Sabtu, 11 Oktober 2008 || 10 Syawal 1429 Hijriah
Total SportSony, Kido dan Nova Melaju ke Final

Minggu, 28 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaIdul Fitri, LE Undang Rakyat Riau

Minggu, 28 September 2008

article thumbnail

Drs H Isjoni Ishak MSi, Penulis Pemegang Rekor Muri
Minggu, 06 April 2008
Saya Selalu Niatkan Sebagai Amal Jariyah
DIA adalah sederet dari segelintir nama tokoh Riau yang besar karena goresan penanya. Sebagai seorang pendidik dan dosen, H Isjoni Ishak sangat peka terhadap segala hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Kepekaannya inilah yang kemudian menumbuhkan semangat yang meledak-ledak untuk menulis dan terus menulis di sela-sela kesibukannya. Lalu, dia pun menyuarakan berbagai pikiran bernasnya melalui sejumlah tulisan. Satu di antaranya rubrik ‘’Teroka’’ setiap Ahad di Riau Pos yang diasuhnya sejak 2002 hingga sekarang. Teroka menjadi inspirasi utama bagi Isjoni untuk terus menebarkan karya. Hasilnya, kini sebagian besar buah karya Isjoni itu menjadi buku rujukan bagi kalangan mahasiswa jurusan Kependidikan dan Ilmu Keguruan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Akhir Maret 2008 lalu, wartawan Riau Pos Ilham Muhammad Yasir dan Firman Agus berkesempatan melakukan temu-bual di ruang kerja dosen yang tengah menyelesaikan program doktoral di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini. Pria kelahiran Rengat, 12 Desember 1959 lalu ini kebetulan baru saja menorehkan sukses di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai Dosen Produktif Menulis 66 Buah Judul Buku dalam Jangka Waktu 5 Tahun. Dia pun berbagi cerita seputar perjalanan hidupnya menoreh sukses yang jarang-jarang bisa dilakukan oleh semua orang itu.  

Buku perdana Isjoni terinspirasi dari sosok sang guru yaitu ayahnya sendiri, H Ishak Syah; Riwayat Hidup dan Perjuangannya (2002). H Ishak Syah adalah sosok pendidik yang banyak bergelimang perjuangan di masa-masa pendudukan Belanda dan Jepang. Dia orang pertama mendirikan Sekolah Dasar (SD) 01 di Desa Mumpa Kecamatan Tempuling, Inhil (1944). Selain guru dan tokoh agama, H Ishak Syah juga dipercayakan sebagai Wali Negeri (Kepala Desa)  1944-1965. Sejak buku pertamanya itu, sejumlah judul buku yang ditulis Isjoni bagai mengalir deras seperti air. Berturut-turut karya buku yang dihasilkannya setelah buku H Ishak Syah, Riwayat Hidup dan Perjuangannya (Unri Press) adalah seperti Orang Melayu, Sejarah, Sistem, Norma dan Nilai (Unri Press), Masyarakat dan Masalah Sosial (Unri Press), Mengajar Efektif (Unri Press) dan banyak lagi. Buku-buku itu merupakan terbitan 2002, merupakan awal-awal dia mulai aktif mengasuh rubrik ‘’Teroka’’ di Riau Pos. Produktifitasnya menulis terus meningkat seiring dengan sejumlah kesibukannya sebagai Dekan Fakultas Kependidikan dan Ilmu Keguruan (FKIP) Unri dan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Riau serta Ketua Lembaga Sertifikasi Guru Riau.

‘’Tiada hari tanpa menulis buat saya,’’ ungkap Isjoni. Menurut suami dari Dra Hj Rita Amaliya ini, komputer jinjingnya (laptop) nyaris hidup terus selama 24 jam. ‘’Di mana ada kesempatan, ada ide saya langsung tulis,’’ aku peraih penghargaan Penulis Buku Produktif dan Kreatif dari Forum Lingkar Pena Pusat (FLPP) Jakarta (2008) ini. Isjoni pun meminta izin membuat perumpamaan, komputer jinjingnya seperti isteri keduanya. Kemana pun dia pergi selalu dibawanya. Di kantor, di rumah, maupun saat berdinas ke luar kota tak ada waktu yang dibuangnya begitu saja untuk tidak menulis. ‘’Istirahat tidur sehari cukup 4 jam,’’ terang Isjoni yang selalu berusaha mengemas waktu yang dimilikinya sebaik mungkin.

