| Gambar Cagub dengan Sejuta Masalah |
| Minggu, 30 Maret 2008 | |
|
Oleh : Tabrani Rab
Pada pemilihan Walikota Pekanbaru yang lalu sayapun hadir di Hotel Mutiara. Ada belasan partai yang hanya memilih satu pasangan calon. Sisanya tak adalah. Lagu pemilihan walikota ini saya ikuti terus sampai hati kecil ini bilang “Ooo..tidak”. Sifat inipun dibaca oleh kawan-kawan saya yang lain. Apalah pasalnya Tabrani tak tunduk dengan pendapat semua partai kita. Bahkan di samping rumah saya ada partai politik dengan gambar yang amat besar “... Inilah pilihan Anda”. Saya menjadi makin tak enak. Kok pemilihan ini saja begini? Puncaknya dua malam sebelum hari H, Saya telepon kawan-kawan saya yang besar-besar di Jakarta mulai dari mantan ketua partai yang menjadi pejabat tinggi negara, sekretaris partai, sampai-sampai bendahara partaipun saya telepon. Puncaknya ketika saya bilang “Kok di Pekanbaru itu pemilihannya begini, bukan begitu?”. Walaupun saya tahu yang begini bukan begitu dan yang begitu bukan begini. Semua petugas partai ini bilang begini “Pak Tabrani kita akan datang, kampanye dengan saya. Walaupun kita tidak jadi pemenang, yang disebut dengan Indonesia itu kan bukan Pekanbaru saja”. Saya mengikuti terus langkah kepala-kepala partai ini. Sayapun ikut berjoget di lapangan Awal Cros. Lagunya “Walaupun hidup seribu tahun, jika tak sembahyang apa gunanya”. Lama-lama saya mikir yang menyanyi dan yang menonton ya sama saja, tapi jadi jugalah menang dengan 38 persen suara. Nah, bagaimana kalau Anda kini berlang-lang buana dari Jakarta menuju Palembang menuju pula Lampung lalu ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, ehhhhh begitu juga yang nampak pemimpin-pemimpinnya makin jelas. Di Riau tinggallah Wan Abu Bakar dengan sebiji lilin. Letaknya dekat Mesjid Agung Annur. Memang ada juga di samping gubernur, tapi di muka kantor Gubernurlah. Sesudah itu Mambang Mit dengan Chaidir saling berebut, bantai dikaulah. Yang jelas angin berhembus ke situlah kita terbang. Pemilihanpun berlangsunglah. Berapa angka pemilih di Riau yang maksimum? Paling 77.03 persen. Itupun di Kuansing. Berapa angka terendah? 64 persen, itu di Kampar. Di negara besar lainnya seperti di Ukraina pemilih sampai 70 persen, tapi di negara ini karena ada 9001 proses, maka yang memilih apa nak hati dia saja. Ada satu RW pemilihnya kurang dari 10 orang. Di Riau memang transmigrasi lebih penting dari penduduk setempat. Memang KPUD nya menyatakan “Tidak masuk akal pemilih hanya satu dua orang di satu RW/RT. Kami minta masyarakat ikut proaktif”. Tapi kalau itu yang didapat nak apa kamu. Yang penting bagi cagubri bikin foto cantik-cantik, pasang di tiap simpang. Kalau tidak ditengok orang ya ditengok kucing, kambing, bing...bing. Dalam perjalanan saya berkeliling di daerah Lampung, maka hampir tiap 200 meter di ibukota kabupaten saya menemukan gambar gubernur. Besar...besar.... sama besarnya dengan gambar Rusli Zainal di lapangan terbang Sultan Syarif Qasim II. Di ibukota provinsi seperti di Medan saya menemukan 6 gambar mulai dari Golkar sampai dengan TNI dan entah gambar siapa-siapa lagi. Yang mengesankan justru di Pekanbaru. Gubernur menanamkan gambarnya pada tempat-tempat strategis termasuk induk jalan dari simpang tiga ke Pekanbaru. Ada juga gambar gubernur yang besar sendiri dan hanya satu yang berpasangan dengan Wakil Gubernur Wan Abu Bakar, itupun kalau sudah dilihat dari dekat. Sisanya ada gambar dengan Chaidir, ada dengan Mambang Mit, dan belasan gambar dengan istri dan anak-anak