| Rinduku pada Rasul |
| Minggu, 06 April 2008 | |
|
Ketika Subuh di Nabawi, sejuk yang meretakkan bibir-bibir
Mata meleleh dalam sepi, hati bergetar dalam gema takbir Lalu, berlabuh Dahi-dahi tersungkur di sajadah, menghapus resah Berebut tangkap dalam taman rasyidah yang indah Di sinilah rumah hijrah. Pembunuh berjuta gelisah Salah satu makam hati di dua kota suci Ziarah, sejarah, juga risalah rindu membuncah Seluas malam, seluas siang, sedalam lautan tak bertepi Kubah-kubah, jubah-jubah Membentangkan kebesaran yang tak pernah sudah Mengapa langkahku terus gelisah Mencarimu, ingin sekali bersua karena cinta yang telah kauberi sangat berarti Bagai mimpi, aku begitu dekat denganmu Bertegur sapa, tapi hanya dalam hati Engkau tersenyum penuh berseri, suci Tapi, rinduku ini masih seperti dulu lagi Tunggu! Suatu saat nanti Akan kubawa setangkai melati Sebagai tanda rinduku tak pernah berbagi Rumah Sastra, 20 Januari 2008 Setangkai Melati di Hati Tumbuh setangkai melati di celah hati harumnya merebak ke segenap diri sayap-sayap malaikat mengepak-ngepak setiap saat berbisik indah pada setiap persimpangan gelap supaya menepis sesat, tiba di balik bentangan malam wanginya melayang menyusuri saraf-saraf, urat-urat bagai hujan mengalir ke suak-suak, ke sungai-sungai laksana lahar-lahar menyuburkan sawah-sawah, kebun-kebun ibara laut, tempat ikan-ikan menabur uang buat nelayan lalu, nikmat apa lagi yang harus didustakan? di hati setangkai melati bisa mati akan jadi bangkai tak berarti tapi, sayap malaikat-malaikat tak ¢kan berhenti mengirim pesan sejak pagi tentang neraka, juga surga yang selalu menanti setangkai melati di hati jangan sampai mati akan lahir cahaya dari kelopak-kelopak memendar memancar memutih bersih Ilahi! Rumah Sastra, 7 Desember 2007 Bagai Ranting Kering Dalam sungai ini, Telah kautumpahkan dusta Bagai pekung menganga Dalam selat ini, Tak sedalam nestapa Orang-orang asli yang merana Dalam laut ini, Adalah timbunan airmata Bagai darah berjuta jiwa Dalam hutan ini, Hanya ranting kering berirama bagai tak berjiwa, tak bernyawa Dalam hati ini, bagai ranting kering? Rumah Sastra, 1 Februari 2008 Musa Ismail adalah guru di SMA 1 Bengkalis. Menulis cerpen, sajak, esai dan novel. Tinggal di Bengkalis. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



