kan sesuatu hal yang tidak baik. Memang bukan hanya pandangan politik kita, namun ini juga telah diatur dalam AD/ART partai bahwa kepemimpinan PKB itu secara kolektif, bukan pribadi. Nah, ternyata hari ini konflik yang terjadi pemicunya itu. Bahwa seorang Ketua Dewan Syuro telah melakukan kekuatannya yang tanpa batas yakni memecat Ketua Dewan Tanfidz yang legitimasinya masih diakui oleh Muktamar Semarang. Ternyata kan, justru kekuatan perseorangan itu yang menghancurkan partai itu sendiri. Justru saya berusaha ke depan dan hasil rekomendasi dari muktamar itu ada hal yang baru untuk memperkecil ruang perseorangan untuk melakukan yang lebih besar. Ada Dewan Mustasyar sebagai dewan penasehat Dewan Syuro dan Dewan Tanfidz. Sehingga memang kekuatan di tingkat elit itu bukan hanya perseorangan juga di Dewan Tanfidz. Di DPW juga akan dibentuk Dewan Mustasyar itu? Hasil muktamar, itu di tingkat DPP saja.(amf)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org