| Dinawati SAg, Sekjen DPP Iwapi Periode 2007-2012 |
| Minggu, 30 Maret 2008 | |
|
Lestarikan Budaya, Tingkatkan Ekonomi
Selama ini, pengusaha selalu didominasi oleh kalangan pria. Kalaupun ada perempuan, biasanya keberhasilan dan popularitasnya selalu didongkrak dan bergantung kepada kepopuleran seorang figur pria. Bisa jadi berlindung pada kekuatan suaminya, pengaruh anaknya, atau laluan yang diberikan koleganya yang lain. Sangat jarang pengusaha perempuan yang mandiri. Lebih jarang lagi pengusaha perempuan yang memulai sendiri usahanya, mengembangkannya, dan mempertahankannya. Mengatasi kelemahannya, pengusaha perempuan pun membangun organisasi yang dijadikan tempat untuk bernaung, alat untuk menaikkan daya tawar, tempat mereka belajar dan meningkatkan kapabilitas. Namanya Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi). Namun organisasi yang menyebar di seantero Indonesia ini, dinilai masih belum bisa mengayomi semua pengusaha perempuan, terutama pengusaha kecil dan menengah. Masalahnya, Iwapi cenderung elitis. Pengurusnya pun selalu dikaitkan dengan kekuasaan dan birokrasi sulit. Sehingga pengusaha kecil dan menengah pun menjadi minder. Merasa malu untuk bergabung dan mengembangkan diri. Lalu, bagaimana ke depannya? Apakah pengusaha perempuan masih berkutat dan tak bisa lepas dari labirin yang terkesan sengaja diciptakan? Pada akhir tahun lalu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Iwapi sudah memilih Ketua Umum. Saat itu, Rina Fahmi Idris terpilih sebagai Ketua Umum. Perempuan berdarah Minangkabau dan masih berumur 35 tahun ini, menjadi Ketua Umum termuda dalam sejarah kepemimpinan di Iwapi. Dan, pada Februari 2008, Rina Fahmi membentuk pengurus lengkap. Saat itulah, nama Dinawati SAg dimunculkan dan dikukuhkan sebagai Sekretaris Jenderal. Selama ini, jabatan tersebut belum pernah dipercayakan kepada perempuan pengusaha dari Riau. Tentu ini akan menjadi kepercayaan, peluang, dan juga tantangan. Bagaimana rencana kerjanya ke depan? Bagaimana pula latar belakang usaha tokoh yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI ini, serta apa inspirasi yang bisa dianugerahkannya kepada pengusaha perempuan di Riau? Berikut wawancara wartawan Riau Pos Saidul Tombang dengan Dinawati, beberapa waktu lalu. Apa komentar Anda setelah ditunjuk Rina Fahmi Idris, Ketua Umum DPP Iwapi, sebagai Sekjen? Kata orang, untuk menjadi Sekjen Iwapi Pusat adalah pekerjaan yang sulit. Saya pikir pendapat itu ada benarnya. Karena selama ini belum ada satupun pengusaha perempuan Riau yang ditunjuk sebagai Sekjen. Tapi, kali ini kita sudah membuktikan bahwa Riau bisa menempatkan perempuannya di sana. Ini saya pikir sebuah prestasi yang bagus. Saya minta doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Riau, terutama pengusaha perempuan, agar amanah ini bisa dijalankan dan nama Riau bisa ikut saya angkat di level nasional. Bisa diceritakan bagaimana latar belakang sehingga Anda terpilih di tengah banyaknya pengusaha perempuan lain yang juga sedang bersinar? Proses ditunjuknya saya sebagai Sekjen sebenarnya memang dilatarbelakangi karena profesionalitas juga. Selain sebagai pengurus dan anggota Iwapi Riau, tentu saja orang melihat latar belakang dan semangat saya membangun usaha. Saya pikir, ini juga soal enterpreneur. Ketua Umum