| Pelaihari, Sebuah Perjumpaan |
| Minggu, 30 Maret 2008 | |
|
Cerpen Oleh Raudal Tanjung Banua
BERTAHUN-TAHUN lamanya kota-kota kecil terus hidup di kepalaku, akhirnya pada suatu hari di bulan Juni, sampailah aku di salah satu kota yang diangan: Pelaihari, Pelaihari! Perjumpaan pertama menggetarkan syaraf dan indra: jalan membentang di tengah gambut dan rawa-rawa, kebun menghampar seluas bumi habis berbenah. Di jauhan, Pegunungan Meratus menyatu dengan langit yang merendah; dan anak-anak Meratus yang terdekat berupa bukit-bukit batu, hitam-kelabu, merapat ke sisi jalan, ditumbuhi jenggot pohon-pohon kurus bekas terbakar. Selepas itu: gerbang kota. “SELAMAT DATANG DI KOTA PELAIHARI” Sebuah tulisan sederhana dari besi melengkung di kedua sisi jalan, dan terasa sempurnalah perjumpaan! Tapi tidak. Sebagai orang yang bertahun-tahun membangun bayangan Pelaihari, dengan nama yang selalu terlafalkan di ujung lidah, justru perjumpaanlah tampaknya yang membuat segala sesuatu tak sempurna. Ya, ya, seperti jalanannya yang membentang lurus di hadapanku kini. Di sini bukan tikungan yang membuat ujung jalan hilang dari pandangan, tapi naik-turunnya kontur tanah. Badan jalan terdekat nyungsep tak terlihat, yang agak jauh malah menyilaukan mata, dalam getar fatamorgana. Tentu saja, karena ujung jalan mengular di tanjakan, lalu menghilang lagi, muncul lagi, seperti benang wol menjahit terpal bumi. Itu artinya, aku harus bersiap kehilangan banyak hal dalam kepala, sekaligus menemukan hal lain di luar kepala. Kita seperti mencari “jalan yang benar” di tengah fatamorgana; sambil menduga-duga, kenyataan atau bayangankah yang fana? *** BENAR juga. Sebuah pabrik gula, tak pernah kubayangkan ada selama aku mengenal nama Pelaihari. Kukira bukan hanya lantaran jawaban ujianku yang salah —di mana Pelaihari kuanggap penghasil karet dan itu berarti belantara— tetapi juga pemahamanku yang keliru (lebih tepat terbatas) atas pulau besar bernama Kalimantan. Ah, Kalimantan, kuamsal ia “induk ayam yang mengeram” dalam percakapan di rumah, bersama istri dan anakku yang gemar memandang peta. Hutannya lebat, dan kucinta, sebatas angan; sungai-sungai besar kami hapal di luar kepala, margasatwa, minyak bumi dan intan di Martapura, semuanya… tapi tak kunjung “menetas” bagi kemakmuran warganya, dan bukankah kini tinggal cerita? Lewat bahasa itulah ia menjalar di kepalaku, diam-diam, apakah juga dalam bayangan Anda? Sampai usia tinggi menanjak, bagian “jalan yang benar” tak juga kunjung nampak, sebab sekolah telah menjadi slogan yang murah, dan sempurnalah keasingan!1) Itulah sebabnya, ketika Jamal, kawan yang memboncengku, membelokkan motornya ke bekas pabrik gula yang merana dekat gerbang kota, aku terkesiap dan mengucek-ngucek mataku yang belum lagi kemasukan debu jalanan Pelaihari. Pabrik itu masih berdiri bagai raksasa tinggal rangka, jejeran cerobongnya mencipta tanduk-tanduk lancip yang menyeruak di antara kerimbunan sawit; di sebelah lagi ada benda bundar besar, tengadah, kuduga bekas penampung air atau sari tebu, putih-coklat karena karat, tapi tetap kuat memantulkan sinar matahari. Entah mengapa kubayangkan ia makhluk baja berkelamin betina, diam dan tabah menerima segala yang tiba. O, maafkanlah kecerobohanku karena gagap tak terkendali dalam jumpa pertama ini! Anda mungkin tahu, aku pernah