| Panurge |
| Minggu, 30 Maret 2008 | |
|
HASAN JUNUS ”NAMAKU Panurge. Aku disuruh oleh François Rabelais membuka pertunjukan ini. Sudah ditorehnya di kitab-kitab karangannya, ‘’Angkat layar, dan sandiwara gembira pun bermula!’’ Saya diciptakan oleh François Rabelais, boleh dikatakan saya ini anaknya. Saya diciptakan untuk menjadi teman seiring jalan Pantagruel.
‘’Dunia ini panggung sandiwara, kata sebuah lagu yang pernah dilantunkan oleh seorang penyanyi di negeri ini yang sekarang sedang menghadapi sel penjara karena terlibat narkoba. Sebelum layar diangkat, sebelum sandiwara gembira, semacam lenong dimulai aku disuruh penciptaku memperkenalkan tentang dirinya sepintas lintas. ‘’Bapak atau pencipta diriku François Rabelais dilahirkan ke dunia ini entah pada tahun 1485 atau 1490 atau pula 1495 di Chinon (Touraine). Ayahnya seorang apoteker dan pemilik penginapan. Dan sebagai keluarga yang berhubungan dengan orang-orang yang datang menginap semasa anak-anak, Rabelais dengan penuh perhatian mendengar orang-orang bercerita tentang perjalanan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Pada tahun 1530 Rabelais menjadi mahasiswa ilmu kedokteran di Montpellier, lalu menjadi tabib di rumah-sakit Pont-du-Rhône. Ketekunan akademiknya ditandai dari keberhasilannya mencapai gelar doktor ilmu kedokteran di Montpellier. Kemudian dengan izin Paus Rabelais pergi mengembara meninggalkan Perancis. Pada tahun 1541 ia tercatat menjadi tabib sang gubernur Guilaume de Belllay di Turino. ‘’Pada tahun 1546 Rabelais menjadi tabib di Metz, tempat lahir Paul Verlaine pada tahun 1844. Mungkin sekali bapak saya pernah mengobat leluhurnya, kalau tidak barangkali Paul Verlaine tak pernah ada di dunia ini. Bapak saya tak meninggalkan catatan tentang orang-orang ini, jadi bisa jadi mereka berpenyakit raja-singa, burut atau gila-babi yaitu semacam ayan alias epilepsi seperti yang juga diderita Dostoyevski., bahkan lebih hebat lagi sampai ketika sakit datang mereka itu berkelakuan persis seperti orang kerasukan atau kesurupan. ‘’Paul Verlaine ialah penyair kelahiran Metz yang mengubah puisi seperti menciptakan musik, tapi getar dan sentuhan tanah, darah dan nafas Jerman menyebabkan ia membuat sajak ‘’Chanson d’automne’’ yang di antara larik-lariknya yang merdu seperti lagu itu ialah ‘’Les sanglots longs / Des violons / De l’automne/ Blessent mon Coeur / D’une langueur / Monotone.’’ yang tak terterjemahkan itu sehingga setiap upaya menerjemahkannya pasti merusak sosok aslinya. Namun untuk sekadar panduan setiap terjemahan pun bolehlah. Berbeda dengan kami sajaknya merdu tapi murung. ‘’Masa pengembaraan bapakku berakhir dengan kembali ke Perancis pada tahun 1552. Lalu kehidupannya ditandai dari keberhasilannya menulis beberapa roman yang menjadi sangat terkenal sampai ke sudut-sudut dunia, di antaranya yang tokoh-tokohnya terdiri dari Garagantua dan anaknya Pantagruel yang adalah sahabatku. Karya-karya Rabelais berisi idea-idea yang paling berani dilihat pada zaman kehidupannya karena ia seorang revolusioner yang senantiasa menyerang apa-apa yang bersumber dari masa lalu yang tradisional. ‘’Tentang pencipta atau bapakku François Rabelais dicatat oleh para penulis riwayat hidupnya bahwa ia pernah mengalami kematian anak. Namun ia tetap riang karena seluruh roh anak yang meninggal itu ada dalam diri saya. Kami yaitu saya, teman saya Pantagruel dan ayahnya Garagantua dan lainnya sengaja diciptakan untuk