• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Jumat, 05 September 2008 || 5 Ramadan 1429 Hijriah
Total SportAncaman Kudeta

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

Teras UtamaUrip 20 Tahun Penjara

Jumat, 05 September 2008

article thumbnail

2008, Cabang Pekanbaru Targetkan 24 Ribu Sambungan
Minggu, 06 April 2008
KONDISI daya listrik yang pas-pasan, menjadikan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Pekanbaru akan menerapkan berbagai upaya untuk terus bisa memberikan pelayanan ke masyarakat. Saat ini, PLN Cabang Pekanbaru yang wilayah kerjanya meliputi Kota Pekanbaru, Perawang, Bangkinang, Siak Sriindrapura, Pasirpengaraian dan Pangkalan Kerinci membutuhkan listrik 135.492 kilowatt (135,5 megawatt/MW) sedangkan daya mampu 137 MW. Jadi posisinya pas-pasan.

Untuk pelanggan sendiri sekitar 309.000 dan 217.000 di antaranya di Kota Pekanbaru. Sedangkan untuk daftar tunggu hingga bulan Februari mencapai 44.624 pelanggan dengan kVA yang diperlukan 61.330,25. Jumlah tersebut belum termasuk permintaan penambahan daya yang mencapai 2.123 pelanggan dengan 4.711,55 kVA. Bila ditotal, keperluan daya listrik untuk daftar tunggu kira-kira 66 ribu kVA.

Menurut Kepala Cabang PLN Pekanbaru Drs Ericson S Sidabutar Ak, pada tahun ini pihaknya bertekad melayani kira-kira 24 ribu sambungan dengan mencoba memaksimalkan beban yang ada atau bila dikalkulasikan 2.000 sambungan setiap bulannya. ‘’Kita akan naikkan syarat beban travo yang diizinkan. Bila beban travo itu selama ini kita buat 90 persen melihat kondisi, kita naikkan menjadi 95 persen. Jadi standarnya beban travo itu akan disebut overload atau tidak memenuhi syarat bila dibebani 95 persen. Dengan menaikkan itu, ada 5 persen kelonggaran di travo yang overload. Jadi yang overload menjadi tidak overload. Kalau tidak overload ada beberapa pelanggan yang disebut di kategori overload bisa masuk,’’ ujar Ericson yang diwawancarai Riau Pos mengenai masalah ini dalam dua kali kesemptan, Selasa (1/3) dan Kamis (3/4).

Bahkan pria yang baru menjabat di PLN Cabang Pekanbaru ini berjanji dalam satu dua pekan mendatang akan membuat gerakan dengan melakukan pengumuman terbuka. ‘’Kalau bersedia Riau Pos, saya akan umumkan di koran siapa pelanggan yang sudah siap disambung dan silahkan datang ke kantor PLN. Jadi akan saya buka lebar-lebar pelayanan kita untuk daftar tunggu yang sudah siap. Untuk pertama ini di Rayon Pekanbaru Kota Barat. Karena sudah banyak dijawab dan disetujui namun belum datang-datang membayar. Ada yang agendanya bulan 11 tahun 2006 namun sudah dijawab tanggal 1 bulan Agustus 2007. Ini sudah disetujui sekitar 500 pelanggan tapi belum bayar. Belajar dari sini, dalam satu-dua minggu ini akan saya umumkan di koran,’’ terangnya.

Untuk yang masuk daftar tunggu tersebut, menurut Ericson, dikelompokkan menjadi tiga. Pertama memenuhui syarat teknis, kedua tidak memenuhi syarat teknis jaringan dan ketiga beban travo penuh dan yang keempat bangunan belum ada. Pria Manado ini mengakui yang membuat daftar tunggu ini banyak, sebenarnya bangunannya belum ada, namun sudah membuat daftar tunggu. Ke depannya pihaknya akan mencoba memisah-misahnya. Bila sudah memenuhi syarat dijawab. Bagi yang sudah memenuhi syarat dan dijawab namun orangnya belum datang, ini yang akan dibenahi.