Berkat kebijakannya menghargai waktu, dalam tempo 5 tahun terakhir lahirlah 66 buah judul buku. Sebagian besar buku tentang dunia pendidikan. Sebuah kerja keras, yang jarang bisa dilakukan oleh semua kalangan penulis. ‘’Saya sadari betul, ini sebagai sebuah anugerah Allah yang harus saya syukuri,’’ kata Isjoni.

Saat ini, apabila dikumpulkan rata-rata dalam setahunnya Isjoni telah menulis 13 buah judul buku. Jika awalnya buku-bukunya diterbitkan oleh penerbit lokal di lingkungan almamater, Unri Press, sekarang berbagai penerbit nasional ikut menerbitkannya. Otomatis buku-buku hasil karya Isjoni kini banyak dijual diberbagai toko buku di Indonesia. Di antara penerbit nasional yang banyak menerbitkan buku-bukunya seperti Gurukah yang Dipersalahkan? (Pustaka Pelajar Yogyakarta), Pendidikan Sebagai Investasi Masa Depan (Yayasan Obor Jakarta), Pembelajaran Sejarah di Satuan Pendidikan (Alpabeta Bandung), Dilema Guru Ketika Pengabdian Menuai Kritik (Al Falah Bandung) dan sebagainya.

Jangan Persalahkan Guru

Kecintaan Isjoni terhadap dunia pendidikan tak hanya dibuktikan melalui karya-karya bukunya tersebut. Tapi dalam sikap dan pandangan ayah dari Muhammad Yogi Riyantama Isjoni, Muhammad Yoga Riyananda Isjoni dan Yola Syakirah Riyanadia Isjoni ini, profesi guru merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Sebagai orang yang diberikan kepercayaan memimpin organisasi guru (PGRI), dia punya kewajiban melindungi dan membela nasib para guru. Isjoni merupakan orang yang tak setuju dengan pernyataan bahwa mutu pendidikan menurun karena guru. ‘’Banyak faktor penyebabnya,’’ bebernya memberikan suatu sanggahan terhadap kekeliruan dalam memandang kiprah guru saat ini.

Menurutnya, guru telah banyak berbuat untuk mencerdaskan anak negeri ini. Mereka sudah bertungkus-lumus untuk memberikan yang terbaik terhadap para anak bangsa. Tapi kenapa guru ini yang terus disalahkan? Padahal selama ini mereka menerima gaji dengan apa adanya. Perenungan-perenungan Isjoni dalam menjawab fenomena yang muncul seperti itu akhirnya membuahkan buku Gurukah yang Dipersalahkan? (2006) Satu di antara banyak buku yang ditulisnya menjadi salah satu karya kebanggaannya, selain buku H Ishak Syah, Riwayat Hidup dan Perjuangannya.  

