| Kesadaran Palsu |
| Minggu, 06 April 2008 | |
|
Oleh Yusmar Yusuf
Huruf, abjad, aksara, ialah kesadaran. Kesadaran dunia yang terang benderang. Huruf, abjad, aksara adalah penepis kegelapan, inferioritas, mengangkat daya saing dan posisi tawar. Seorang pedagang ikan di kampung-kampung hanya menikmati peristiwa menjinjit ikan ke sana kemari. Dia bukan seorang penikmat nilai, tentang ikan, tentang barang, tentang harga, tentang apresiasi, tentang citarasa. Dia hanya seorang lelaki yang menjinijt ikan. Tak lebih dari menjinjit. Dia tak berdialog dengan aksara, tidak bercanda dengan huruf. Alias buta aksara. Tak kenal laut dalam lukisan, tak mengenal jaring dalam rakitan bunyi yang diwakili oleh seperangkat lambang yang kemudian disebut sebagai huruf, aksara dan abjad. Inilah kisah tersisa tentang buta huruf. Rupanya untuk kasus Indonesia, ada kaitan yang sangat signifikan antara buta huruf dengan pemakaian bahasa Melayu. Pulau Jawa dan Sulawesi, adalah dua pulau yang tingkat buta huruf terbilang tinggi. Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan, memiliki jumlah manusia penjinjit ikan yang tak menikmati nilai itu teramat tinggi berbading dengan penduduk di Sumatera. Di kedua pulau itu, jumlah penutur bahasa lokal (Jawa dan Bugis) teramat tinggi, sehingga berdampak pada tingkat buta huruf masyarakat pedesaan. Sebaliknya, hampir sebagian besar penduduk Sumatera di kampung-kampung berbasis bahasa Melayu, alias bahasa Indonesia yang tak jauh dari bahasa bunda mereka, kenyataan tingkat buta huruf di pulau ini terbilang rendah berbanding Jawa dan Sulawesi. Lanjutkanlah temuan ini wahai universitas di tanah ini! Kesadaran huruf, aksara dan kemampuan membaca adalah persoalan peradaban dan kebudayaan. Peradaban-peradaban tinggi (misal Sumeria, Babilonia dan Mesir kuno), terhasil oleh mereka yang memiliki kesadaran aksara. Mereka yang buta huruf, identik dengan lorong gelap dunia. Seakan dunia ini hanya terdiri atas kayu, gunung dan tembok serba tinggi dan laut maha luas. Tiada apa di balik tembok tinggi, tiada apa di balik lejang luas laut. Huruf ialah lorong mengenal dunia yang renyai, yang lembab, yang kering, yang kaya, yang ragam, dan ujungnya adalah kearifan. Semua hasrat terpendam dari bergaram kebudayaan dunia ini, adalah ingin menyembulkan semangat kearifan itu pada semua sisi kehidupan. Bahwa kearifan menjadi hasrat terpendam, menjadi idaman bersama, menjadi idaman kolektif, sehingga menyeruak rasa damai dan persaudaraan di antara sesama makhluk. Kearifan adalah puncak gunung dari impian kebudayaan manapun. Untuk memperoleh kerafian dan kedamaian itu, di awal hidupnya orang menyunting huruf, memetik aksara, menggali umbi pengetahuan yang disimpan dalam aksara, mencungkil misteri yang terkandung dalam aksara. Dalam aksara, ada kisah tangis, perih, duka dan luka. Dalam aksara bisa dititipkan kehendak gergasi, kemauan, harapan, silang fikir, silang gagasan, silang kritik pedas dan ringan yang semuanya itu dimaksudkan demi memperkaya kebijaksanaan yang diukir manusia. Bukan untuk saling melempar salah dan menjatuhkan alias saling memusnahkan. Aksara pula yang membuhul kisah kebajikan dan kebijaksaan dalam rentang sejarah peradaban manusia. Manusia buta aksara hari ini di seluruh dunia berjumlah hampir 800 juta, adalah mereka yang berenang dalam kesadaran semu. Mereka yang bergelut dan bercanda dengan kesadaran palsu. Di Indonesia, masih terdapat sekitar 13 juta manusia yang masih buta aksara. Ini persoalan peradaban. Sebab ada kisah kegagalan pembangunan yang selama ini dilakukan, sama sekali tidak menyentuh persoalan dasar kemanusiaan, bernama kesadaran sejati. Kesadaran sejati, adalah kesadaran tentang nilai, tentang apresiasi terhadap apa-apa yang berada di