bercerita soal kota-kota kecil yang hidup di kepalaku, di ruang ini juga, beberapa waktu lalu. Jadi kuharap Anda paham kegugupanku menyangkut Pelaihari, kota di mana aku mengenal namanya pertama kali saat ujian kelulusan sekolah, yang jawabanku salah karena aku menyilangnya sebagai penghasil karet, padahal yang dianggap benar adalah penghasil tebu —karena pabrik gula inilah, ternyata. Tapi sekarang pabrik ini tutup usia, sedang jawabanku di masa lalu tak mungkin diubah. Sungguh tak ada yang abadi, bahkan ilmu di sekolah terasa fana! Ya, pabrik gula ini tutup, lantaran buruknya menajemen, menggilanya korupsi dan hidup foya-foya para petinggi. Setidaknya itu yang kudengar dari seorang mantan karyawannya yang kini beralih profesi jadi penambal ban di pinggir jalan perkebunan. “Aku datang dari Kediri. Dulu hidup merasa cukup sebagai buruh penebang tebu, dan berharap suatu ketika diangkat menjadi karyawan tetap,” katanya lirih. “Tapi orang-orang atas berpesta tiap minggu, menghabiskan anggaran dan akhirnya aku tak pernah jadi karyawan tetap pabrik tebu terbesar di Asia Tenggara ini.” Seperti biasa, ungkapan “terbesar di Asia Tenggara”, di Asia atau dunia, selalu dipakai untuk menjelaskan fasilitas di negeri ini, yang sesungguhnya tak lebih kebanggaan maya. Aku mengurut dada dan mengasihi mantan buruh yang tak sempat meraih cita-cita setinggi itu. Kini terasa aneh, pabrik gula itu berdiri di tengah kebun sawit yang berangkat remaja, dengan kerangka baja dipanjati sulur-sulur dan akaran liar, seolah ia sedang disimpan atau disembunyikan untuk panen yang lain. Dan jika panen itu tiba, sulur dan akar tinggal dikuakkan, seolah tak terjadi apa-apa, mesin akan berfungsi seperti sediakala, kecuali berubah fungsi sedikit: dari semula menggiling tebu, akan melumat bertandan-tandan sawit, dan tentu menggerakkan kembali tangan-tangan buruh jelata, mengepulkan kembali cerobong asapnya ke udara, di langit Kota Pelaihari yang jelita… O, betapa mudah dan sederhana! Semuanya bisa disulap semudah membalik tanah dan menanaminya dengan tanaman baru yang diincar pasar, yang tidak pernah tercantum sebelumnya di buku-buku sekolah; dan nyatanya kini tak sebatang tebu-gula pun dapat dijumpai di tanah kebun Pelaihari, kecuali beberapa tebu udang di kebun halaman. Semua kebun berganti dipenuhi pelepah sawit yang mengembangkan surai-surai daun, bagai hijau lengan remaja menantang keluasan semesta. “Ya, konon jika panen tiba, mesin ini beralih fungsi mengolah buah kelapa sawit,” Jamal, sahabat pedalaman dan guru yang tenang itu, mengulang. Angin santer bertiup, dan daun-daun sawit mengombak sampai jauh. Lalu bagai sulapan biasa, langit yang tadi cerah mendadak ditaburi kapas-kapas awan dari puluhan ternak biri-biri yang lepas di angkasa. Langit, bumi, semuanya bisa berubah lewat sulap atau cuaca, tapi bagaimana mengubah bayangan déjà vu-ku tentang Pelaihari, bahkan dengan ketakjuban jumpa pertama ini? Majenun, tak ada yang bakal mangkus, kecuali membiarkan kenyataan mengubah sendiri apa yang kubayangkan, beberapa di luar kehendakku, yang lain persis seperti yang kucari, sisanya sama sekali baru —ah, hati yang berkhayal, mampus kau dikoyak-koyak kenyataan!2) Tapi tidak. Aku telah sepenuhnya siap, dan mengaku, sebagaimana pernah kutulis dulu, bahwa jika kelak aku datang ke salah satu kota yang