Jumat, 21 November 2008 || 22 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Kiat Sukses Toilet Training
Minggu, 30 Maret 2008
  Lulu, bocah lucu berpipi chubby, duduk dengan tegang. Wajahnya mengkerut. Saat ditanya guru taman bermain tempatnya bersekolah, Lulu hanya menggeleng-geleng sambil menangis. Oo..ternyata Lulu buang air besar alias pup di celana. Adegan yang terjadi di depan kelasnya itu teryata menarik perhatian ibu-ibu yang lain. “Ih, sudah tiga tahun lebih kok masih pup di celana ya,” celetuk seorang ibu.
Laporan Indriaty Susanto Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

 Mengajari anak menggunakan toilet dengan benar atau toilet training (TT) memang susah-susah gampang. Banyak anak yang sudah tidak ngompol lagi selepas merayakan ulang tahun pertamanya. Tapi banyak juga yang masih pup di celana meski sudah masuk taman kanak-kanak.

 Kapan anak siap untuk toilet training? Para ahli sepakat tidak ada patokan usia kapan TT harus dimulai. Namun dianjurkan sejak usia 12 bulan anak sudah harus mendapat latihan TT.

 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri dalam situsnya menjelaskan, TT sebaiknya dilakukan secara bertahap. Namun yang penting, anak seharusnya juga sudah siap secara emosional. Harus ada kemauan sendiri, tidak melawan atau menunjukkan tanda-tanda ketakutan.

 Sebagai tahap awal, misalnya dengan disiplin membawa anak ke toilet setiap kali dia buang air kecil (BAK) atau pup. Jadi, meskipun anak sudah pup di celana, bawalah dan cebok-lah dia di toilet. Dengan begitu, anak akan mengerti kalau toilet adalah tempat untuk buang air.

 Dan melakukan TT juga harus sabar dan telaten. Jangan ada paksaan, kemarahan, apalagi penghinaan. Jangan sekali-sekali mencemooh atau menghina anak dengan sebutan ‘’jorok’’, ‘’nakal’’ dan makian lainnya hanya karena dia tidak bisa mengontrol air kemih. Karena itu justru akan memperburuk keadaan.

Percaya Diri

 Namun kebanyakan, anak-anak berusia dua tahun lah yang lebih siap menjalani TT. “Menurut pengalaman saya, anak usia dua tahun ke atas sudah mampu dilatih toilet training. Bahkan juga diajarkan untuk lebih mandiri, misalnya membuka dan memasang celana sendiri setelah buang air kecil atau pup,” kata Dina Suryani, kepala sekolah playgroup-TK Education 21 Teratai Pekanbaru, kepada Riau Pos, kemarin.

Dina menjelaskan, mengajarkan TT bisa dilakukan dengan dicontohkan. Jadi jangan malas untuk memberi contoh kepada anak bagaimana menggunakan kloset, bagaimana cebok, dan sebagainya. Seorang ibu bisa memberikan contoh kepada anak perempuannya, dan seorang bapak kepada anak laki-lakinya.

 “Yang penting adalah menanamkan kepada anak kepercayaan diri kalau dia bisa pipis atau pup di toilet sendiri. Jangan lupa berilah pujian kalau anak mengalami kemajuan,” kata guru TK lulusan Fakultas Sosial Politik Universitas Riau Pekanbaru ini.

 Dina mengatakan, banyak anak yang awalnya merasa takut dan malu untuk bilang, “Saya mau pipis.” Sebagian lagi suka menahan-nahan sehingga akhirnya terjadilah insiden pup atau BAK di celana.

 “Karena itu, orang tua perlu rajin mengingatkan anak untuk berani bilang kalau mau pup atau pipis,” sarannya.

 Kalaupun mereka masih juga pup atau BAK di celana, jangan sekali-kali dimarahi. Akan lebih baik jika si anak diberi penjelasan. Misalnya, dengan mengatakan,”Kalau pipis di celana kan celananya jadi bau dan basah. Nggak enak kan.”

 Dina menjelaskan, setiap anak adalah pribadi yang unik. Jadi, jangan heran kalau ada anak yang sukses menjalani toilet training sebelum menginjak usia 2 tahun. Tapi ada juga yang masih belum bisa sampai usia 4 tahun.

 “Yang penting, orang tua mengajarkan anak untuk mandiri. Ajarkan juga bagaimana melepas celana sendiri, meski kalau mereka kesulitan melepas ritsleting atau kancing boleh dibantu,” ujarnya.

 Banyak terjadi, seorang anak yang diasuh baby sitter atau nanny menjadi manja sehingga masih saja buang air di celana sampai besar. Ini karena dia selalu dibantu sang nanny.

 “Jadi anak akan beranggapan, biar saja pipis di celana, kan ada baby sitter yang mengganti celananya. Ini jangan sampai terjadi. Selain itu, sejalan usianya, kurangi pula pemakaian popok sekali pakai atau diaper,” saran ibu guru yang bersuara lembut ini.(**)     
 
Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org