| Berhemat dengan Rumah Ramah Lingkungan |
| Minggu, 30 Maret 2008 | |
|
Zaman kini serba sulit. Harga-harga tengah melangit. Penghematan pun perlu dilakukan disegala lini. Termasuk di rumah. Agar tagihan listrik tak bengkak karena boros penerangan dan suasana dingin, lebih baik membangun rumah dengan konsep ramah lingkungan. Tak hanya sehat bagi kantong dan penghuni rumah tapi juga untuk mengurangi kerusakan bumi. Laporan Indriaty Susanto, Pekanbaru, Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Chaerul (43), warga Jalan Garuda, Panam, terkejut bukan alang kepalang. Di tangannya ada secarik kwitansi pembayaran listrik. Pada kertas berwarna hijau itu, tertulis tagihan yang harus dibayarnya berjumlah Rp190 ribu. “Padahal kami sekeluarga sudah berhemat listrik. Dispenser air minum pun malam hari kami matikan,” keluhnya sambil geleng-geleng kepala. Namun sesampai di rumah, Chaerul yang memiliki sebuah kedai makanan ini mulai paham kenapa rumahnya termasuk boros energi. “Saya baru ingat, beberapa lampu di rumah saya memang menyala terus selama 24 jam,” katanya. Ya, ruang keluarga, kamar tidur, dan dapur di rumahnya memang harus diterangi lampu terus menerus. “Soalnya ruang-ruang itu tidak ada jendelanya. Kalau pun ada, mungkin ukurannya kekecilan sehingga kalau tidak menggunakan lampu, ruangan jadi gelap,” ujarnya lagi. Dia mengaku, sewaktu membangun rumahnya kurang mempertimbangkan ukuran jendela maupun jalur masuk cahaya matahari ke dalam rumah. Rumah pun jadi gelap, pengap, dan panas karena aliran angin tak bisa ’’bertamu’’ ke dalam. Karena itulah, dia berniat merenovasi rumahnya sesegera mungkin. ”Ada teman arsitek yang menyarankan saya merenovasi rumah sesuai konsep green design. Saya sangat setuju dengan konsep ini. Karena saya alami sendiri, rumah yang tidak dirancang harmonis dengan alam bukan saja membuat kami penghuninya tidak nyaman, tapi juga boros biaya,” katanya menyesal. Ramah Alam Konsep green design sebenarnya sudah lama dikenal. Di negara maju, upaya menciptakan karya arsitektur ramah lingkungan sudah dimulai sejak pertengahan abad 20. Sayangnya, di Indonesia, meski sudah sering dibahas, namun penerapannya masih jauh panggang dari api. Konsep ini lahir berkat kesadaran para perancang profesional yang terkait dengan bidang pembangunan, seperti arsitek, perancang interior dan perancang lanskap terhadap pentingnya kelestarian lingkungan terutama pada perumahan. Sebelumnya, para perancang konstruksi berlomba-lomba menciptakan karya arsitektur mutakhir dengan pengembangan material maupun teknologi. Saat ini bisa dibilang tidak ada daerah di muka bumi ini yang tidak bisa dibangun rumah atau bangunan lainnya. Daerah pegunungan yang dulu digambarkan lewat nyanyian kanak-kanak sebagai ‘’menghijau’, kini menjadi kompleks vila mewah. Juga daerah pantai, menjelma menjadi kawasan wisata, hotel, resort. Hutan bakau pun harus mengalah pada modernisasi. Bahkan di Batam, kini sudah ada kompleks perumahan yang letaknya di atas air! Namun belakangan, berbagai bencana alam, dari tanah longsor, banjir, dan cuaca yang kacau balau membawa secercah kesadaran kalau ada yang salah dalam pengelolaan lingkungan. Lewat konsep green design inilah, para perancang konstruksi tampaknya mencoba berdamai dengan alam. Inti dari green design adalah dimasukkannya lingkungan sebagai bagian penting pada perencanaan karya arsitektur. ”Jadi, kalau mau membuat rumah, bukan cuma fokus pada rumahnya saja, tapi juga lingkungan sekitar rumah,” ujar Ir Muhammad Mahmudi, arsitek sekaligus owner Pesona