kuangan —Kotanopan, Rimbo Bujang, Dapdap Putih, Bandaneira, Ambulu, Bukateja, dan Pelaihari— tetap tak mudah mempertukarkan apa yang terbangun bertahun-tahun, susah-payah membuatnya ranum. Tapi biarlah kenyataan dan bayangan menjadi dua dunia yang membangun ruang, jalan, dan lorong-lorongnya sendiri. Labirin, peta, dan arahnya sendiri. *** SELEPAS siang, kami tinggalkan bekas pabrik gula yang bermetamorfosa itu, dan aku mesti sepenuhnya siap memasuki pusat Kota Pelaihari. Butuh jarak cukup jauh untuk bertemu pasar, deretan toko dan kantor pemerintah —penanda sah sebuah kota— lantaran hamparan tanah gambut masih lebih dulu setia menyambut. Perdu dan rumputan. Rawa yang masam. Sebatang dua-batang pohon —kubayangkan pasak bumi— seperti seseorang yang bersendiri menjaga keluasan padang. Kutatap rumah-rumah, jadi terlihat kecil dan terpencil sebab dibangun di atas hamparan tanah kelewat luas, lapang, tak berpagar. Seorang ibu menyusukan anaknya dekat jendela, kian memperlapang cakrawala. Apa yang terasa persis dari bayanganku, sejauh ini hanya dua: debu jalanan dan angin santer yang berhembus tiba-tiba. Keduanya bertampik, menyatu, seakan roh kota yang dianggap tiada, tapi selalu bangkit menunjukkan kepada kita bahwa mereka ada; dan merekalah itu —angin dan debu. Lihatlah, debu akan membumbung lebih tinggi melewati kasau dan bubungan rumah-rumah kala angin santer bertiup; dan angin santer pun bakal bangkit di tengah kepulan debu yang disibak kawanan ternak atau deru kendaraan sampai sayup. Mereka berjibaku, seperti menggodaku untuk mencipta sebuah amsal; akulah debu dan anganku angin. Kami saling mengisi, bersekutu, tapi juga saling menyapu. Menghidupkan dan membunuh. Lewat cara ini, angan dan kehadiranku menyatu memagut kota yang dirindu! Begitulah akhirnya aku sampai di pusat kota, megap bertemu pasar dan terminal, deretan pertokoan dan perkantoran yang canggung. Di sini, kenyataan dari yang kubayangkan bertambah. Ada dua utas jalan melintas, lalu menyilang menyerupai tangkai ketapel, diaspal tambal-sulam; meski tak ada alat berat dibiarkan terlantar, apalagi ditutup terpal hitam, seperti bayangan yang pernah kuceritakan, tapi membuat aku puas —bayangan dan kenyataan cukup pas. Tapi tidak. Di sisi lain aku meringis menahan kecewa, merasakan betapa anganku pada sebuah kota kurang liar. Mengapa mesti persis? Memang, tak ada makhluk asing di pinggir jalan —tapi toh ada “makhluk ganjil” yang lebih masif di gerbang kota, diam-diam bermetamorfosa menunggu persembahan hasil bumi yang lain —dan itu luput terbayangkan. Mengapa aku terlalu lugu membayangkan hal-hal kecil-sederhana: tiang bendera, SD berdinding papan, tali bandar, rumah tua Banjar dan orang-orang bercaping lebar? Padahal kota kecil manakah gerangan bakal luput dari soal-soal besar, setidaknya ketukan ajaib para pesulap kakap yang bisa mengubah derita kita jadi tampak gemerlap?3) Pelosok manakah gerangan tak tersentuh tangan-tangan kasat-mata, dengan hasrat menjamah, jika perlu serta-merta, sebagaimana Kubilai Khan menundukkan setiap jengkal wilayah? Juga sekarang, apa bedanya! Orang-orang membuka hutan. Mengerahkan alat-alat berat. Membangun jalan dan jembatan. Memecah batu. Menimbun rawa-rawa. Atau mencari celah bisnis yang bisa dikembangkan. Bukankah, seperti kata Jamal, nama Pelaihari berasal dari bahasa