memerangi satu orang bernama Agelaste. Kami, tokoh-tokoh dalam karya Rabelais menganggap Si Agelaste itu ialah hostis humani generis yaitu musuh umat manusia. Ia senantiasa bermuka masam seperti limau purut; ada juga orang yang menyamakan mukanya dengan malaikat penunggu neraka. Seni roman diciptakan untuk melawannya atau menghabisinya habis-habisan. ‘’Aku diciptakan untuk menjadi teman seiring Pantagruel. Dalam legenda dari zaman dulu penyandang nama ini ialah suatu sosok hantu laut yang menyebarkan kehausan. Tapi penciptaku menciptakan tokoh itu sebagai anak Garagantua. Kami ialah dari ras raksasa yang lembut dan baik hati. Hati yang lebih lembut dan lebih baik dari hati manusia biasa. Barangkali lebih baik dari hatiku. Kami menyandang tugas untuk menghibur manusia. Untuk mengajak manusia ketawa, kalau bisa sampai berdekah-dekah selepas-lepasnya. ‘’Bekal dan modal utama kami hadir di dunia ini ialah dengan menggunakan gaya. Gaya itulah yang menandai pencipta kami sehingga suatu karya seorang pengarang dengan karya pengarang lainnya tak pernah sama. Seorang pengarang sejati harus bisa memperlihatkan bahwa karyanya unik, tak sama dengan karya pengarang lain. ‘’Baik diingat bahwa bapak atau penciptaku tak pernah meneguk arak. Meskipun ia pernah berkata mabuklah terus dan kamu tak akan pernah mati. Para pengencing di kedai-kedai kopi dan para pemabuk di kedai-kedai arak, bekas dan calon penderita raja-singa, bekas dan calon penderita burut, bekas dan calon penderita gila-babi, atlit pelari dan orang-orang tépok, rugilah kalian kalau tak mengikuti kisah-kisah gembira dan kocak dari kami para makhluk ciptaan Rabelais. ‘’Suatu kali beliau membuat aku jatuh cinta kepada seorang perempuan yang menampik pernyataan cintaku dengan kasar. Lalu kucari akal membalas dendamku yang terus menebal. Pada waktu perempuan itu masuk ke gereja untuk suatu misa kubawa seekor anjing betina yang sesat di jalan kota dekat dia, dan kugosok-gosokkan roknya dengan pukas anjing itu. Beberapa anjing jantan yang berkeliaran di sekitar gereja datang mengepung perempuan yang kucintai itu, mengencingi pakaian, badan dan kepalanya. Dia berlari pulang ke rumah dikejar oleh lebih dari enam ratus ribu anjing jantan kota Paris yang sering merisau hati karena riuh rendah suaranya tak tahu berhenti sepanjang malam. Memang perempuan itu berhasil mencapai rumahnya, tapi gerombolan anjing jantan itu pun tiba juga di depan pintu rumahnya. Anjing-anjing yang berjumlah enam ratus ribu ekor lebih itu beramai-ramai kencing di depan pintu rumah si perempuan sehingga terciptalah banjir air kencing anjing yang selanjutnya membentuk sebatang sungai di tempat yang semula jalan kota. Lalu serombongan itik-itik pun datang dengan keriangan yang tinggi ditandai oleh riuh suara itik berenang-renang di sungai air kencing anjing di tengah kota Paris. ‘’Perkenalan tanpa pendalaman dapat menyebabkan karya-karya Rabelais pada mulanya mungkin hanya dipandang sebagai karya-karya yang aneh. Hanya aneh. Namun dengan pengamatan yang mendalam barulah dapat diketahui karya-karya itu bukanlah mengandalkan keanehannya semata. Gaya berceritanya yang khas dan blak-blakan seolah mengharapkan para pembacanya meniru anjing yang mendapat tulang dari tuannya dan si anjing harus berupaya keras memecahkan tulang itu agar ia berhasil mendapatkan sum-sum yang tersimpan di dalam kedalaman tulang itu.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



