| Robert R Aritonang, GM PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau |
| Minggu, 06 April 2008 | |
|
Kita Sudah Perlu ”Buku Putih” Kelistrikan
GM PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR) Robert R Aritonang mengatakan untuk penataan kelistrikan di masa hadapan perlu dirancang melalui sebuah satu grand master yang ia sebut sebagai ”buku putih”. Buku yang berisi rancangan-rancangan itu merupakan kesepakatan yang dibuat pemerintah daerah, dalam hal ini Distamben Provinsi Riau, bekerja sama dengan PLN, ataupun pihak-pihak terkait lainnya. ”Agar listrik di Riau tidak seperti tambal sulam, atau seperti pemadam kebakaran saja. Hanya bersifat sporadis semata,” kata Robert R Aritonang kepada wartawan Riau Pos Ekka PN, saat dihubungi melalui telepon selulernya malam tadi. Seperti apa pernyataan GM PLN WRKR Robert R Aritonang yang baru saja menjabat di Riau menggantikan Ahmad Taufik Haji ini? Berikut petikan wawancara singkatnya. Bisa dijelaskan gambaran umum tentang defisit kelilstrikan di Riau saat ini? Ya, Riau sama dengan banyak daerah lain di Indonesia, kita masih mengalami defisit yang cukup besar. Daya beban puncak listrik di Riau khususnya sebesar 230 MW, sementara sistem yang memasok kita hanya 130 MW. Maka defisit yang ada di daerah kita mencapai100 MW. Kalau dilihat dengan keadaan Riau sekarang, apakah defisitnya akan semakin besar? Selama pasokan cukup lalu beban di bawahnya aman, sebenarnya kita tidak ada masalah. Tapi masalahnya pasokan kita masih belum cukup untuk memenuhi tingginya keperluan masyarakat terhadap listrik. Kenapa sampai pemadaman, itu artinya pasokannya sedang tidak cukup. Ini adalah akibat dari beberapa pembangkit kami banyak yang dalam proses. Kami sedang menyusun strategi agar bisa melayani permintaan masyarakat umum maupun dunia industri secara penuh mengingat kondisi sekarang yang masih defisit ini. Tingkat pertumbuhan Riau terbilang tinggi, seperti apa antisipasi kita? Antisipasi kita selama ini adalah membangun pembangkit-pembangkit baru. Misalnya PLTU di Tanjungpinang 2 x 12 MW. Ini sebetulnya menunjukkan kami sedang mencari pasokan-pasokan baru yang dimungkinkan dapat membantu sistem kami. Saran kami kepada swasta jika dimungkinkan, ada leader-nyalah. Dalam merencanakan kelistrikan kita kan tidak ingin ada kesan kita sedang tidak punya program. Di mana potensi sumber daya listrik langsung pasang pembangkit. Kita harus punya panduan yang jelaslah dan terukur. Maksudnya, seperti apa itu? Ya. Karena itu kita inginkan semacam buku putih, dalam arti ada leader atau yang memimpin pembangunan kelistrikan. Katakanlah dalam kelistrikan di Riau nanti, dalam buku putih itu semua pihak yang berkompeten terlibat, terutama pemerintah daerah dan PLN. Pemprov dalam hal ini Dinas Pertambangan Provinsi bisa menjadi leader. Kita petakan seperti apa listrik Riau dalam lima tahun ke depan. Katakanlah kita perlu 400 MW. Di buku putih itu harus kita buat 600 MW daya baru untuk memasok kebutuhan listrik Riau. Dari mana pasokannya 600 MW, nanti PLN lihat dari sistem yang ada, seperti apa keadaan PLN dalam lima tahun ke depan. Inilah yang perlu disingkronkan, atau dikoordinasi lebih lanjut. Buku putih berisikan kesepakatan rancangan antara pihak terkait beserta dengan peraturan estetika yang selaras dengan keselamatan lingkungan sekitar. Kalau ini sudah menjadi satu konsep yang sama, ini lebih bagus. Tapi saya tidak mengatakan yang sudah ada ini kurang bagus lho. Saya cuma punya obsesi bahwa kita ke depan ini harus punya konsep yang menyeluruh saja. Kalau dilihat keinginan pemerintah pusat yang tertuang dalam program listrik 10.000 MW sampai dengan tahun 2010, bagaimana kemampuan Riau? Kita kebagian yang kecil-kecil saja. Ada yang Tanjungpinang 2x12 MW, Tanjungbalai Karimun 2x7 MW, Bengkalis 2x10 MW, Selatpanjang 2x7 MW. Kalau sinyal Perpres ini sudah ditangkap oleh Distamben, tentu harus kita satukan. Distamben akan berdiskusi dengan kami, seperti apa rencana PLN? Hal-hal semacam inilah yang perlu kita rancang di dalam buku putih dimaksud. Bagaimana pula dengan adanya pembangunan sejumlah gedung-gedung besar yang nantinya pasti memerlukan listrik yang besar pula? Termasuk tentang persiapan PLN membantu kesiapan PON di Riau. Secara informal saya sudah dapat informasi ini dari Pak Wawako Erizal Muluk langsung, bahwa Riau memerlukan listrik untuk membantu investor-investor, termasuk soal PON nanti. Itu sudah dalam target kami untuk melayani. Persoalannya tahun berapa. Mudah-mudahan dalam sistem Sumatera, keperluan itu bisa kita akomodir. Mudah-mudahan kalau kami tidak salah, pada tahun 2010 sistem Sumatera sudah bertambah kuat. Namun perlu dicatat pula, selama pasokan tidak cukup, beban sangat tinggi. tentu saja secara logika di atas kertas, kami pasti kesulitan melayani mereka. Kalau pun bisa kami layani, itu dengan catatan-catatan tertentu. Catatan seperti apa? Ya catatan bahwa pemakaian listrik mereka nantinya harus selaras dengan ketentuan penghematan yang sedang dijalankan PLN. Hindari pemakaian berlebihan pada masa beban puncak, dan lain sebagainya. Namun secara prinsip PLN tetap dalam tugasnya melayani kebutuhan masyarakat. Terus apa komentar Anda kalau ada masyarakat yang menilai PLN lebih mengutamakan calon pelanggan yang besar-besar daripada masyarakat kecil. Ini terkait dengan listrik terhadap sejumlah bangunan atau gedung yang sedang dibangun saat ini? Saya tidak melihat kalau pelanggan besar ini dilayani atau pelanggan kecil tidak dilayani. Prinsip PLN adalah first in first out. Siapa yang dulu masuk dia yang lebih dulu dilayani. Hanya mungkin di sistem kami itu ketersediaan dayanya (untuk gedung-gedung besar tersebut) memang masih cukup. Pada tempat-tempat yang di dalamnya ada beribu-ribu rumah pelanggan jumlah dayanya tidak sebesar gedung-gedung ini. Di rumah-rumah yang sedang antri itu keadaanya belum memungkinkan. Ketersediaan kita belum cukup untuk mereka. Namun perlu diingat pula bahwa kenyataan di lapangan pemakaian listrik di rumah-rumah pelanggan yang kecil tersebut lebih besar daripada yang tertera dalam kontrak. Artinya ada penyelewengan daya listrik di sana, ini adalah problem yang sedang kami tertibkan. Bagi kami akan lebih mudah mengendalikan pelanggan besar karena kami kami punya rasio proteksi khusus. Kalau ada penyimpangan kita, kita tinggal tindak. Jauh lebih mudah dibandingkan yang kecil-kecil tadi.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