Inggris “Play here”, sebab pada abad kesekian orang-orang kulit putih dari balik cakrawala sudah datang bermain-main di banua Tanah-Laut ini? Betapa larut. O, diriku yang dungu! Kelewat mendewakan hal-hal kecil sebagai suaka ingatan yang ganjil. Tapi, sekali lagi tidak! Hatiku menolak, jiwaku berontak. Aku bukan si Lugu-Biru, sebagaimana gelar seorang kawanku, penyair Tanah Dewata yang mengasingkan diri di reruntuhan taman air leluhurnya. Aku hanya sedikit tak peduli, sebab tahu, semua akan begitu pada akhirnya: hutan dibuka. Rawa ditimbun. Jalan dan jembatan dibangun. Dengan tangan, mesin dan batu-batu. Beberapa mungkin runtuh juga, seperti taman air Tirtagangga peninggalan leluhur kawanku itu, di Bali sana —bangun dan runtuh toh di mana-mana sama saja, tak kenal waktu dan tempat. Tapi aku? Justru karena itu, aku tetap memilih sungsang, walau dalam pikiran. Kulebatkan hutan, kugenangi rawa, kututup jalan dan jembatan, kutolak hasrat menundukkan. Sebab akulah debu, pikiranku angin; aku menolak jadi batu, menolak jadi mesin. Aku tak ingin segalanya cepat mewujud: mata melihat, tangan menyentuh —ah, kenyataan fana. Aku ingin segalanya surut: mata tak melihat, tangan tak menyentuh, tapi kita dibuat kepayang cukup dengan membayangkannya saja —o, Marcopolo, kudamba angan yang baqa!4) Jelas tak serta-merta sikap seperti itu melekat dalam diriku, butuh waktu peneguh dan ikatan yang kuat, tentu saja. Salah satunya karena aku menghormati sikap seorang guruku, lelaki sunyi dan agung (semoga Marapu selalu mengirimnya angin suci padang sabana), ia yang kadung dianggap dungu tapi sikapnya selalu mengharu-biru. Katanya, “Peliharalah rindu, sakit, dan rasa ingin tahumu!” Kenapa? Kami sendirilah yang mesti menjawab. Cukup dengan memandang sosok lelaki berdegap seperti kuda Sumba itu, dengan degup di dada, kami tahu, betapa berat rindu-dendam ditanggungnya, tak hendak dilabuhkan. Tanah kelahiran. Nafas jalanan. Kota masa silam. Sahabat yang pergi dan bertahan. Semuanya. Kenapa mesti dilabuhkan jika setiap denyut adalah sakit yang nikmat? Untuk apa perjumpaan jika melenyapkan ketakjuban? Maka, seperti laki-laki yang membuang diri demi angan dan puisi itu, biarkan aku pun hidup dalam bayang-bayang, murni; berhasrat kekal dari angan, demi sebuah kota kecil di pedalaman, bahkan kota-kota lain di hiruk-pikuk pelintasan. Telah kusimpan mereka bertahun-tahun —serasa berabad-abad— dalam kepala, dalam dada, seakan tak boleh tersentuh apa pun juga! Dengan kata lain, sesungguhnya aku tak punya alasan yang tepat untuk memasuki langsung sebuah kota kecil yang diangan; tidak melampiaskan rasa ingin tahu, apalagi melabuhkan rindu yang keparat! Tiba-tiba aku ingin berteriak setelah menemukan sebuah kota yang telah tercetak abadi dalam otakku ini, bukan untuk berkata, “Eureka!” Tapi, “Celaka!” Sungguh celaka! (Dan malang! Aku hanya “ingin” berteriak, tapi tak bisa. Aku sudah di sini, di pusat Kota Pelaihari —sebagai seseorang yang telah melewati gerbang kota, dan tak mungkin kembali!) *** KINI, kujalanilah semuanya. Biarkan bayangan dan kenyataan berkelindan di ruang kepalaku, meski aku merasa mulai tak waras dimainkan keduanya. Kadang, aku membayangkan Pelaihari yang lain, justru ketika aku meminta Jamal berhenti di depan tugu penanda Kota Pelaihari yang sejati. Apakah Pelaihari bukan