| Kisah Bantuan Banjir |
| Minggu, 06 April 2008 | |
|
Situasi krisis dapat membuat sisi emas pribadi manusia muncul. Misalnya, banjir yang melanda Riau telah menggugah banyak pihak memberi bantuan kemanusiaan. Ada rasa ingin memberi, ingin meringankan penderitaan orang lain.
Sepanjang Jalan Yos Sudarso Rumbai Pekanbaru misalnya aneka posko peduli banjir berdiri. Mulai dari bendera partai, bendera organisasi kemasyarakatan, bendera perusahaan, bendera pemuda dan lain sebagainya. Terlepas apapun motivasinya, yang jelas ada keinginan kuat untuk memberi. Namun tidak semua yang sepakat dengan argumen saya di atas. “Memberi tidak selalu itu berarti sisi emas manusia,” ujar Rifa’i (60) seorang warga Pandau yang ikut mengantarkan bantuan ke Rumbai bersama saya pekan ini. Pria yang akrab dipanggil Pak De dan sering diledek koleganya ‘Wali Kota Pandau’ itu punya alasan sendiri. Menurutnya, kata memberi punya dua arti. Pertama, memberi tanpa pamrih (ikhlas). Kedua, memberi sebagai investasi. Kategori pertama memberi karena sadar sepenuhnya bahwa memberi itu perintah Allah SWT. Tidak ada embel-embel lain di belakangnya. Memberi ya memberi itu saja titik. Persisnya seperti orang buang hajat yang amat ikhlas melepaskan miliknya. Normalnya tidak ada yang bangga setelah buang hajat. Perasaan biasa-biasa saja. Pokoknya lega aja dan tak pernah mau menyebut-nyebut besarnya ‘hajat’ yang telah dilepaskan itu ke teman atau tetangga misalnya. Malah makin besar produk ‘hajat’-nya itu maka makin tak mau ia mengabarkannya apalagi mengundang wartawan meliput dan membuat fotonya besar-besar di koran, misalnya. Ya khan, he..he..he.. Kategori kedua itu memberi dalam rangka investasi. Mirip orang memberi bunga buat sang pacarlah. Tampak luarnya memberi sedangkan tampak dalamnya ingin mendapat yang lebih besar dari sang pacar. Misalnya memberi biar diingat orang kalau Pemilu, biar disebut orang sebagai organisasi yang peduli. Makanya kategori kedua ini kalau pidato sering berkata begini: Ini semua bentuk kepedulian kami kepada bapak-ibu korban banjir sekalian. Kepedulian kok disebut-sebut. Kepedulian itu diamalkan bukan untuk disebut-sebut. Seperti kita memberi jajan buat anak kita yang akan pergi sekolah. Apakah setiap kali memberi kita berkata ini adalah bentuk kepedulian kita pada anak-anak kita? Bukankah itu memang keperluannya? Jadi, lanjutnya, bak seorang dosen luar biasa, memberi memang merupakan amal yang baik. Namun itu belum tentu berarti amal yang soleh. “Lho kok begitu?” ujar saya. Ia lalu melanjutkan. Amal soleh itu cirinya bebas dari kepentingan. “Kalau memberi untuk menerima itu bukan amal soleh tetapi amal politik,” ujarnya lagi terkekeh. Ia pun terus mengoceh tak terhentikan. Menurutnya lagi, mengapa tiap tahun Riau kaya dengan banjir dan asap karena di sini di sektor riil interaksi banyak berlandaskan amal politik daripada amal soleh. Orang memberi dengan harapan bisa menebang hutan lebih luas. Orang memberi dengan harapan bisa membakar hutan sesuka hati. Penguasa pun terperangkap dengan pola yang sama. Rajin memberi bukan karena melihat rakyat benar-benar memerlukan. Namun karena tanggal Pilkada sudah dekat misalnya. Lalu hubungan kita seperti transaksi dagang di mal. Lalu ia mengutip ayat Alquran. “Barangsiapa ingin pahala dunia maka baginyalah pahala dunia itu. Sedangkan tidak ada bagiannya di akhirat..”. Lalu sayapun memotong. “Sudah pak, sudah pak, kita sudah sampai ke lokasi posko banjir,” ujar saya saat melihat ia tak capek-capek memberi ‘kuliah umum’ itu. Ia pun segera menghentikan obrolan. Setelah turun dari mobil lalu ia pun berkata. “Mana wartawan, tolong liput kita dong”. Saya pun tak dapat menahan gelak.*** Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya helfizon.blogspot.com |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