‘’Bangunan yang belum selesai yang membuat daftar tunggu ini banyak. Jadi nanti akan saya urai, mana bangunan yang belum selesai akan dikeluarkan dari daftar tunggu. Mungkin nanti ada perubahan daftar tunggu masuk ke daftar antre yang benar-benar siap masuk. Akan kita bikin manajemen terbuka. Akan saya buat di koran siapa bulan ini pelanggan siap untuk dilayani. Sedang kita persiapkan untuk itu,’’ tegasnya.

Untuk menghubungi pelanggan yang memenuhi syarat dan siap dilayani tersebut, Ericson akan memakai dua alternatif, mengumumkan di koran atau melalui kantor pos. Di sana juga akan dicantumkan berapa rupiahnya berikut syarat-syarat yang harus dibawa. ‘’Jadi semua akan saya uraikan. Kita tidak akan main-main,’’ tegasnya.

Saat disinggung aturan normal lamanya permohonan disetujui, Ericson menerangkan, aturannya setelah diajukan akan dilakukan survei. Jawabannya bisa disetujui memenuhi syarat. Seperti memenuhi syarat teknis jaringan dan travonya tidak overload. Jaringan ini dibagi lagi bukan sambungan lebih dari yang kelima. Kalau yang keenam, tidak bisa lagi maka harus ditarik jaringan lagi. ‘’Nah itu yang memenuhi syarat, maka akan kita buat suratnya disetujui maka datang untuk membayar. Kalau tidak memenuhi syarat, maka kita akan jawab apa alasannya. Seperti tidak memenuhi persyaratan teknis, alamat tidak ketemu dan sebagainya,’’ terangnya.

‘’Kita mau action apa yang harus dilakukan dan apa penghambatnya. Masyarakat butuh listrik, tapi setelah disetujui kenapa belum datang membayar. Ada apa? Saya tidak mau menuduh siapa-siapa, namun kita ingin memperbaiki pelayanan dengan mengumumkan di koran, inilah pelanggan yang sudah disetujui, datanglah membayar,’’ tegasnya.

Saat disinggung mengeni pesatnya pembangunan gedung-gedung bertingkat seperti gedung sembilan lantai, apartemen dan venue-venue untuk PON 2012 di Pekanbaru dan ketersediaan daya listriknya, Ericson menjelaskan, itu sudah dicadangkan dalam daftar tunggu dan sudah dilakukan survei tinggal membangun jaringannya.

Apakah tidak berpengaruh dengan daftar tunggu yang sebanyak itu? Ericson menjelaskan pengaruh atau tidak berpengaruh itu akan dilihat perkembangan karena ini tidak matematis. Setelah satu bulan, misalnya travo kan diukur lagi, bagaimana perkembangan sampai menunggu beban masuk. ‘’Kita berjuang. Kan sudah direncanakan pembangunan di Teluk Lembu. Namun mungkin coba ditanyakan ke pembangkit Sumatera Utara. Kita kan dibagi-bagi. Ada urusan membangun, ada urusan pembangkitan, ada uruan transmisi dan ada urusan pelanggan. Kita ini urusan pelanggan. Saya tidak tahu karena itu bidang lain apa yang dilakukan. Tapi kita juga jangan berfikir terpisah dari Sumatera. Kita menyatu di Sumatera. Jadi apa yang dibangun di Padang, Sumatera Selatan, Medan pun akan diperhitungkan bagian dari kita. Tidak hanya yang dibangun di sini saja yang menjadi bagian dari kita,’’ terangnya.

Oleh karena itu, Ericson mengimbau, untuk berhemat dengan pemakaian listrik. Karena dengan berhemat akan mengurangi pembakaran bahan bakar di hulu. Kedua, memberikan peluang kepada yang belum menikmati untuk menjadi pelanggan. ‘’Walaupun pertumbuhan di daerah ini cukup kencang. Tapi dalam program 10.000 MW untuk Indonesia yang paling lambat 2010, sebagian kan masuk di sini. Kita tidak hapal berapa akan masuk untuk Sumatera,’’ ujarnya.