Payakumbuh, sebab jalanan menyilang berupa “tangkai ketapel” itu sebenarnya lebih pas menggambarkan Payakumbuh, sebagaimana disebutkan seorang kawan pengarang yang menetap di situ? Aku sempat ragu. Tapi tak urung, di ujung “tangkai ketapel”, kuminta Jamal berhenti, dan aku turun dari motornya yang berdebu. Tak jauh dari persilangan itu, kuamati bangunan panjang dari kayu yang memajang hasil tani dan hasil laut Pelaihari. Pisang, singkong, ubi jalar warna kuning dan merah, pepaya, serta berbagai jenis ikan kering yang dikemas sedemikian rupa. Di etalase sederhana yang diklaim sebagai “Pusat Agribisnis Pelaihari” itulah rupanya kita bisa melihat dan mencium aroma keringat orang-orang trans yang mengolah lahan lebih ke pedalaman. Daerah ini memang dihidupi keringat nelayan dan petani, terutama orang-orang trans yang dikirim ke mari bertahun-tahun silam —yang menjadi salah satu alasan membuka hutan, menimbun rawa, membangun jalan dan jembatan. Kupotret umbi-umbian, kerang dan ikan yang digantung maupun ditumpuk jadi satu. “Silahkan pilih, Mas, singkongnya empuk dan murah; kerupuk ini garing dan terasa ikannya,” seorang ibu menawarkan dagangannya, dan kujawab bahwa aku menyukai ikan pepuyu, ikan rawa yang banyak tulang-durinya namun enak sekali digoreng pedas. Lagi pula, ikan itu mengingatkanku pada masa kecil di pesisir barat Sumatera, tempat di mana ikan-ikan air tawar dan payau telah langka seiring surut dan mengeringnya rawa-rawa. “Di sini pepuyu juga langka, Mas, paling adanya ikan sepat dan aruan. Ikan pepuyu suka hidup di air berlumpur, sedang sungai dan rawa pada kering, mengeras, dangkal,” lanjut si ibu tani sambil membetulkan letak tengkuluk di kepalanya. Klik! Aku memotretnya dari dekat. Ia sumringah, meski mungkin tak seeksotik perempuan-perempuan bercaping lebar berdayung sampan di Pasar Terapung Sungai Barito, tapi wajah petaninya jelas menyimpan gairah lain dari semesta. Kupotret pula sebuah tugu yang berdiri di tengah persilangan “tangkai ketapel” itu. Warnanya kuning-kelabu, menyerupai kubah masjid, dihiasi relief “potret pembangunan” yang diukir setengah hati. Di atasnya nangkring lima ekor patung kijang (bukan kencana) bertanduk bercecabang, seperti dihalau dari Meratus nun di latar-belakang. Di puncak kubah, terlihat patung enggang setengah mengepak, barangkali sambil mengoak atau menjerit lantaran hidup yang sakit dan terancam. Aneh, aku bayangkan tugu kubah ini serupa arak-arakkan gunungan tabut dalam upacara Muharam di Pariaman, memperingati terbunuhnya cucu nabi, Hasan dan Husein, berabad-abad silam di Padang Karbala. Ah, angin santer bangkit lagi, bergedesau dari arah semak-semak bagai segerombolan babi liar yang hendak menyerang masuk kota. Angin menyeberangi padang rumput dan tanah gambut yang gelisah (semoga bukanlah Padang Karbala!), menerbangkan debu, di mana-mana debu, meniupnya ke angkasa, semacam roh gerombolan babi liar yang bangkit dari hutan-hutan tanah usiran. Aku rapatkan krah jaketku, dan setengah terpicing kuminta Jamal melanjutkan perjalanan. Tapi motor macet dan sukar dihidupkan. Jamal berjongkok di pinggir jalan, mencabut busi dari mesin yang masih panas dan berasap. Angin santer datang lagi, seolah penyamun buta yang sedang menjala diriku, seorang pengembara, yang tiba-tiba asing sendiri di tengah kota yang diangannya. Aku