Iwapi, Ibu Rina Fahmi Idris, mungkin memandang saya bisa memegang amanah itu. Selain itu, secara politis memang DPD Iwapi Riau berperan penting dalam kesuksesan Munas DPP Iwapi Pusat tersebut. Dan terpilihnya Ibu Rina Fahmi Idris juga atas perjuangan Kaukus Sumatera yang dimotori oleh Iwapi Riau dengan motor penggerak utama Ketua DPD Iwapi Riau Ibu Irma Rahman dan Sekum Ibu Nasriya, dan tentunya juga saya. Dalam Munas akhir tahun 2007 lalu, kita dari Riau membuat inisiatif, menyusun sistem, menerapkan langkah strategis untuk menggolkan Ibu Rina dipilih sebagai ketua umum. Di sisi lain, pihak kontra Kaukus Sumatera saat itu selalu berusaha mendiskreditkan keberadaan Ibu Rina dan menghalanginya dengan berbagai alasan. Kelompok ini menganggap Ibu Rina masih terlalu muda, umurnya belum 35 tahun, belum masanya dijadikan pemimpin, dan memang bukan dari lingkaran ’’orang elite’’ Iwapi Pusat. Sekadar diketahui, selama ini pimpinan dan pengurus Iwapi itu selalu dikaitkan dengan kalangan elite. Pengurusnya banyak terlihat dari pengusaha besar, kalangan ’’darah biru’’, dari lingkaran pejabat tinggi, dan lainnya, yang sesungguhnya menurut saya kontraprodukif dengan visi dan misi Iwapi sebagai tempat berlindung seluruh pengusaha perempuan di Indonesia. Apa alasan Kaukus Sumatera yang dimotori Iwapi Riau sehingga memperjuangan dan memilih Rina Fahmi Idris sebagai pucuk pimpinan? Saya sendiri, mendukung Rina Fahmi bukan atas dasar deal-deal politik atau bagi-bagi jabatan. Saya benar-benar mendukung Ibu Rina dengan alasan yang sangat rasional. Selain merasa Ibu Rina didiskreditkan, saya juga melihat sosok Ibu Rina pantas menjadi pimpinan. Dia orangnya sangat enerjik, mempunyai pandangan luas ke depan, dan tidak terbawa dalam pola-pola konvensional. Karena itu pula saya menjadi orang terdepan untuk menangkis serangan pihak lain yang coba membunuh karakter Ibu Rina. Saat membelanya, sedikitpun tidak terpikir bagi saya untuk meminta jabatan. Bahkan saya tidak masuk bursa apapun saat Rina mulai menyusun kabinetnya. Beberapa waktu kemudian saya ’’hanya’’ diplot Ibu Rina menjadi salah seorang pengurus biasa saja. Namun kemudian entah karena pertimbangan apa, saya dimintanya menjadi Sekjen. Mendapat tawaran seperti itu, saya beberapa kali menyampaikan cukup sebagai pengurus biasa saja. Selain karena kesibukan saya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), saya juga menjadi Ketua Umum Muslimat NU Riau, dan beberapa organisasi lainnya. Namun setelah saya meminta pendapat kepada banyak pihak, terutama kepada pengurus Muslimat NU, Iwapi Riau, anggota DPD RI, dan beberapa tokoh lainnya, akhirnya saya mau menerima. Apa alasannya sehingga Anda mau menerima jabatan tersebut? Ada beberapa alasan saya mau menerima jabatan ini. Terutama saya ingin adanya keterwakilan Riau di Iwapi Pusat, bukan hanya sebagai pengurus biasa, tapi juga sebagai pengambil keputusan. Dan itu sebenarnya sudah terasa saat pengukuhan ketua umum dan Sekjen. Sampai-sampai Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Lukman Edi terkejut karena pembawa acara saja orang Riau. Begitu juga dengan nuansa pelantikan yang sangat bernuansa Melayu Riau. Saya juga punya keinginan sangat kuat untuk memperbaiki imej bahwa Iwapi adalah tempat berkumpulnya pengusaha perempuan yang elitis. Karena, yang