sekitar instansi badan dan apa yang berada di luar instansi tubuh manusia. Ibarat penjinjit ikan, buta aksara dan keberaksaraan adalah sebuah keniscayaan, menuju kesadaran sejati. Kesadaran tentang nilai, di atas ikan yang dijinjit. Wanita itu bunga, sekaligus wali amanah penerus nilai bangsa dan peradaban. Wanita Indonesia, tergolong yang paling rendah diterpa bacaan dan keberaksaraan. Selanjutnya bisa diperiksa secara seksama, keberaksaraan wanita Riau. Malaysia, sebuah contoh di awal tahun 70-an, adalah cermin dari kumpulan bangsa yang wanitanya berada pada posisi buta aksara yang paling parah di Asia. Rata-rata perempuan Melayu yang bertempat tinggal di kampung [alias luar bandar] identik dengan buta aksara itu sendiri. Sejak wanita Malaysia menembus masuk ke sekolah-sekolah oleh Tun Razak sebagai bapak modern Malaysia, mereka berhasil memperkecil angka buta aksara hingga ke peringkat kampung-kampung. Buta aksara ini mencakup aksara latin dan jawi (Arab-Melayu). Hari ini, Indonesia mengidap penyakit yang diderita oleh perempuan Malaysia pada era 70-an. Jumlah buta huruf di kalangan wanita di pedesaan demikian tinggi, sementara terpaan media (cetak) amat minim berbading terpaan media elektronik (radio dan tv). Perempuan Indonesia, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mendengar radio dan menonton televisi. Secuil informasi mengenai dunia yang berada di luar badan perempuan Indonesia, diperoleh melalui radio dan tv. Bukan majalah, bukan koran apatah lagi buku. Kegandrungan membaca karya-karya fiksi juga bergeser dari karya roman serius menjadi bacaan-bacaan ABG, picisan dan ditambah lagi dengan fenomena sastra remaja dan sastra elektronik yang mudah diakses melalui internet. Kisah ini khusus berkembang di kawasan perkotaan. Akhir-akhir ini, persoalan Riau tersangkut di kampung-kampung. Sepanjang lorong kampung adalah kisah kemiskinan dalam segala ihwal. Terutama kemiskinan informasi. Kemiskinan ini akan bergerak menjalar dan bakal menyemburkan kemiskinan pada ruang lingkup yang lebih luas. Bayangkan, ketika orang tidak bisa membaca, aksesibiltasnya demikian terbatas untuk menerjang ruang dan sekat dunia yang berad di luar dirinya. Bayangan tentang dunia dengan sendirinya gelap, sepi dan sejuk. Mereka lebih sarat menjalani fungsi-fungsi vegetatif, bak flora, dan fungsi-fungsi zoologis bak fauna demi mempertahankan hidup. Mereka makan, tetapi tak mengerti tentang nilai yang dimakan, mereka menyandang pakaian, tak tak tahu nilai terhadap pakaian yang disandang. Mereka berlari, berjalan, berbicara dan berkhayal, semuanya tanpa nilai, tanpa makna. Mereka dalah sederet makhluk vegetatif yang melangsungkan hidup berkat dorongan dan kawalan instink vegetatif untuk bertahan hidup semata. Dunia adalah kisah gelap. Dunia dan benderang alam ini, adalah sebuah dongeng yang tak bisa dituturkan. Riau yang bergairah dan bergelora dengan birahi untuk menggesa masyarakatnya untuk sadar membaca adalah sebuah Riau yang mencintai kesadaran sejati. Bukan kesadaran palsu alias semu. Tapi, benarkah langkah yang disusun? Efektifkah taktik untuk menderas kissah membaca dan kesadaran aksara ini hanya dengan sebatas mengumpul buku dan medistribusikannya pada ruang-ruang beku bernama pusataka pedesaan yang bakal sarat diurus dengan cara serba birokratis? Mungkin, pendekatan komunal, melalui media majalah dinding, adalah sebuah cara untuk memobilisasi manusia Riau agar memiliki kesadaran aksara. Kebijaksaan yang menyuruh orang untuk membaca, jika tidak diikuti dengan pola yang singgah di hati masyarakat, adalah sebuah kesadaran palsu juga. Membaca! Sebuah keharusan, tapi bagaimana dengan angka buta aksaras di kampung-kampung?*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