Di sanalah dia menuliskan tentang berbagai persoalan yang dihadapi dunia pendidikan di tanah air. Dia mengajak pembaca menakar porsi guru di tengah dunia pendidikan kita. Dia mengungkapkan janganlah guru yang dipersalahkan juga, tapi banyak faktor yang menyebabkan mutu pendidikan itu rendah. Menurutnya, banyak sekali faktor yang terlibat di dalamnya. Pemerintah juga ikut bersalah. Karena apa? Karena kurikulum pendidikan selalu ini selalu berubah-ubah, sarana dan prasarana juga tidak memadai, jumlah guru kurang, kualifkasi pendidikan guru jauh dari memenuhi  standar, laboratorium yang tak memadai, perpustakaan juga mengalami kondisi serupa. Belum lagi anggaran dunia pendidikan yang masih jauh dari cukup, ditopang lagi oleh prilaku-prilaku aparatur pendidikan kita yang kurang memberikan dukungan dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Tugas guru di sekolah, dia akan mengajar anak didik, dan tidak pernah guru menyampaikan yang salah kepada anak didiknya, dan tidak pernah sepatah katapun dari guru itu membilang, ‘’Kau mencuri nak!’’, atau ‘’Kau tidak usah belajar nak!’’. Tapi guru akan memberikan yang terbaik dan akan memberikan bimbingan kepada anak didiknya untuk terus belajar. Dengan adanya Undang-Undang Guru menjadi suatu pemicu, suatu langkah, suatu alternatif untuk pemerintah lebih memperhatikan kondisi guru. Riau, menurut Isjoni, sudah mulai membuat dobrakan yang lebih sedikit maju. Riau telah melakukan sesuatu yang tepat dan sepantasnya. Dengan persentase anggaran 20 persen dari APBD Riau untuk bidang pendidikan, merupakan suatu langkah maju. Sekarang melihat kemajuan suatu negara itu sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan, dan sangat ditentukan juga oleh kesejahteraan guru. Kalau guru sejahtera maka akan berdampak terhadap mutu pendidikan dan pembelajarannya, di samping juga akan berdampak terhadap mutu dan hasil anak didiknya.

‘’Kita semua salah,’’ tandas Isjoni. Jangan kita salahkan orang lain, tapi kita tidak mau mengakui kesalahan diri sendiri. Guru salah ya ada salahnya. Guru juga ada salah tapi bukan semata-mata guru itu salah, tapi masih banyak guru yang memiliki dedikasi tinggi dengan pendapatan apa adanya. Mereka sudah berbuat banyak untuk anak didiknya. Buku itu yang berkesan di hati Isjoni, di samping karya-karya bukunya yang lain.

Menulis Sebagai Amal Jariah

Bagi Isjoni menulis ternyata menimbulkan suatu keasyikan tersendiri bagi dalam dirinya. Bahkan mampu memuaskan dahaga batinnya. Sebab menurut dia, menulis dapat mengeluarkan segala uneg-uneg yang terpendam dibenak kepalanya. ‘’Apa yang saya tulis, selalu diniatkan sebagai amal jariah. Kelak ketika saya meninggal, amal itu bisa terus mengalir,’’ doa dosen yang pernah memperoleh anugerah Penulis Produktif dan Inovatif dari Gubernur Riau dan Penulis Produktif Bidang Pendidikan dari Penerbit PT Pustaka Pelajar Yogyakarta. Untuk itu menurut Isjoni, sebagai anak negeri karya yang dihasilkannya itu harus bisa disumbangkan kepada negeri tercinta ini. Dia juga punya kewajiban untuk menularkannya kepada masyarakat. Suatu karya bukanlah menjadi suatu kebanggaan yang bisa menimbulkan kesombongan sehingga lupa kontrol. Tapi sebuah karya hendaknya bisa menjadi cemeti, sebagai suatu amanah yang harus dijalankan. Apalagi Isjoni sebagai pendidik di negeri ini.

Dorongannya untuk terus menulis, karena dia melihat masih sangat jarangnya penulis-penulis di Riau ini. Karena itu kepada para penulis, kepada dosen dan kepada guru-guru mari tumbuhkan budaya menulis. Proses menulis itu semua kalau dihayati tidaklah susah, malah sebenarnya sangat mudah. Pada awal pertama jangan terlalu tergesa-gesa dan harus bagus atau harus ilmiah hasil karya tulisannya. ‘’Apapun yang kita buat, itu adalah sebuah karya, dan kita sendiri harus menghargainya. Kalau karya sudah kita buat, kita susun lalu kemudian disebarluaskan dan dibaca oleh masyarakat luas, justru itu suatu kebanggaan tersendiri bagi penulisnya. Nah, di sini saya mengajak kepada semua pihak untuk  segeralah menulis, karena menulis itu adalah keperluan. Suatu keperluan itu akan lama, akan tetap diingat dan akan kekal dihati pembaca,’’ ungkapnya.