sementara di beberapa titik tampak pula gambar walikota, entah untuk jadi walikota keberapa. Kemudian yang lucunya di daerah banjir gelap gulita saya memasuki posko Riau Pos termasuk pula posko penghancur hutan Riau yakni RAPP dan Indah Kiat. Dan hanya beberapa polisi yang saya jumpa dalam kelabut manusia yang begitu ramai, walaupun korban berjatuhan. Yang digambarkan surat kabar termasuk Riau Mandiri justru pertolongan yang diberikan oleh satpam perusahaan ini. Apalagi gambar di Riau Pos. Apa saja kesalahan pemilu yang digambarkan oleh KPUD dengan 9001 persoalan? Antara lain Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau menemukan 9 ribu permasalahan dalam Data Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pilkada (DP4) Gubernur Riau 2008. Data DP4 itu sendiri merupakan hasil pendataan Dinas Transmigrasi dan Kependudukan (Distransduk) Riau selama setahun. Mulai pemilih ganda, tak cukup umur, satu RT/RW pemilihnya kurang dari 10 orang, pemilih fiktif, hingga nama, tanggal lahir sama, tapi nomor induk kependudukan berbeda. Kesalahan yang dilakukan oleh 10 kabupaten/kota dalam mencacah dan menyusun daftar pemilih saat Pilkada tidak jadi pembelaharaan bagi mereka. Berbuat salah untuk kesebelas kalinya terulang kembali. Setidaknya 9.500 permasalahan ada dalam daftar pemilih disusun Distranskep Riau. Kacau balaunya pendaftaran pemilih bukan kesalahan KPU, karena kita tidak memiliki kewenangan tentang itu. Ada apa sebenarnya ini. Kabupaten Kampar penduduk 591.870 jumlah pemilih 381.108 persentase pemilih 64.39. Kabupaten Indragiri Hulu penduduk 303.155 jumlah pemilih 202.968 persentase pemilih 66.96. Kabupaten Bengkalis penduduk 656.829 jumlah pemilih 429.556 persentase pemilih 65.40. Kabupaten Indragiri Hilir penduduk 668.815 jumlah pemilih 454.961 persentase pemilih 68.02. Kabupaten Pelalawan penduduk 237.131 jumlah pemilih 182.665 persentase pemilih 77.03. Kabupaten Rokan Hulu penduduk 365.232 jumlah pemilih 234.102 persentase pemilih 64.10. Kabupaten Rokan Hilir penduduk 481.570 jumlah pemilih 268.420 persentase pemilih 55.74. Kabupaten Siak penduduk 278.061 jumlah pemilih 178.139 persentase pemilih 64.06. Kabupaten Kuantan Singingi penduduk 317.842 jumlah pemilih 212.383 persentase pemilih 66.82. Pekanbaru 667.775 jumlah pemilih 495.383 persentase pemilih 74.18. Dumai penduduk 226 jumlah pemilih 150.991 persentase pemilih 66.55. Total jumlah penduduk 4.794.761, pemilih 3.190.676 dan persentase pemilih 66.55. Yang anehnya tiap daerah pemilu saya pergi masalahnya bukan 9001 tapi sejuta. Ada satu daerah dengan pemilih tak ada, tapi kotak suara lengkap. Ada pula saya pergi kotak lengkap, pemilih tak ada. Ini namanya bukan 9001, tapi sejuta masalah. Tapi pemilu jalan terus. Apa yang digambarkan berbagai koran asing mengenai Indonesia dengan stabilitas politik nol besar anggaran terus defisit, struktur kenegaraan yang tak ada dalam peta dunia. Perebutan antara daerah dan pusat sampai-sampai keputusan pemilu ditangan Mahkamah Agung dan lucunya Presiden mengambil hak inisiatif untuk menunjuk tentara untuk menjadi gubernur walaupun sifatnya sementara. Dalam pada itu koran dunia mengisahkan Indonesia kalang kabut. Sampai-sampai Presiden SBY menulis surat kepada Sekjen PBB akan buruknya politik ditanah air tentu saja ditambah dengan jaminan ekonomi yang tak pantas untuk rakyat. Tenggelammmmmlahaa... dikau. Pokoknya bangun PON kalau perlu menyaingi Olimpiade Beijing 2010. He..he...he... *** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





