Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Rinduku pada Rasul
Minggu, 06 April 2008
Ketika Subuh di Nabawi, sejuk yang meretakkan bibir-bibir
Mata meleleh dalam sepi, hati bergetar dalam gema takbir
Lalu, berlabuh

Dahi-dahi tersungkur di sajadah, menghapus resah
Berebut tangkap dalam taman rasyidah yang indah
 
Di sinilah rumah hijrah. Pembunuh berjuta gelisah
Salah satu makam hati di dua kota suci
Ziarah, sejarah, juga risalah rindu membuncah
Seluas malam, seluas siang, sedalam lautan tak bertepi
 
Kubah-kubah, jubah-jubah
Membentangkan kebesaran yang tak pernah sudah
 
Mengapa langkahku terus gelisah
Mencarimu, ingin sekali bersua
karena cinta yang  telah kauberi  sangat berarti
 
Bagai mimpi, aku begitu dekat denganmu
Bertegur sapa, tapi hanya dalam hati
Engkau tersenyum penuh berseri, suci
Tapi, rinduku ini masih seperti dulu lagi
 
Tunggu! Suatu saat nanti
Akan kubawa setangkai melati
Sebagai tanda rinduku tak pernah berbagi
 Rumah Sastra, 20 Januari 2008
 
 
Setangkai Melati di Hati
Tumbuh setangkai melati
di celah hati
harumnya merebak ke segenap diri
 
sayap-sayap malaikat
mengepak-ngepak setiap saat
berbisik indah pada setiap persimpangan gelap
supaya menepis sesat, tiba di balik bentangan malam
 
wanginya melayang menyusuri saraf-saraf, urat-urat
bagai hujan mengalir ke suak-suak, ke sungai-sungai
laksana lahar-lahar menyuburkan sawah-sawah, kebun-kebun
ibara laut, tempat ikan-ikan menabur uang buat nelayan
lalu, nikmat apa lagi yang harus didustakan?
 
di hati
setangkai melati bisa mati
akan jadi bangkai tak berarti
tapi, sayap malaikat-malaikat tak ¢kan berhenti
mengirim pesan sejak pagi
tentang neraka, juga surga
yang selalu menanti
 
setangkai melati di hati
jangan sampai mati
akan lahir cahaya dari kelopak-kelopak
memendar
memancar
memutih
bersih
Ilahi!
 Rumah Sastra, 7 Desember 2007
 
 
Bagai Ranting Kering
Dalam sungai ini,
Telah kautumpahkan dusta
Bagai pekung menganga
 
Dalam selat ini,
Tak sedalam nestapa
Orang-orang asli yang merana
 
Dalam laut ini,
Adalah timbunan airmata
Bagai darah berjuta jiwa
 
Dalam hutan ini,
Hanya ranting kering berirama
bagai tak berjiwa, tak bernyawa
 
Dalam hati ini,
bagai ranting kering?
Rumah Sastra, 1 Februari 2008

Musa Ismail adalah guru di SMA 1 Bengkalis. Menulis cerpen, sajak, esai dan novel. Tinggal di Bengkalis.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org