Riau Consultant yang terletak di Jalan Melur, Sukajadi, Pekanbaru ini. Menurut Mahmudi yang lulusan Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Jakarta 1982 ini, ada beberapa prinsip dasar green design. Yang pertama hemat energi. Suatu bangunan haruslah dirancang untuk bisa bersahabat dengan sumber energi, yakni cahaya matahari. Karena itu, penting dipertimbangkan sistem sirkulasi udara maupun pencahayaan. Salah satu langkah konkretnya, misalnya dengan membuat banyak bukaan pada rumah. Bisa dengan memasang jendela dan pintu berukuran besar, menggunakan atap atau genteng yang tembus cahaya, dan ventilasi. Yang kedua yakni hemat air. Contoh langkah penghematan air misalnya menggunakan shower di kamar mandi. Selain itu, bisa juga dibuat bak penampungan air hujan di mana airnya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Adanya ruang terbuka hijau bisa dikatakan menjadi syarat mutlak konsep green design. Sebuah rumah atau bangunan haruslah mempunyai lahan terbuka hijau yang ditumbuhi aneka tumbuhan sebagai penyuplai oksigen. Tumbuhan juga bisa berfungsi sebagai penyerap air, membuat udara menjadi lebih sejuk, dan membuat rumah menjadi indah dipandang. Yang tak kalah penting yakni pengelolaan limbah rumah tangga. Asal tahu saja, limbah bangunan dan rumah tangga merupakan salah satu penyumbang terbesar pencemaran tanah dan air. Karena itu perlu direncanakan proses konstruksi dan operasional bangunan dengan sangat hati-hati agar limbahnya bisa ditangani dengan proses yang ramah lingkungan. Ini bisa dilakukan dengan merancang sistem pembuangan yang terencana. Membiasakan diri untuk tidak terlalu banyak menghasilkan sampah plastik, deterjen, dan menyediakan tempat sampah dengan jumlah memadai di lingkungan rumah. Dan sebaiknya, pembuangan sampah organik dan non organik pun dilakukan terpisah dan khusus, tidak asal dibuang ke saluran pembuangan. Namun Mahmudi mengaku prihatin dengan banyaknya developer di Pekanbaru yang sering mengabaikan masalah lingkungan. Terutama soal menyediakan lahan pengganti resapan air. ”Logikanya, kalau ada areal tanah ditimbun sehingga fungsinya meresap air hilang, developer harus menyediakan lahan pengganti untuk peresapan air misalnya berupa danau,” katanya. Selain itu dia menegaskan, harus dibuat aturan tegas agar developer tidak membangun perumahan dengan mengabaikan lahan terbuka hijau. ”Idealnya perbandingan rumah dengan lahan terbuka hijau atau fasilitas umum 60 berbanding 40 persen. Tapi sekarang ini kan, kebanyakan developer berlomba-lomba membangun rumah sebanyak mungkin di lahannya,” ujar salah satu pengurus inti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Riau ini. Menjual Lingkungan Bersadarkan pengamatan Riau Pos, mayoritas pengembang di Pekanbaru tidak begitu peduli dengan konsep green design, terutama soal ruang terbuka hijau. Kebanyakan lebih memilih membuat jalan lingkungan yang lebar berbalut paving block atau aspal, fasilitas modern macam kolam renang dan club house, dibandingkan membuat sebuah taman berumput dengan beraneka bunga dan pepohonan. Namun ada beberapa developer yang tidak merasa sayang menyisakan lahan ‘’sumber uang’’nya untuk lahan hijau. Salah satunya perumahan Bella Vista Garden, yang terletak di kawasan Arengka Pekanbaru. Kompleks perumahan seluas lima hektar ini sejak awal memang menjual lingkungan yang asri sebagai daya tarik utama. ”Kami menyebutnya perumahan bernuansa lingkungan,’’ ujar Ir Erwin B. Adhiwijaya MM, pimpinan PT Prima Damai Mandiri, pengembang Bella Vista Garden. Erwin bahkan mengklaim