| Masih Kurangnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Bahaya Flu Burung |
| Minggu, 06 April 2008 | |
|
Bom Waktu Itu Ada di Sekitar Kita
Ujang (bukan nama sebenarnya) tampak cukup sibuk di los ayam miliknya di Pasar Pagi Palapa Jalan Durian Pekanbaru. Sambil melayani para pelanggannya, sesekali ia masih sempat menghirup rokok kretek kesukaannya. Tak lama, seorang ibu datang melihat dan memilih ayam yang hendak dibeli. Dengan gerakan cukup sigap, Ujang menyembelih dan memasukkan ayam ke tempat pencabutan bulu. Percikan darah ayam tampak jelas di tangannya dan semua limbah pemotongan ayam itu jatuh ke sebuah selokan kecil di bawah losnya. Lalu, dengan hanya membasuh tangan pakai air seadanya, ia langsung menyantap lontong pesanannya yang telah diantar sejak tadi. Laporan: PURNIMASARI, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya SEMUA itu ia lakukan begitu dekat dengan kandang ayamnya. Bahkan, dengan nikmat ia makan lontong di tengah debu-debu dan bulu ayam yang beterbangan. Tak jauh dari los ayam itu, bahkan hampir bersebelahan, los daging, ikan, sayur-mayur dan telur kumpul jadi satu. Itulah sekelumit kejadian yang umum ditemui di pasar-pasar tradisional di negeri kita. Sama sekali tak tampak kekhawatiran di mata Ujang meski ia sehari-hari bertungkus-lumus dengan ayam. Padahal, ia termasuk salah satu kelompok yang rentan terkena virus flu burung atau avian influenza. Siapa sangka, perilaku yang selama ini kerap kita jumpai ternyata adalah salah satu bom waktu penyebaran virus flu burung yang bahkan hampir tak pernah kita gubris kehadirannya. Padahal, kita wajib waspada, karena Indonesia adalah pemegang rekor pertama negara dengan jumlah kasus flu burung terbanyak di dunia dan dengan jumlah kematian yang banyak pula. Menurut data WHO, ada 129 kasus flu burung di Indonesia dan 105 orang di antaranya meninggal. Di Riau, sejak ditemukan kasus pertama pada unggas pada Desember 2005 dan Mei 2007 sudah ditemukan kasus pada manusia, jumlah suspect flu burung terus meningkat. Suspect adalah orang yang terduga terinfeksi virus flu burung. Dari semua suspect di Bumi Lancang Kuning, enam kasus dinyatakan positif flu burung, lima orang di antaranya meninggal. Dari 11 kabupaten/kota yang ada di Riau, semuanya dinyatakan sudah pernah ada kasus flu burung yang berarti Riau dinyatakan endemis flu burung. Menurut Social Mobilization Consultant UNICEF yang khusus menangani masalah flu burung, dr Noermadi Saleh, virus flu burung di Indonesia dengan sub tipe H5N1 memang sangat ganas. Selain belum ada obat yang benar-benar ampuh, virus ini juga cepat merusak organ dan bermutasi. Pemberian Tamiflu (obat untuk flu burung) hanya efektif dalam rentang waktu 48 jam sejak terjadinya gejala pertama. ‘’Karena itu, Riau perlu waspada. Kalau tidak hati-hati, Riau bisa lebih parah dari Sumut,’’ kata dr Noermadi. Cara Mudah Cegah Flu Burung Sementara itu, menurut Kasubag Pelayanan Kesehatan dan Gizi yang juga Humas Diskes Riau drg Burhanuddin Agung MM mengakui, salah satu penyebab tingginya angka kematian akibat flu burung di Riau karena pasien terlambat didiagnosa dan dirujuk ke RS (rata-rata sudah 5-6 hari). Virus ini menyerang berbagai organ dan memiliki tingkat kematian hingga 90-100 persen dalam waktu kurang lebih 48 jam. Karena itu, jika suspect didiagnosa di bawah 48 jam, peluang hidup lebih tinggi. Inilah yang terjadi pada anak bernama Vivi, satu-satunya kasus positif flu burung di Riau yang bertahan hidup. Ketika Vivi demam, orangtuanya langsung teringat bahwa sebelumnya ia pernah kontak dengan ayam yang mati mendadak. Melihat riwayat medisnya itu, pihak Puskesmas pun tanggap sehingga ia cepat diberi Tamiflu. Jika lewat dari 48 jam, lanjut Burhanuddin, pemberian Tamiflu akan sia-sia. Banyaknya korban juga didukung sulitnya mendeteksi gejala flu burung yang hampir mirip flu biasa. Yakni demam tinggi (biasanya di atas 38 derajat Celcius), batuk pilek, sakit tenggorokan dan nyeri otot. Karena itu, riwayat kesehatan pasien penting diketahui detail. Apakah sebelum demam pasien ada kontak dengan unggas yang mati mendadak? Jika iya, perlu dicurigai ia terkena flu burung. Apalagi jika kemudian pasien juga menderita sesak napas. Jika ini terjadi, segera periksakan diri ke Puskesmas terdekat. Di Riau, Rumah sakit rujukan untuk kasus flu burung adalah RSUD Arifin Acmad, RSUD Dumai dan RSUD Tembilahan. