| Kumpulan Cerpen Mosthamir dalam Bingkai Cerita Jenaka Melayu |
| Minggu, 06 April 2008 | |
|
(Bagian 1)
1. Cerita Jenaka Melayu Berbagai cerita dari perbendeharaan lama, kian hari semakin tersingkir oleh arus budaya cetak dan elektronik. Walaupun cerita lewat budaya cetak dan elektronik ini hampir sepenuhnya didominasi oleh budaya materialistik sekuler, namun keberadaan hampir tak tergoyahkan. Ini terjadi, karena budaya munafik ini ditopang oleh kapitalis liberal, yang memberi kebebasan kepada siapapun juga, untuk berbuat apa saja asal mendatangkan keuntungan material. Mereka tak bisa membedakan, mana kebebasan yang diberikan oleh Allah sesuai dengan fitrah, dengan kebebasan yang justru digunakan untuk melakukan kejahatan, dari setan. Sebaliknya cerita dari perbendaharaan lama seperti bermacam cerita kancil atau pelanduk jenaka, yang dapat memberikan hiburan yang bermutu karena ada larutan nilai yang berharga, semakin lama semakin jauh terdesak, bahkan hampir dilupakan. Sebab tak ada media yang mendukungnya. Meskipun cerita semacam itu pernah di bukukan oleh Balai Pustaka dengan judul Cerita Rakyat dengan maksud dipakai media pendidikan, tapi nyatanya hampir tak pernah lagi disentuh oleh para guru di sekolah. sementara anak-anak tetap memerlukan sarana untuk mengembangkan fantasinya. Maka, anak-anak sekarang terbenam mindanya oleh berbagai cerita kartun dengan penampilan kasar, sadis, egois, bahkan cabul. Sungguh suatu ironi, membuang yang bernafas milik kita sendiri, lalu menggantinya dengan yang hampa milik orang lain. Dunia Melayu sudah sejak zaman bahari punya kesadaran budaya, bagaimana membentuk minda dan budi perkerti yang luhur, terpelihara dari pada pengembangan imajinasi yang liar. Untuk memberi peluang pada pengembangan fantasi anak-anak, pengarang Melayu telah mengarang sejumlah cerita binatang, dengan kancil sebagai tokoh yang paling dominan. Cerita kancil telah tampil dalanm berbagai versi yang indah dan menarik, karena selalu ada unsur jenaka dalam nafas ceritanya. Karena itu diberikan julukan kancil yang cerdik atau pelanduk jenaka. Bagi orang dewasa dikaranglah juga serangkaian cerita jenaka yang bermutu. Dikatakan bermutu, sebab di samping mampu memberikan sentuhan jenaka atau kelakar pada pendengar, cerita juga melarutkan sindiran halus serta pedoman hidup yang benar dari ajaran islam, agar manusia terpelihara martabat dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Maka tampilah serangkaian cerita jenaka seperti Pak Pandir, Si Malancar, Musang Berjanggut, Pak Belalang dan Lebai Malang. Dengan dua macam cerita ini, dunia Melayu telah membuka jendela kesusastraan Melayu, sebagai pengasah budi pekerti, sehingga orang Melayu disapa dirinya dengan pertanyaan: untuk apa dia hidup, apa yang dicarinya dan ke mana tujuan hidupnya. Sebab dia adalah makhluk ciptaan Allah, yang telah dirancang dirinya dengan sebaik-baik bentuk serta bekal yang memadai untuk menempuh hidupnya. 2. Cerita Jenaka di Riau Ironi cerita rakyat yang sebagian besar berlaku pada dunia Melayu Nusantara, tidak sepenuhnya berlaku di Riau. Riau sebagai pusat bahasa dan budaya Melayu, masih punya kesadaran bahwa dalam beberapa hal yang lama masih berharga, sebagaimana dikatakan oleh Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru dari tanah Melayu Deli Langkat. Khazanah cerita jenaka Melayu, baik dari jenis cerita kancil maupun dari jenis Pak Belalang dan Pak Pandir, cukup membekas dalam apresiasi pengarang Melayu di Riau. Setelah Haji Ibrahim merintis penampilan cerita pendek di Riau dalam abad ke-19, maka tidak lama kemudian dalam abad ke-20 munculah dua pengarang cerita pendek dengan gaya jenaka. Pertama ialah Muhammad Kasim yang telah mengarang Kawan Bergelut. Baik Teman Duduk maupun Kawan Bergelut adalah dua cerita jenaka yang hampir