merasa terkepung, tapi Jamal masih belum rampung. Ketika akhirnya mesin motor nyala, aku dan Jamal meluncur menuju arah Pantai Tekisung, memunggungi Pegunungan Meratus di latar nun Pelaihari. Aku memang meminta Jamal sedikit menjauh dari kota yang kumasuki dengan gairah dan rasa bersalah ini. Menjelang sore kami mencapai ombak yang berdebur di muara Sungai Tabunio. Aku kembali menata ingatan atas kota yang dibayangkan, seperti menata pecahan-pecahan kerang dan lokan yang terburai di pantai. Angin mulai terasa dingin. Roh-roh kenangan yang terusik atas kelancanganku melabuhkan angan, kini berpencar ke tengah laut. Sebagian mungkin tersangkut atau bermain-main di sebuah mercu suar, kuning dan samar di kejauhan. Besok, aku dan Jamal sudah berjanji akan ke pedalaman, menyusuri lahan orang-orang trans dari Batuampar —tempat Pak Guru yang tabah ini pernah lama tinggal dan mengajar— hingga ke kaki Meratus yang sekiranya dapat terjangkau. Sebab, kata Jamal, “Jalannya bagai liukan ular raksasa yang kulitnya terkelupas karena derita.” Jamal mungkin tak tahu, malam itu, di lantai atas rumahnya, aku tak kalah menderita dikepung angin santer yang serentak bangkit dari segala penjuru. Mereka menjelma gerombolan makhluk halus yang kembali dari laut, lalu menghantam jendela dan daun pintu. Semua gemertak dan berderak. Jamal sekeluarga tak mungkin bangun sebab terbiasa. Sebaliknya aku tak bisa tidur diganggu amsal mantra yang sesiang tadi kucipta: aku debu, anganku angin, hu! Sehabis berucap, ada yang menuntutku untuk segera membangun Pelaihari yang lain: ruang, jalan, dan lorong-lorongnya yang baru. Labirin, peta, dan arahnya yang baru. Yang belum pernah kukunjungi, sekalipun dalam mimpi. (Sesungguhnya, tuntutan itu muncul dari diriku sendiri, yang gelisah dan menderita, yang sesiang hari menjelma debu dan deru angin! Apa bedanya dengan angin malam ini? Maka aku harus meladeninya, meladeni diriku sendiri. Hanya begitulah aku tetap bisa memelihara ketakjuban dan keasingan pada Pelaihari —dan kota-kota kecilku yang lain, untuk tidak mati!— seperti keheranan Adam pertama memandang dunia!) Kubuka mata dan kuterima kutukan manis ini. Matahari terbit, tapi tak lagi jatuh di tanah gambut dan padang perdu yang kemarin kulewati. Matahari jadi milik tanah dan padang jauh yang meriap dan segar sehabis hujan, belum pernah kujelang. Dan di sana sebuah kota kecil mulai membangun ruang, jalan, dan lorong-lorongnya sendiri. Labirin, peta, dan arahnya sendiri. Apakah Anda dapat membayangkannya? Tolong, jangan bujuk lagi aku ke sana, ke dataran kesempurnaanmu yang tertunda!*** Rumahlebah Jogjakarta, 2007-2008 Catatan: 1) Diadaptasi dari puisi Agus Syafaat, “Biografi Kesunyian” dalam buku Hijau Kelon & Puisi 2002 (Jakarta, Buku Kompas: 95) 2) Diadaptasi dari puisi Chairil Anwar, “Sia-sia” dalam buku Aku Ini Binatang Jalang (Jakarta, Gramedia: 7) 3) Diadaptasi dari puisi Sutardji Calzoum Bachri, “David Copperfield, Realitas 90” 4) Kalimat penutup diadaptasi dari sebuah esei Faruk HT, “Ke Dataran Kesempurnaanmu” (Kalam, edisi 3-1994), berdasarkan sebaris sajak Sanusi Pane, “Doa”. Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumbar, 19 Januari 1975. Mengasuh Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia . Tinggal di Jogjakarta. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