Mengenai perumahan yang sudah bertahun-tahun namun belum mendapat sambungan listrik, Ericson melihat masalahnya seperti yang dikelompokkan tadi. Kalau tidak ada jaringan atau belum dibangun. Apalagi membangun jaringan kan tidak gampang. Jadi dikelompokkan, kalau tidak ada jaringan kita akan kasih tahu belum ada jaringannya. Yang bisa kita coba itu adalah memaksimalkan kondisi yang ada dengan sedikit risiko melalui travo yang overload itu.

Soal pemutusan listrik pelanggan, pria yang sebelumnya bertugas di Papua ini mengungkapkan petugas itu ada standar kerjanya. Petugas itu membawa surat tugas ke lapangan dan juga membawa surat pemberitahuan pemutusan sementara karena sudah menunggak. Waktu ini di antar, diterima baru ditunggu. Kalau dia tidak membayar hingga lembarannya menjadi tiga atau tiga bulan, maka diadakan pemutusannya.

‘’Sebenarnya satu hari di peraturan kita. Namun di daerah berbeda-beda. Kita bandingkan dengan telepon, melewati batas kan langsung diblokir, dengan artian tidak ada transaksi atau tidak boleh menimbulkan biaya lagi. PLN juga begitu, tidak boleh menimbulkan biaya lagi, sama,’’ ujarnya.

Apalagi menurut Ericson sudah ada perjanjian dari awal dan di rekening pun sudah dicantumkan. ‘’Namun mari kita hitung, kalau misalnya pakai listrik mulai Januari. Akhir bulan dicatat jadi utang satu bulan dan dikasih waktu untuk membayar hingga tanggal 25. Jadi hingga tanggal 25 tidak bayar, maka sudah dua bulan kan menunggaknya. Makanya di-cut di situ. Semua juga begitu, telepon juga,’’ terangnya.

Di sisi lain, menurut Ericson, bila pihaknya salah catat, maka akan dikoreksi. Bahkan dalam dua bulan ke depan pihaknya akan menerapkan petugas pencatat itu menggunakan kamera digital. ‘’Dengan foto digital masalah di lapangan kita bawa ke meja,’’ ujarnya.

Sedangkan bila kesalahan itu akibat salah pencet tombol selalu dilakukan koreksi. Namun bagi rumah yang kondisinya menghambat petugas untuk melakukan pencatatan seperti dipagar, ada anjing penjaga atau meteran di dalam rumah akan diambil rata-rata dalam tiga bulan. ‘’Namun biasanya petugas mengusahakan berkali-kali untuk mencatat bila tidak diambil rata-rata. Dan itu bedanya tidak banyak paling satu atau dua kwh,’’ terangnya.

Sedangkan mengenai kasus pencurian, diakui Ericson berdasarkan pengalamannya di daerah lain, bila daftar tunggunya banyak maka akan ada pelanggaran. Modus pelanggaran itu bisa memperbesar pembatas, merusak segel, mempengaruhi meteran, mempengaruhi meter dan pembatas dan ada yang menyambung bukan untuk peruntukkannya. Misalnya rumah disambung ke tukang durian di depan rumah.

‘’Itu pelanggaran karena tidak sesuai peruntukannya karena tarifnya beda. Di Pekanbaru saya tidak tahu. Kalau di tempat lain bervariasi. Di tempat yang daftar tunggunya banyak, itu cenderung rumah tangga. Itu sebabnya kami mencoba meminimalisir daftar tunggu. Logikanya bila kurang daya atau tersumbat pelayanan itu, maka akan mencari lubang-lubang dan mulailah penawaran-penawaran,’’ tegasnya.(fia/a)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org