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, pasien perlu menjalani cek darah dan rontgen dada. Tapi, menurut Burhanuddin, sebenarnya flu burung bisa dicegah dengan cara hidup bersih dan sehat. Salah satu cara yang paling sederhana dan murah adalah membiasakan mencuci tangan. Tak cukup hanya pakai air (karena virus ini mampu bertahan dalam air sehingga malah hanya akan memperluas penyebaran), tapi harus pakai sabun. Karena virus ini sangat tidak tahan terhadap sabun dan deterjen, alkohol 70 persen, chlorine, formalin dan sejenisnya. Selain itu, jangan sentuh unggas yang sakit atau mati dan pisahkan unggas dengan manusia. Patut diketahui, virus flu burung mampu bertahan hingga tiga hari. Bahkan jika kondisi lembap atau dengan suhu 0 derajat, virus ini mampu bertahan 30 hari. Dalam kotoran unggas, virus mampu bertahan selama 125 hari. Cara Benar Perlakukan Unggas Karena itu, faktor kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan unggas hingga kini adalah cara terbaik. Sayangnya, dalam hal perlakukan dengan unggas, kita juga masih sangat cuai. Perlu diketahui, 40-50 persen masyarakat kita hingga kini masih memelihara unggas di pekarangan rumah. Yang termasuk jenis unggas adalah ayam, itik, angsa, kalkun, burung puyuh dan burung-burung liar. Menurut drh Ali Saukhan dari Dinas Peternakan Riau, hingga kini sudah 13,5 juta unggas yang mati karena flu burung. Semua unggas di kabupaten/kota di Riau pun dinyatakan sudah endemik flu burung. Tanda-tanda klinis unggas yang terkena flu burung adalah pial/jengger berwarna kebiruan, bintik darah pada ceker/kaki dan jika dibuang bulunya akan tampak tanda-tanda pendarahan di dada dan paha unggas, kepala tertunduk dengan badan, lesu, gelisah, diare, menggigil dan mengeluarkan air mata, penurunan jumlah telur, bengkak di kepala dan kelopak mata serta sulit bernapas. Tapi pada unggas sebenarnya pun tidak ada gejala yang khas karena gejala penyakit tetelo juga kurang lebih sama. Selain sumber penularan oleh manusia (petugas, peternak dan pedagang ayam), alat transportasi seperti keranjang unggas, boks telur, bahkan ban sepeda motor atau bahkan di sol sepatu peternak juga patut diwaspadai. Karena itu, kandangkan unggas Anda, jauhkan unggas dari rumah (jangan bersebelahan), pelihara unggas sejenis (sesuai spesies), vaksin unggas secara berkala, olah limbah unggas sebelum dimanfaatkan dan jaga kebersihan lingkungan. ‘’Jangan lupa bersihkan kandang unggas dengan desinfektan secara berkala. Jika tak ada, tak perlu beli yang mahal-mahal, dengan air sisa deterjen pencuci baju juga bisa,’’ tuturnya. Bagaimana jika ada suspect pada unggas? Jangan sentuh unggas secara langsung, segera musnahkan unggas dengan cara dibakar lalu dikubur sedalam lutut orang dewasa), suci hama bekas kandang dan kendalikan lalu-lintas unggas. ‘’Jangan lupa selalu laporkan ke RT/RW atau perangkat terkait jika ada kasus ayam sakit atau mati mendadak,’’ ujar Ali. Hingga kini sudah ada 88 orang pelacak unggas di Riau. Merekalah yang akan proaktif mendatangi warga yang memiliki unggas atau menindaklanjuti laporan warga. Dengan rapid test (tes cepat), biasanya akan segera diketahui apakah unggas positif flu burung atau bukan. Idealnya, lanjut Ali, semua lalu-lintas unggas dicek dan diberi desinfektan. Tapi, karena alasan perangkat atau dana, tidak semua kabupaten/kota bisa melakukan hal ini. Belajar pada Vietnam Menurut dr Noermadi, tak ada salahnya jika kita belajar pada Vietnam yang ternyata justru lebih bagus mengatasi flu burung daripada Indonesia. Meski jumlah kasus di Vietnam cukup banyak, tapi kasus kematiannya relatif lebih kecil. Itu karena Vietnam punya cara yang lebih sistematis mencegah flu burung. Kini, di Vietnam tak ada lagi pedagang yang menjual ayam hidup di pasar. Peternakan kini juga sudah tak ada lagi di lingkungan pemukiman. ‘’Saya pernah pergi ke Pangkalankerinci. Dari masyarakat di sana saya menerima laporan ada kasus ayam mati mendadak. Ketika saya tanya ke pihak Puskesamasnya, mereka mengaku tahu, tapi belum segera melaporkan karena masih tunggu instruksi. Bagaimana kita mau baik jika masih terus begini?’’ ungkapnya. Ia juga mengakui bukan perkara mudah untuk mengajak masyarakat meninggalkan perilaku lama yang nyata-nyata membuka akses untuk penyebaran flu burung. ‘’Bagaimana kita meyakinkan orang bahwa cuci tangan pakai sabun itu penting, jangan lagi makan telur mentah, cuci telur pakai sabun setelah dibeli, segera musnahkan boks bekas telur, cuci bersih buah dan sayur-mayur mentah sebelum dikonsumsi, orang harus jual sayur di pasar yang bersih dan lain sebagainya,’’ katanya. Jika Anda merupakan keluarga yang merawat pasien flu burung, usahakan keluarga yang merawat dalam keadaan yang sehat. Jangan lupa selalu tutup mulut dan hidung pakai masker atau sapu tangan yang dililitkan. Selalu cuci tangan pakai sabun setelah kontak dengan pasien dan usahakan sesedikit mungkin kontak langsung dengan pasien. Melihat data dan fakta di atas, rasanya adalah pilihan yang tidak pintar jika Anda masih tak peduli dan waspada untuk mengatasi virus flu burung.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