Apalagi menurut dia, kalau tulisan itu mengena, berkaitan langsung dengan keperluan seseorang, dengan keperluan dunia pendidikan, dengan keperluan masyarakat. Tulisan itu akan bertahan lama dan akan diingat dan kekal di hati pembacanya.

Umpamanya kalau tidak memungkinkan menulis di tingkat daerah, menulis dulu untuk keperluan di tingkat lokal dulu. Setidaknya dibaca oleh masyarakat lokal dan kalau memungkinkan nanti terus ditingkatkan menjadi skala daerah dan terus kepada skala pembaca nasional dan internasional.

‘’Ini yang saja ajak, karena awalnya saya juga seperti itu,’’ terangnya berkongsi pengalaman dalam kiat menulis. Sampai saat ini sebagian dari buku-buku Isjoni itu juga banyak yang telah sampai ke negera tetangga Malaysia. Beberapa di antaranya malah sudah diterbitkan oleh penerbit Malaysia. Isjoni pun saat ini sedang merencanakan untuk menterjemahkan sebagian buku-bukunya dalam Bahasa Inggris. Paling tidak, kata Isjoni, bisa diedarkan di negara tetangga.

Isjoni sendiri sudah mulai menulis sejak dari mahasiswa. Dia termasuk salah satu nama yang ikut membangun Suara Kampus Bahana Mahasiswa Unri. Bagi dia pada waktu itu tulisannya merupakan yang terbaik, meski setelah dia baca kembali dibandingkan dengan tulisan-tulisannya sekarang terkadang menjadi tertawa sendiri. Tapi dia mengakui, tulisan-tulisannya tetap menjadi suatu pemicunya sehingga lahir tulisannya seperti sekarang ini. Dan untuk pada waktu itu bagi Isjoni tetap dianggap yang terbaik bagi dirinya. Orang dengan banyak membaca, menulis, mendengar, melihat berangsur-angsur dapat mengubah gaya dan cara penulisanny. Tulisan kita semakin lama semakin baik.  

Saat ini di perpustakaan pribadi Isjoni, dia memiliki tidak kurang dari 2.300 lebih judul buku. Buku-buku itu di luar buku yang diterbitkannya sendiri. Sekitar 80 persen dari koleksi buku-bukunya itu merupakan buku tentang pendidikan. Lalu dia tak hanya membaca, dan mengambil rujukan tapi juga membandingkannya. ‘’Itu merupakan pemicu bagi saya,’’ imbuh Isjoni lagi. Kemudian sebagai pemicu lagi adalah profesi sebagai dosen yang disandangnya, di mana dosen sebagai seorang intelektual. Maka dosen harus melahirkan karya-karya yang sesuai dengan keintelektualannya. Salah satunya, selain melakukan berbagai penelitian adalah menulis buku.

‘’Di luar negeri, kalau kita berjumpa dengan profesor mereka tak akan bertanya berapa anak atau berapa buah mobilnya. Pasti yang ditanyakan berapa banyak buku yang sudah dihasilkan,’’ ungkap Isjoni berbagi pengalaman saat bertemu dengan beberapa orang profesor di luar negeri. Dia pun mengaku cukup percaya diri dan tak pernah minder, karena yang ditanyakan oleh para profesor tersebut sudah dipenuhinya jauh dari jumlah yang diperkirakan mereka. ‘’Saya sudah niatkan, hari-hari yang dijalani dalam hidup ini selain untuk ibadah, adalah menulis di sela-sela kesibukan. Menulis dan terus menulis, selama Allah masih tetap memberi anugerah kekuatan untuk menulis, akan saya lakukan sampai akhir hayat ini,’’ tekad Isjoni menancapkan suatu semangat menulis yang menggelora.****

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org