tak ada tandingannya pada zaman Balai Pustaka 1920-an sampai 1950-an. Gaya jenaka pena Soeman Hs, bukan hanya sebatas dalam “Kawan Bergelut”, tetapi juga meresap dalam karangan yang lain seperti Mencari Pencuri Anak Perawan, Percobaan Setia dan Kasih tak Terlerai. Di ujung pena Muhammad Kasim, dan terutama Soeman Hs, cerita jenaka Melayu telah berkisar dari tradisi lisan kepada tulisan. Soeman dalam tradisi tulis ini malah menyisipkan lagi gaya detektif ke dalam karangannya, karena dia amat menyukai mata-mata gelap yang saat itu selalu menjadi berita hangat, karena akan meletusnya Perang Dunia II 1942. perkisaran dari lisan kepada tulisan ini ada untung ruginya. Keuntungannya ialah, cerita terpelihara dalam bentuk buku (kitab) dapat dibaca di mana dan kapan saja. Tetapi kekurangannya, jumlah pendengar tidak sebanyak dalam tradisi lisan. Di samping itu dalam tradisi lisan, cerita bisa terkesan lebih hidup, karena dibawakan oleh tukang cerita yang biasanya mampu memberikan tukuk-tambah di mana perlu. Jadi, cerita jenaka Melayu, memang sejatinya punya penampilan yang indah dalam bentuk lisan. Agaknya inilah yang menggugah semangat bercerita kepada tokoh cerita jenaka Melayu yang bernama Yong Dolah, di Bengkalis. Pada bibir Yong Dolah, cerita jenaka Melayu dikembalikan pada habitatnya. Orang atau khalayak dengan mudah menikmati cerita jenaka, sambil minum kopi, berkelakar dan berbual-bual di kedai kopi. Cerita jenaka Yong Dolah muncul tanpa perlu persiapan. Pada tiap suasana, Yong Dolah dengan mudah dapat menyajikan cerita sesuai dengan minat dan selera khalayak. Tempat dan kejadian cerita Yong Dolah, tidak hanya sebatas Bengkalis dan Selat Malaka, tapi bahkan sampai Vancouver (Kanada). Ini terjadi karena budaya maritim Melayu, membuat mereka mempunyai cakrawala yang luas. Tradisi lisan cerita jenaka Melayu yang telah dikembalikan Yong Dolah pada habitatnya, mendapat gaya yang semakin memikat dalam penampilan Randai Kuantan yang menyajikan episode lawak dalam pertunjukannya. Randai Kuantan yang semula meniru Randai Minang, sejak tahun 1970-an mengambil arah baru. Pertunjukannya, bergeser dari mengambil kaba Minangkabau, kepada penampilan lawak dalam cerita dengan selingan tari dan musik. Seni Randai Kuantan meramu dari unsur-unsur lawak dari suka-duka kehidupan rakyat jelata, terutama rentangan nasib petani getah di kabupaten yang sekarang bernama Kuantan Singingi ini. Maka penapilan cerita jenaka Melayu dalam randai Kuantan semakin bergairah. khalayak tidak lagi menikmati jalan cerita dalam rangkaian dialog dalam permainan randai, tapi juga dapat menyaksikan perwatakan dan perangai para pelaku dalam kelakarnya yang selalu membuat penonton jadi tertawa. Jika khalayak mendengar, akan ada pertunjukan randai Kuantan, maka terbayang oleh calon penonton, mereka hadir akan dinanti dengan cerita yang dapat mengocok perut. Besar kemungkinan, grup lawak Smekot dengan tokoh utama Fahri dan Udin, yang uncul dalam tahun 1980-an, telah mendapat pemanasan ide lawaknya dari hasil totonan mereka terhadap lawak yang terbentang dalam Randai Kuantan. Apalagi kedua pelawak ini memang lahir dan dibesarkan di Rantau Kuantan, yang pernah diberi julukan Negeri yang kurang oso dua puluh. Karena itu tak mengherankan, beberapa cerita lawak ditampilkan oleh grup Smekot, cukup terkesan menampilkan suasana kehidupan puak Melayu di perkampungannya. Untuk membina para calon pelawak, Fahri malah telah memakai Randai Kuantan sebagai salah satu tempat berlatih. Sejumlah pertunjukan randai Kuantan dihadirkan oleh Fahri untuk khalayak Pekanbaru, sehingga penampilan cerita jenaka lewat Randai Kuantan ini, mendapat pula sambutan yang hangat di Pekanbaru.*** UU Hamidy adalah kritikus sastra. Bermastautin di Pekanbaru. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





