| Jiwa |
| Minggu, 30 Maret 2008 | |
|
Oleh: Tengku Dahril
Sungguh Maha Agung Allah Yang Maha Berilmu. Dia mencipta alam semesta ini dengan ilmu-Nya. Dia yang merancang, Dia yang melaksanakan dan Dia jugalah yang menjaganya, sehingga dunia ini masih tetap ada sampai dengan detik ini. Andaikan Dia berkehendak untuk menghancur-leburkan dunia ini, maka kehendak-Nya pastilah berlaku. Dunia ini akan hancur lebur dan rusak binasa, maka terjadilah hari kiamat. Kita sungguh pantas bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena masih diberi-Nya kesempatan untuk hidup di permukaan bumi ini. Walaupun banyak di antara kita yang ingkar kepada-Nya, Dia tetap mecurahkan rahmat dan kasih sayang yang tak terhingga kepada kita semua, sehingga kita masih bisa menghirup udara segar di mana-mana. Andaikan Allah mau memusnahkan manusia ini seluruhnya dan menggantinya dengan mahluk yang lain, maka itu merupakan suatu hal yang mudah bagi Allah, karena Allah Maha Kuasa. Sungguh beruntunglah orang-orang yang memahami hakekat Kemaha-besaran dan Kemaha-sempurnaan Allah. Di mana-mana dia membaca ayat-ayat Allah yang tertulis (Alquran) dan yang tidak tertulis (alam semesta). Tatkala dia menuntut ilmu, dia paham bahwa dia sedang belajar Ilmu Allah. Allahlah yang mencipta apa-apa yang sedang dia pelajari itu. Tidak ada satupun yang tidak diciptakan Allah. Segala apa yang ada di langit, segala apa yang berada di bumi, segala apa yang ada di antara keduanya, adalah hasil karya cipta Allah. Termasuk dirinya sendiri sebagai hasil karya cipta Allah yang teramat Agung. Manusia adalah mahluk Allah yang teramat sempurna, karena dia adalah mahluk ghaib sekaligus mahluk nyata. Manusia disebut sebagai mahluk ghaib, karena memiliki kalbu atau jiwa atau juga sering disebut dengan roh, dan mahluk nyata, karena memiliki jasad atau organ tubuh yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun semua kita pasti sangat sadar bahwa organ tubuh kita ini dikendalikan oleh roh atau jiwa kita. Itulah hakekat kehidupan seorang anak manusia yang sesungguhnya tatkala jiwa dan raga masih berada dalam kesatuan yang utuh. Raga kita bisa hancur, tetapi jiwa kita Insyaallah tetap utuh. Hanya jiwalah Insyaallah yang akan dimintakan pertanggungjawaban kelak di hari kemudian. Sedangkan raga kita yang hancur, Insyaallah akan diganti Allah dengan raga yang baru dalam bentuk yang semua kita mengetahuinya. Organ tubuh kita ini tidak ubahnya seperti sebuah mobil yang dikendalikan oleh seorang supir. Kalau mobil ini menabrak sesuatu, maka sang supirlah yang harus bertanggungjawab terhadap setiap kerusakan. Dia yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk mengendalikan mobil tersebut. Mobil boleh saja hancur, tetapi sang supir tetap eksis dan harus bertanggungjawab terhadap mobil yang dikendalikannya itu. Itulah hakekat kehidupan seorang anak manusia yang sesungguhnya sebagai mahluk ciptaan Allah. Sungguh beruntunglah orang-orang mampu memaknai hidup ini dan senantiasa menjadikan hidup ini bermakna. Dia senantiasa berupaya membersihkan kalbunya, mensucikan jiwanya. Untuk itu dia harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Yang Maha Suci, Maha Bersih. Obat yang paling ampuh untuk membersihkan jiwa adalah dengan berzikir mengingat Allah dan memuji Kebesaran-Nya. Menghadirkan Allah dalam hati sanubari setiap saat adalah merupakan amal saleh yang teramat besar pahalanya. Sungguh beruntunglah orang-orang yang senantiasa berzikir dengan mengingat Allah dan membawa-Nya dalam setiap aktifitas pekerjaannya. Berzikir adalah sebuah pekerjaan