| Armiyanto (34), Usaha Pembuatan Stempel “Buya Reklame” (14) |
| Minggu, 30 Maret 2008 | |
|
Panen, Ketika Musim Politik Tiba
Ada tiga jenis pekerjaan yang sedang dilakoninya sekarang: menerima pesanan membuat taman, pengobatan secara tradisional alias menjadi tabib, serta membuka usaha stempel dan reklame. Dari ketiga pekerjaan tersebut, menjadi pembuat stempel-lah yang menjadi tulang punggung asap dapur keluarganya. Laporan EKKA PN, Duri
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
“Kalau membuat stempel dan spanduk kan banyak pemesannya. Alhamdulillah, asap dapur keluarga dari sinilah sumber utamanya. Sementara membuat taman hanya sekali-sekali yang bertanya, begitu pula dengan pekerjaan mengobati orang yang sakit,” jelas Armiyanto (34) yang ditemui Riau Pos di depan kios tempat usahanya. Tak dapat dipungkiri, bisnis stempel yang dilakoni Armiyanto sekarang ini memiliki prospek yang sangat bagus. Pesanan yang diterimanya tidak hanya dari kawasan Duri saja, bahkan banyak yang datang dari Dumai, Bagan Siapi-api dan kota-kota di sekitarnya. Agaknya ini juga didukung oleh faktor lokasi, di mana usaha Armiyanto berada di pinggir ruas Jalan Hang Tuah, sebuah jalan utama yang dilalui setiap kendaraan dalam dan luar kota. Menurut Armiyanto ketika sedang musim Pilkada atau sedang ada acara-acara semacam musyarawah partai maka itu tandanya sedang memasuki masa sibuk. Apabila musim panen tiba tak jarang dia harus mengurangi jatah tidurnya karena harus menyelesaikan pesanan yang selalu minta disiapkan dalam waktu dekat. Begadang sampai dini hari sudah menjadi kebiasaan Armiyanto. Uniknya semua itu dikerjakannya sendirian. Seorang pegawainya hanya diperbantukan sebagai penjaga kios dan mengurusi pesanan masuk dan pesanan keluar. “Saya kan sudah dibantu komputer. Sejak awal saya sudah menggunakan program komputer biar hasilnya lebih bagus, rapi serta sangat membantu pekerjaan dari segi tenaga dan waktu. Makanya karyawan utama saya itu adalah komputer,” ujar Armiyanto. Kendati memanfaatkan kecanggihan teknologi namun Armiyanto masih melayani pesanan pengerjaan manual atau stempel yang dikerjakan dengan cara mengukir. Diakuinya pembuatan stempel dengan tangan ini memiliki ciri khas tersendiri yang masih ada peminat. Biasanya yang memesan stempel tangan ini adalah orang-orang yang punya usaha sendiri yang punya prinsip kehati-hatian. Pasalnya, stempel yang dibuat dengan tangan seorang tukang stempel tidak akan mudah ditiru oleh orang lain sekalipun dia lagi yang membuatnya. Dengan demikian stempel buatan tangan Armiyanto masih menjadi pilihan. Selain stempel tersedia juga jasa pembuatan spanduk, reklame dan plat kendaraan bermotor. “Kantor” boleh sangat sederhana tetapi itu jenis usaha Armiyanto cukup banyak. Selain yang sudah disebutkan tadi, ada satu usaha lagi yang juga ramai dicari masyarakat, yaitu penggandaan kunci. “Apa-apa sajalah Bang. Selagi masih mungkin kita kerjakan, ya kita ambil rezeki itu. Termasuk menerima pesanan lukisan, baik lukisan pemandangan maupun lukisan wajah,” jelas alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa Padang jurusan lukis. Modal Awal Rp5 Juta Memasuki tahun 2008 maka genap sudah tiga tahun usaha stempel “Buya Reklame” ini. Seiring perjalanan waktu perkembangan bisnis yang dikelola Armiyanto pun berkembang lancar. Boleh dikatakan dia tak pernah sampai mengalami putus orderan alias menganggur. “Seperti hari ini saja”, katanya, “Saya agak terlambat datang menjumpai Bapak sebab saya tadi sedang sibuk menyiapkan puluhan stempel yang akan diambil siang ini.” Pesanan siapa? “Punya pemerintahan. Stempel resmi untuk kelurahan-kelurahan yang ada di Kota Dumai,” jawab Armiyanto. Diceritakannya, keahlian membuat stempel didapati dari seorang rekannya di Dumai yang juga membuka usaha stempel di sana. Pengalaman membantu sang rekan itulah membuat Armiyanto memiliki sedikit demi sedikit keterampilan mengukir nama dan gambar di atas permukaan karet stempel. Bagi seorang lulusan sekolah seni rupa tentu saja tingkat kesulitan yang dialaminya tidak sebesar mereka yang benar-benar baru mengenal seni ukir. Hasil kerja Armiyanto begitu rapi yang mampu memuaskan pelanggan. Tak berapa lama usaha temannya pun semakin ramai. Setelah satu setengah tahun berjalan Armiyanto mendapat saran agar mencoba membuka usaha sendiri. Adapun kota yang hendak dituju Armiyanto selepas berpisah dari Dumai adalah Duri. Dia melihat prospek perkembangan Duri tidak kalah dengan Dumai. Tingkat perekonomian usaha masyarakat yang terbilang tinggi menjadi pertimbangan utamanya. Di Duri dia membuka kios di Jalan Hang Tuah, bertepatan di depan kantor PT PER Perwakilan Duri. Agar menarik kios yang berbentuk gerobak dengan ukuran 1 x 2 meter itu dia cat dengan warna merah nyala. Di depan dan samping kios ditulis merek dengan huruf berukuran besar. Sehingga dari kejauhan pun sudah terlihat. Modal awal sebesar Rp5 juta yang digunakan membeli satu unit komputer dan peralatan percetakan. Oleh sebab bertetangga dengan PT PER itulah, ia pun mengenal dengan baik setiap pegawainya. Kedekatan itu rupanya menjadi modal awal sehingga Armiyanto mendapat penjelasan administrasi tentang peminjaman modal. Untuk jenis pinjaman di bawah Rp5 juta atau yang dikenal “Bakulan”, cukup menjadikan surat nikah sebagai jaminannya. Dan, Armiyanto mengikuti syarat tersebut untuk mendapatkan dana Rp500 ribu sebagai modal tambahan membeli obat-obat sablon. “Saya kenal dengan dengan PT Per waktu PT PER baru dua bulan buka kantor di sini. Awalnya saya pinjam Rp500 ribu sampai beberapa kali. Dan sekarang saya pun masih meminjam modal dari sini. Kemarin pengajuan saya sebesar Rp2,5 juta disetujui. Alhamdulillah, bisa buat nambah beli bahan lebih banyak lagi sebab orderan saya sekarang lagi ramai,” terang Armiyanto.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