kalau konsep yang diusungnya ini adalah yang pertama di Bumi Lancang Kuning ini. Suasana rindang dan sejuk memang sangat terasa begitu memasuki gerbang perumahan yang bergaya minimalis berbalut batu alam ini. Taman berumput hijau yang diselingi pohon palem menghampar. Di tepi jalan lingkungan juga terdapat berm (tepian jalan) hamparan rumput gajah diselingi bunga asoka dengan kembangnya yang berwarna merah dan kuning. Kupu-kupu dan aneka jenis burung pun setiap hari meramaikan taman ini. Menurut Erwin, luas taman terbuka hijau sekitar 40 persen dari total areal perumahan. Itu belum ditambah dengan taman yang berada di tiap rumah. Maklum, seluruh tipe rumah di Bella Vista Garden memang dilengkapi dengan taman yang luas, di halaman depan 5 meter persegi dan belakang 7 meter persegi. ”Jadi total taman sekitar 60 persen dari luas lahan,” kata Erwin yang sebelumnya pernah bergabung dengan pengembang nasional grup Ciputra ini. Untuk mengisi taman-taman ini, dipilihlah rumput gajah, pohon palem, dan pohon bintaro yang didatangkan dari Semarang, Jawa Tengah. “Pohon palem dan bintaro kami pilih karena cocok dengan iklim panas. Sedangkan rumput gajah, terutama gajah mini, mudah perawatannya,” kata pria lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Parahiyangan Bandung ini. Konstruksi rumah pun dirancang berwawasan lingkungan. Rangka atap menggunakan rangka baja ringan. Rangka ini, selain jauh lebih tahan, juga untuk meminimalisasi penggunaan sumber daya alam seperti kayu. ”Setidaknya bisa mengurangi jumlah kayu yang ditebang di hutan,” katanya sambil tersenyum. Hampir seluruh ruangan dipasangi jendela berukuran besar, rata-rata ukurannya 2 meter kali 1,4 meter. Plafon pun dibangun tinggi, sehingga ruangan yang ada terasa sejuk dan semakin sejuk dengan semilir angin yang masuk dari luar. ”Taman di halaman selain berfungsi sebagai sumber resapan air, juga membuat suasana rumah jadi sejuk. Kalau ruangan sejuk, kan tidak perlu terlalu banyak menggunakan air conditioner. Jendela besar membuat ruangan jadi terang, sehingga tidak perlu banyak lampu menyala. Ini adalah konsep hemat energi kami,” katanya lagi. Saluran pembuangan pun dirancang khusus. Seluruh saluran gorong-gorong dibangun terpadu dan tertutup. Sebelum berakhir di parit, air limbah rumah tangga dilewatkan dulu di ‘’bak rembesan’’. Bak ini ditanam di dalam tanah, berisi lapisan batu bata, pasir, dan ijuk, yang berfungsi menyaring air limbah rumah tangga. ”Agar air buangan yang mengalir ke parit sudah bening sehingga tidak terlalu membebani lingkungan,” jelasnya. Erwin juga berencana menyediakan tempat pembuangan sampah organik dan non organik terpisah di tiap rumah. ”Nantinya sampah organik bisa diolah menjadi kompos,” katanya. Dengan konsep ini, Erwin yakin perumahannya akan mendapat pasar yang bagus. “Kami yakin, konsumen sekarang ini tidak melulu mencari rumah yang bagus saja. Tapi lingkungan juga sama pentingnya dengan rumah itu sendiri,” katanya. Menilik harga jualnya (tipe paling murah sekitar Rp 400 jutaan, Red), jelas perumahan ini ditujukan untuk kalangan menengah ke atas. Namun sesungguhnya, tidak perlu mengeluarkan uang berjuta-juta rupiah untuk mewujudkan konsep green design pada rumah kita. Yang lebih diperlukan adalah kepedulian kita akan pentingnya menjaga lingkungan dari lingkungan terdekat, yaitu rumah kita. Bukankah sudah banyak terbukti, kalau kita tidak pintar-pintar menjaga lingkungan, maka bisa jadi kita harus membayar jauh lebih mahal. *** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|