hati, nurani atau jiwa. Paling tidak lima kali dalam sehari semalam kita dituntut untuk berzikir, memuji kebesaran Allah dengan mengingat Allah. Itulah salat wajib yang semestinya kita lakukan. Banyak orang yang salat, tetapi dia tidak berzikir. Jasadnya menghadap Allah, tetapi hatinya tidak. Orang-orang seperti ini termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang lalai. Karena itu salatnya menjadi tidak bermakna, tidak membekas dalam hati sanubarinya. Salat seperti ini tidak akan mampu membawa perubahan ke dalam pola hidup dan tingkah laku, dan akan menjadi sia-sia. Bagaikan seorang anak yang sedang belajar. Guru yang memberi pelajaran sama, tetapi kemampuan anak untuk menangkap pelajaran berbeda tergantung kepada sejauh mana seorang anak mampu mengadirkan jiwanya dalam menerima pelajaran. Itulah yang dimaksud dengan konsentrasi. Kalau tubuh kasar saja yang hadir, tetapi hati tidak, maka anak tersebut tidak akan mendapatkan apa-apa. Arang habis besi pun binasa. Oleh karena itulah seorang guru yang bijak dituntut untuk memusatkan perhatian anak terhadap segala apa yang sedang dipelajarinya. Tanpa itu, pendidikan kita akan menjadi sia-sia. Seorang juru dakwah dalam memberi pelajaran agama pun sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menyentuh hati sanubari jamaah yang sedang dihadapinya. Untuk itu dia memerlukan taktik atau strategi bagaimana seorang jamaah tersentuh hatinya, sehingga benar-benar mampu memahami materi yang sedang diberikan. Tanpa itu dakwah yang dilakukan akan menjadi sia-sia. Hal ini tentu saja sangat ditentukan oleh ketulusan hati seorang juru dakwah untuk menyampaikan risalah ajaran yang sedang diperankannya. Kalau seorang juru dakwah benar-benar ingin menyampaikan risalah Ketuhanan dengan semata-mata ingin mendapatkan rido Allah, maka ia biasanya benar-benar akan menghayati materi yang akan disampaikan dengan harapan orang-orang yang mendengarnya benar-benar paham terhadap apa yang disampaikan. Namun kalau tidak, dampaknya menjadi berkurang. Pada hari ini kita melihat negeri kita sedang berada pada suatu persimpangan menuju kepada sebuah perubahan besar dan mendasar. Perubahan itu bisa ke arah kebaikan dan bisa pula ke arah keburukan. Kita sangat prihatin, karena di mana-mana kita melihat ummat Islam banyak yang sudah tidak mengindahkan ajaran agama yang dianutnya. Selain hukum Islam tidak bisa ditegakkan, orang-orang Islam juga sudah tidak begitu peduli dengan ajaran agamanya. Jasadnya saja yang Islam, tetapi jiwanya tidak. Padahal jiwa inilah nanti yang akan diminta pertanggung-jawaban di hadapan Tuhan. Untuk menghadapi perubahan besar dan mendasar yang sedang kita hadapi saat ini, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali dengan membentengi diri dan anak-anak muda kita dengan ilmu ketuhanan. Kita harus paham betul dengan sifat-sifat Tuhan yang kita sembah. Ilmu tauhid benar-benar harus hidup dalam hati sanubari ummat islam. Tanpa ilmu tauhid, jiwa kita akan hampa, rusak, hancur dan binasa sehingga ibadah menjadi sia-sia. Wahai ummat Islam, Bangsa Indonesia, mari kita bangun jiwa dan raga kita dengan ilmu ketuhanan dan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan berzikir, membaca Alquran dan mengingat akan kematian yang semua kita pasti tidak akan dapat menghidarinya. Jadikanlah Allah sebagai gantungan hidup, dari setiap aktifitas yang kita lakukan. Dengan cara itulah Insyaallah pertolongan Allah akan datang kepada kita sebagai sebuah bangsa besar hidup lebih sejahtera. Amin.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



