| Suluk Hijau Saat Jakarta Gerimis |
| Minggu, 06 April 2008 | |
|
Oleh Bersihar Lubis
Rizaldi “Zaldi” Siagian mengigau dalam pasca-teks. Seraya memetik senar gambus, igauan magister musik dari San Diego State University, California, USA, 1985 itu mengundang mulktitafsir. “Ini, teks tanpa batas,” kata Zaldi, yang menjadi delegasi Masyarakat Adat Nusantara di sidang PBB, Mei tahun lalu itu kepada saya, usai pertunjukan Suluk Hijau di Aditorium Departemen Kehutanan Jakarta, Kami malam, 27 Maret 2008 lalu. Zaldi sedang bersenandung tentang hutan Indonesia yang rusak. Teks-teks yang baku, agaknya tak lagi bisa menampung kemasygulannya sehingga muncullah igauan tanpa teks diapit oleh lirik lagu karya I Slamet Widodo. Kadang, merintih-rintih, kadang berang. “Tak ada lagi hutan, apalagi rimba,” ratap Zaldi, sutradara pertunjukan Megalitikum Quantum menyambut 40 tahun Harian Kompas pada 2005 lalu itu. Nyanyian duka Zaldi yang tampil merayakan seperempat abad Departemen Kehutanan itu memadukan nada etnik Kalimantan yang bersebati dengan aura Mandailing dan Tanah Karo (Sumatera Utara). Bak datang dari abad-abad masa silam, ia tegur masa kontemporer yang diracuni emisi global dengan gedung-gedung jangkung di Jakarta dan kota-kota dunia, sementara hutan menghijau kian susut juga. Di antara seratusan penonton, saya terkenang Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mencanangkan “Gerakan Indonesia Menanam” yang menanam 79 juta pohon pada 28 November 2007 silam. Ada 79.000 instansi, mulai dari pusat hingga ke desa di seluruh Indonesia yang masing-masing menanam 1.000 pohon. Ini sebagai jawaban atas dua juta hektare deforestasi saban tahun dan pada 2003 lalu telah mencapai 59 juta hektare dari 120 juta hutan Tanah Air yang tersisa. Penyair Mustofa “Gus Mus” Bisri, malam itu, membuat tengkuk merinding. Dalam sajak bertajuk “Munajat Binatang” Gus Mus melukiskan derita sekumpulan hewan yang tersisa sebagai akibat kerusakan hutan. Seekor onta telah memimpin serangga, gajah, tikus, anjing, kecoa dan sebagainya bermunajat kepada Tuhan. Saya teringat kisah beberapa ekor hewan yang ikut bersama Nabi Nuh tatkala air bah menenggelamkan dunia. Astaga, hewan-hewan itu beristighozah kepada Tuhan, karena manusia telah mengkhianati fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Mereka berhiba-hiba meminta supaya Tuhan mengangkat makhluk lain sebagai khalifah karena manusia bahkan sudah lebih binatang dari para binatang Illegal Logging Suluk Hijau semakin mengental tatkala Ken Zuraida, kekasih Rendra, mementaskan Wayang Akarawa. Ken telah membongkar wayang Mataram, tanpa ampun. Dalang yang sentralistik berubah menjadi tiga orang serta berdialog sesamanya dan juga dengan para pelakon di depan layar di atas panggung. Sangat tiga dimensional dan demokratis, karena bahkan wayang kulit dan wayang orang itu juga berdialog dengan MS Ka’ban, Menteri Kehutanan yang malam itu sebetulnya adalah sebagai pentonton bersama hadirin lainnya. Malam itu, jarak antara pentas dan penonton telah menyatu. Teater sebagai sebuah upacara bersama antara aktor dan penonton telah tercipta. Beragam sketsa rakyat disajikan, mulai harga kedele, minyak tanah, minyak goreng dan sembako yang naik. Berbagai wajah pembangunan yang menghasilkan sampah kota, ruang publik yang ciut hingga pembalakan liar digugat habis-habisan. - “Apa sih Illegal Logging itu, Pak Menteri,” tanya si wayang. + “Mereka adalah penebang hutan tanpa izin dari negara. Tapi, jika punya izin dan disertai dokumen yang sah, adalah legal.” -”Kalau begitu, Pak Menteri yang mengizinkan penebangan liar itu!”. Wayang Akarawa gaduh. Mereka berteriak-teriak yang ditimpali Ka’ban dengan ucapan, “itu pengertian yang ngawur!” Hadirin tertawa dan bertepuk tangan. Tapi, kok, pemerintah mengizinkan penambangan di hutan lindung dengan “sewa” super murah. Ka’ban balik menginterupsi, dan bilang tidak ada sama sekali PP tentang Penyewaan Hutan Lindung. “Jangan didramatisasi dan diprovokasi,” katanya. Ka’ban bilang, bahwa perusahaan tambang itu selama ini telah dibebani banyak persyaratan, konpensasi dan pembayaran. PP itu bahkan menambah kewajiban mereka, supaya dapat kembali memulihkan fungsi hutan. Ka’ban pun menguraikan bahwa selama ini terentang banyak pipa minyak dan gas serta air minum yang melintasi wilayah hutan demi kepentingan masyarakat. Toh, semua kritik, haruslah diterima sebagai “kawan berpikir.” “Saya harus mengatakan bahwa rakyat tak pernah salah. Yang salah adalah pemimpin dan tak boleh lagi terulang agar tidak menuai petaka besar di masa depan,” kata Ka’ban. Sultan Amangkurat Syahdan, Raja Airlangga yang tampan bagai Arjuna selalu menjaga hukum adat yang heterogen. Namun kolonial Belanda telah menyeragamkannya, sehingga kearifan lokal dalam menata hutan yang Bhinneka Tungal Ika menjadi musnah. Masa Airlangga, ketika rakyat dan lingkungan hutan terjaga oleh hukum adat tinggal kenangan belaka. Itulah, sepenggal dari orasi Rendra yang menutup Suluk Hijau malam itu. Rendra mengingatkan, bahwa rusaknya hutan di Wonogiri dan Wonosari justru di masa Sultan Amakungkurat, Raja Mataram yang berselingkuh dengan penjajah Belanda. Dalam catatan penulis, persis seperti ketika Presiden Soeharto meresmikan Pasar Klewer, Solo, sebuah pasar garmen terbesar di Jawa Tengah pada 1971 silam. Saya ingat, Soeharto berkata, bahwa dia akan menjual kekayaan hutan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya demi pertumbuhan ekonomi. Inilah orkestra kematian bagi kelestarian ekologis hutan dengan keluarnya konsesi HPH seluas 64 juta hektare kepada 500 perusahaan asing dan nasional. Bahkan, 30 juta hektare dikonversikan menjadi perkebunan, pertambangan dan pertanian monokultur. Masya Allah! Malam itu, saya pulang seraya masih terbayang artis Ayu Azhari yang ikut bersajak dan menari dengan tubuh gemulai, diiringi oleh musik komposer I Wayan Sadra. Gusti Allah, perkenankanlah suluk mereka, gumamku dalam kalbu, di bawah langit Jakarta yang bergerimis.*** Bersihar Lubis adalah wartawan. Tinggal di Depok. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





