Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Tiga Sungai di Riau Belum Tersentuh Bangunan Pengendali Banjir
Minggu, 30 Maret 2008
Laporan Andi Noviriyanti, Pekanbaru Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Tiga dari empat sungai besar di Riau, yakni Sungai Rokan, Sungai Kampar, dan Sungai Indragiri sampai saat ini belum disentuh pembangunan struktur pengendali banjir. Baru hanya Sungai Siak untuk wilayah Kota Pekanbaru yang diberi sentuhan bangunan pengendali banjir, berupa pembangunan pompa banjir, tanggul banjir  dan saluran banjir. Itupun belum selesai dibangun, akibatnya banjir karena luapan air sungai itu tidak bisa dibendung.

Banjir yang melanda Provinsi Riau, benar-benar tidak bisa dielakkan. Curah hujan tinggi dan  Daerah Aliran Sungai (DAS) rusak. Ditambah lagi instansi pemukiman dan prasarana wilayah (Kimpraswil) di tingkat pusat hingga tingkat daerah, karena alasan keterbatasan biaya, juga belum bisa memberikan sentuhan bangunan (struktur) pengendali banjir yang memadai.

Menurut Kepala Balai Sungai Sumatera III Departemen Kimpraswil Agung Anggoro, satu-satunya sungai yang telah jelas perencanaan penanggulangan banjirnya dengan bangunan struktur hanyalah Sungai Siak di wilayah Kota Pekanbaru. Dimana telah ditetapkan adanya pembangunan enam sektor pengamanan banjir. Keenam sektor itu adalah Sektor I untuk wilayah Kecamatan Senapelan, Sektor II untuk wilayah Kecamatan Lima Puluh, Sektor III, IV dan V untuk wilayah Kecamatan  Rumbai dan sektor VI untuk wilayah Kecamatan Tampan.

Namun keenam sektor itupun belum rampung dibangun secara keseluruhan. Dari enam sektor pengamanan yang dibangun, baru hanya dua sektor yang selesai. Sektor yang selesai itu adalah sektor I dan sektor II. Dimana pada sektor I telah dibangun dua unit pompa banjir (Pompa Banjir Sago dan Senapelan), tanggul  banjir  sepanjang 2,835 meter, saluran banjir 2,835 meter dan pintu air sebanyak sepuluh buah. Di sektor II telah dibangun pompa banjir satu unit (Pompa Banjir Tanjung Datuk), tanggul banjir 1.500 meter, saluran banjir 800 meter dan pengamanan tebing 100 meter.

Sementara itu di sektor III dan IV sedang dalam tahap pengerjaan. Dimana di sektor III telah dibangun satu unit pompa banjir (Pompa Banjir Nelayan), tanggul banjir 5.300 meter, saluran banjir 6.400 meter dan bangunan pelengkap tiga buah. Sektor III ini belum selesai karena dalam perencanaannya diperlukan tiga pompa banjir lagi untuk mengamankan kawasan itu. Selanjutnya untuk sektor IV, baru saja awal tahun ini selesai satu pompa. Masih ada satu pompa lagi yang harus dibangun.

Terakhir untuk sektor V dan VI belum ada pembangunan sama sekali. Belum rampungnya hal itu menurut Anggoro terkait dengan terbatasnya pendanaan. ”Total untuk keseluruhan keenam sektor itu dibutuhkan dana Rp700 miliar. Kita sulit mendapatkan dana sebanyak itu, makanya dibangun berangsur-angsur. Pembangunan keenam sektor ini malah telah mulai dibangun tahun 1987 lalu,” ungkap kepala institusi yang baru terbentuk tahun 2007 ini sebagai mandat dari Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Itulah sebabnya, menurutnya, banjir di Kota Pekanbaru akibat luapan di Sungai Siak belum bisa dibendung. Mengingat keenam sektor yang  direncanakan untuk menanggulangi banjir belum selesai dibangun. Itulah pula sebabnya, banjir akibat luapan tiga sungai lainnya tidak bisa juga dihindari. Mengingat tidak ada prasarana penanggulangan banjir di ketiga sungai besar tersebut.

Namun Anggoro mengingatkan bahwa untuk penanggulangan sungai Rokan, Kampar dan Indragiri tidak memerlukan pompa banjir. Mengingat pompa banjir hanya diperlukan untuk sungai yang dipengaruhi pasang air laut seperti Sungai Siak. ”Jadi untuk ketiga sungai itu yang perlu dibangun hanya tanggul,” ungkapnya.    

Anggoro juga menambahkan selain upaya membangun tanggul ada baiknya di sungai-sungai di Riau dibangun bendungan. Selain gunanya untuk mengatasi banjir juga untuk penyediaan sumber air baku bagi masyarakat. Menurut rencana, bendungan baru itu akan dibangun di Lubukjambi untuk Sungai Indragiri dan di Kamparkanan untuk Sungai Kampar.

Sementara itu, menurut Dadi Komardi, Subdin Sungai, Rawa, Pantai dan Danau (Surapada) Dinas Kimpraswil Riau, menyebutkan untuk tahun 2008 ini telah ada sepuluh program umum untuk kegiatan pengelolaan sungai, danau dan waduk di Riau. Pertama, menyusun pola pengelolaan sumber daya air meliputi upaya konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Kedua, menyusun rencana induk pengelolaan sumber daya air sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan program jangka pendek (5 tahun), menengah (10 tahun), dan panjang  (25 tahun) pada setiap wilayah sungai. Ketiga, membuat detail desain dari bangunan sesuai program yang telah ditetapkan dari wilayah sungai.

Keempat, melanjutkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir Kota Pekanbaru. Kelima, memulai melaksanakan pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Kota Rengat dan Kota Dumai. Keenam, membangun bangunan pengaman tebing sungai di daerah-daerah kritis pada empat wilayah sungai. Ketujuh, membuat kanal-kanal banjir dan normalisasi sungai di beberapa kota dan kabupaten. Kedelapan, melakukan rehabilitasi kerusakan bangunan akibat banjir. Kesembilan, melakukan operasi dan pemeliharaan sungai serta operasi dan pemeliharaan bangunan sungai. Kesepuluh, melakukan pemantauan banjir melalui pos-pos pengamanan guna mendukung sistem informasi banjir secara dini.(fia)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org