sesungguhnya berhimpun di sini, diberikan pembekalan, diberikan perlindungan, dan dikembangkan usahanya mayoritas adalah pengusaha kecil dan menengah. Karena, jumlah mereka sangat banyak dan sangat memerlukan bantuan agar mereka bisa berkembang. Apa yang akan Anda lakukan setelah dikukuhkan sebagai Sekjen Iwapi Pusat? Pada dasarnya, Iwapi itu sudah besar dan mempunyai citra yang patut dibanggakan. Sekarang tinggal peningkatan sesuai dengan kondisi Indonesia kekinian. Saya selalu akan berkiblat dan menerjemahkan visi dan misi Ketua Umum, tak mungkin saya membuat keinginan sendiri. Saya juga akan berkonsolidasi di bidang internal, terutama untuk pekerjaan kesekjenan di DPP dan di DPD seluruh Indonesia. Secara eksternal, orang luar bisa melihat bahwa dunia internasional perkembangan pengusaha perempuan di Riau dan potensinya. Apa kepentingan Riau yang akan Anda perjuangkan di DPP Iwapi ini? Yang jelas, Rakernas di bulan April atau Mei nanti akan dilaksanakan di Riau. Ini salah satu bukti bahwa kita ingin memproklamirkan kepada semua pengusaha perempuan di Indonesia, inilah Riau. Kedua, kita berharap pada Rakernas itu bisa didapatkan masyarakat Riau azas manfaat, terutama pendapatan ekonomi bagi UKM-UKM yang ada. Bisa saja terbuka program dan peluang lain bagi pengusaha Riau tersebut untuk menjalin kerja sama, berbagi informasi investasi, dan lainnya. Pada Rakernas nanti kita juga berharap ada peluang bisnis yang kita dapatkan dari adanya beberapa orang yang duduk di DPP. Jadi saat ini yang duduk di pengurus pusat itu bukan hanya saya. Ada juga Ibu Irma Rahman dan juga Ibu Nasriya yang memegang jabatan cukup penting di DPP. Bisa diceritakan latar belakang Anda, dan usaha yang Anda bangun sehingga bisa sampai sekarang? Saya seperti ini saya mulai dari sebuah kemandirian. Sebagai perempuan Melayu, saya ingin meruntuhkan sekat-sekat dan tudingan yang menyatakan bahwa kami hanyalah perempuan yang hanya bisa mengurus rumah. Dengan latar belakang seperti itu, ditambah pula dengan bekal pengetahuan manajemen usaha dan resep makanan, sayapun mulai dengan mantap. Artinya, saya menciptakan sesuatu yang baru, baik bagi diri saya, bagi keluarga, bahkan masyarakat luas. Di dalam keluarga, saya selalu berpikir harus mempunyai sesuatu yang positif. Di tengah masyarakat, terutama bagi masyarakat Riau, saya ingin menciptakan sesuatu yang bernilai, bahkan menciptakan luang pekerjaan bagi mereka dan bahkan memberikan lapangan pekerjaan buat orang lain. Sejak awal, saya memulai usaha dari nol. Saya sesungguhnya otodidak, belajar dari pengalaman saja. Kondisi itu sudah menempa saya, menguji nyali, mengukuhkan semangat saya yang terus membara. Makanya dari pengalaman itu saya sangat tahu dimana letak suka dan duka, untung atau rugi, mitra atau kompetitor, dalam mendirikan dan mengembangkan usaha. Saya juga belajar banyak serta menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada sesepuh yang sudah memberi inspirasi dan dorongan yang kuat bagi saya. Saya selalu belajar bahwa yang bisa mengubah diri kita dan membuat kita mandiri adalah diri kita sendiri. Orang lain tidak pernah menjadi penentu keberhasilan kita. Hanya keinginan yang kuat, kerja bersemangat, belajar dari kesalahan, dan menerapkan prinsip ikhlas, yang membuat kita berhasil. Bisa diceritakan usaha Anda dan bagaimana Anda mengembangkannya? Saya adalah pengusaha bolu kemojo. Di bawah bendera usaha yang diberi nama Almahdi dan didirikan tahun 1997, saya ingin mengenalkan makanan kecil ini ke mata semua orang, mencicipkan ke seluruh lidah orang. Memang, selama ini bolu kemojo bisa dijumpai di mana-mana. Namun bolu kemojo yang mereka buat sebatas untuk dibagi dalam acara keluarga, makanan kecil saat Idul Fitri, atau lainnya. Bolu kemojo bukanlah usaha yang bisa mendatangkan hasil. Saat ini, bolu kemojo yang saya bangga-banggakan itu, diakui belumlah memberikan keberpihakan terhadap seluruh aspek kehidupan. Tapi ada nilai-nilai yang sudah saya tuinjukkan kepada masyarakat Riau, bahwa dari usaha itu, saya sudah bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat. Tapi saat ini kita bisa tinjau sendiri, kita bisa data ada 30 pengusaha bolu kemojo di Riau yang secara sengaja atau tidak telah terinspirasi dan termotivasi dari keberadaan Almahdi. Saya pikir ini adalah bukti nyata bahwa ketika kita bisa berkonsentrasi bahwa sesuatu itu bisa punya nilai, maka kita bisa membuatnya lebih bernilai. Saya memang sangat total dalam mengembangkan usaha dan pengusaha kecil dan menengah. Bahkan saya tidak segan-segan memberikan resep bolu kemojo maupun resep bisnis kepada pengusaha lain. Padahal, bagi pengusaha lain, ’’resep’’ adalah ’’periuk nasi’’ yang harus dijaga dan sangat tabu bila harus dibagi dengan pihak lain. Bagi saya, dapat mengembangkan bisnis yang berbasis budaya Melayu, terutama di bidang makanan, adalah hal yang sangat membanggakan. Bahkan, pada packaging usaha bolu kemojo yang saya buat berbunyi lestarikan budaya, tingkatkan ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, saya tidak hanya terfokus untuk menjalankan usaha pribadi, tapi saya mengembangkan sayap dengan cara melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil dan menengah lainnya yang tertarik berbisnis bolu kemojo atau jenis makanan atau minuman yang lainnya. Dari kegigihan saya mengembangkan usaha dan pengusaha ini, orang kemudian memberikan gelar kepada saya Ibu Bolu Kemojo. Jadi, ketika disebut Dinawati saja, dulu, banyak yang tidak kenal. Tapi ketika dikatakan Dinawati Bolu Kemojo, banyak yang mengatakan kenal. Usaha yang saya rintis memang tidak elitis. Terus terang, sebagian pengusaha besar atau orang-orang elit tidak mengenal bolu kemojo, dulu. Namun dari akar rumput ini pula saya kemudian mengembangkannya menjadi lebih dikenal. Saat ini bisa Anda lihat bahwa bolu kemojo sudah menjadi bagian oleh-oleh terpenting dari Riau. Apa imbauan dan pesan Anda kepada pengusaha perempuan di Riau? Atas nama Sekjen Iwapi saya mengimbau kepada seluruh pengusaha perempuan di Riau, baik pengusaha besar atau kecil, bahkan yang akan atau baru memulai usaha, bergabunglah dengan Iwapi. Saya tegaskan, Iwapi bukan organisasi elit. Semua orang boleh bergabung di sini. Bahkan, pada kepemimpinan kali ini kita sangat mementingkan pengusaha kecil dan menengah itu. Atas nama pengusaha, saya mengimbau kepada semua pengusaha perempuan di Riau agar terus berkarya, menciptakan inovasi baru, dan tidak mudah menyerah. Usaha yang kita bangun adalah bagian perjuangan, bukan hanya untuk hidup, tapi juga kehidupan.(fia) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





