| Minapolitan |
| Minggu, 23 Maret 2008 | |
|
Oleh TENGKU DAHRIL
Kehebatan sebuah kesebelasan sepakbola bukan hanya terletak pada kehebatan seorang individu dalam mengolah dan menendang bola melainkan juga sangat ditentukan oleh kemampuan masing-masing individu bekerjasama secara harmonis dalam suatu tim, sehingga bisa saling mendukung dalam mencetak gol. Tujuan dari permainan ini tentulah untuk memasukkan bola sebanyak mungkin ke gawang lawan, namun tidak harus semua pemain mesti memasukkan bola ke gawang lawan tersebut. Harus ada di antara mereka yang berperan sebagai pengover bola, penjaga gawang dan penyerang yang dipinpin oleh seorang kapten yang arif. Kerja sama antar individu dalam tim justru sangat menentukan keberhasilan sebuah kesebelasan dalam mencapai suatu kemenangan. Dalam pembangunan ekonomi Indonesia ke depan demi mensejahterakan kehidupan rakyat juga sangat dibutuhkan keharmonisan dalam suatu kerja sama yang saling mendukung. Semua departemen memang memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda, namun tujuannya tetaplah sama yaitu mensejahterakan kehidupan rakyat, namun jika masing-masing bekerja sendiri-sendiri saja, maka keberhasilan pastilah akan sangat lambat. Apalagi kalau masing-masing dengan egonya sendiri membangun tanpa memperhatikan kepentingan pihak lain, maka dapat dipastikan pembangunan justru akan kurang berhasil dan bahkan bisa gagal. Hal inilah yang sudah sangat disadari oleh pemerintah saat ini, sehingga diperlukan kerja sama antar departemen agar keberhasilan pembangunan semakin cepat dirasakan masyarakat. Sebagai seorang kapten dalam suatu kesebelasan, presiden, gubernur ataupun bupati memang memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat luar biasa besar, agar kepemerintahan di bawah kepemimpinannya sukses. Untuk itu mereka membutuhkan tim work yang tangguh dan kompak yang bisa bekerja secara bersama untuk mencapai tujuan bersama dimaksud. Oleh karena itulah Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) nasional maupun daerah sangatlah penting dan diperlukan guna menyusun rencana kerja strategi bersama dengan program kerja yang saling mendukung sehingga tidak ada kerja yang tidak berkait kelindan guna mencapai tujuan besar pembangunan nasional. Keberhasilan Gubernur Gorontalo dalam mengangkat jagung sebagai komoditas ungggulan dalam mengentaskan kemiskinan di daerahnya, merupakan sebuah contoh konkrit yang bijak. Gubernur Gorontalo bersama stafnya mencoba menyusun sebuah rencana kerja bersama dengan semua instansi terkait bisa saling bersinerji untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui komoditas jagung. Segala fasilitas yang dibutuhkan mulai dari sektor hulu sampai ke hilir dipersiapkan agar jagung benar-benar dapat menjadi satu komoditas andalan yang mampu mengentaskan kemiskinan rakyat sekaligus mengangkat citra daerah ke forum nasional ataupun internasional. Ternyata jika dikerjakan secara bersama dan sungguh-sungguh, mereka berhasil. Agropolitan yang dicanangkan pemerintah melalui kerja sama antara beberapa menteri terkait, terutama Menteri Pertanian dan Pekerjaan Umum beberapa tahun yang lalu dianggap berhasil dalam menciptakan suatu jaring kerja sama yang saling mendukung. Riau termasuk salah satu provinsi yang mendapat kesempatan sebagai pilot proyek dengan 4 kabupaten, yaitu Kampar, Kuansing, Indragiri Hulu dan Pelalawan. Namun sayangnya dalam konsep agropolitan tersebut, Sektor Perikanan belum termasuk sebagai salah satu komoditas yang dikembangkan. Padahal perikanan merupakan salah satu komoditas yang sangat penting dan dapat menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia masa depan. Menyadari akan kenyataan demikian Menteri Koordinator Bidang Perekonomian melalui Deputi Bidang Koordinasi Pertanian dan Perikanan, Dr Ir Bayu Krisnamurthi, MS mengundang Dijen Perikanan Budidaya dan Kepala Dinas Perikanan se Indonesia untuk membahas kerja sama dimaksud. Tujuannya tidak lain adalah untuk menjadikan perikanan budidaya sebagai salah satu sub sektor ekonomi andalan Indonesia masa depan yang dapat mengentaskan kemiskinan nasional. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa potensi perikanan budiaya Indonesia sangat luar biasa besar bahkan jauh melebihi potensi budidaya ikan Cina yang sudah berhasil memproduksi 36 juta ton ikan pertahun. Untuk itu disepakati untuk membangun secara bersama melalui sebuah program yang disebut Minapolitan. Minapolitan akan melibatkan semua departemen terkait, mulai dari Departemen Perikanan dan Kelautan sampai kepada Departemen Pekerjaan Umum, Perindustrian, Perdagangan, Perhubungan, Kesehatan, Pendidikan, PLN, pihak perbakan dan lain sebagainya. Minapolitan akan dikembangkan di seluruh kabupaten/kota di Indonesisa yang mempunyai kawasan budidaya perikanan potensial dengan mengambil salah satu komoditas unggulan masing-masing daerah. Bagi kabupaten yang telah memiliki program agropolitan dapat menyesuaikan dengan memasukkan komoditas perikanan sebagai salah satu komoditas unggulannya. Saya yang ikut hadir dalam pertemuan dimaksud sangat meyakini inilah sebuah program yang sangat baik dan perlu didukung oleh semua pihak secara optimal. Saya yakin banyak daerah di Provinsi Riau yang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang besar, namun belum dikembangkan secara baik karena tidak adanya sinerji antar departemen terkait. Misalnya Kabupaten Bengkalis, Kampar, Indragiri Hilir, Dumai, Pelalawan, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kuansing, Indragiri Hulu dan lain sebagainya. Salah satu persyaratan untuk masuk pada program Minapolitan ini adanya kesediaan dari kepala daerah masing-masing untuk menetapkan kawasan dimaksud dengan satu atau beberapa komoditas unggulan masing-masing daerah yang bersangkutan. Selain itu juga dibutuhkan master pland atau rencana kerja yang melibatkan instansi terkait antar departemen sehingga bisa saling mendukung. Selain itu sinerji antara kabupaten, provinsi dan pusat juga perlu dilakukan. Sebenarnya banyak fasilitas atau infrastruktur yang sangat diperlukan dalam mendukung pembangunan perikanan. Misalnya air bersih, saluran irigasi, pengairan, jalan raya, dermaga, listrik, alat angkut, cold storege, pasar, industri pasar panen, sertifikasi halal dan lain sebagainya dengan melibatkan instansi lain di luar Dinas Perikanan termasuk lembaga keuangan, seperti perbankan dan lembaga keuangan non bank serta pihak swasta dan masyarakat. Karena itulah saya menganggap program kerja sama yang saling bersinerji ini menjadi semakin penting. Dalam membangun usaha budidaya perikanan di Kabupaten Kampar misalnya, kita secara bersama sudah menetapkan ikan patin sebagai komoditas unggulannya. Karena itu semua fasilitas untuk mendorong produksi ikan patin mulai dari hulu sampai ke hilir perlu ada di Kabupaten Kampar. Mulai dari pembenihan, pendederan, pembesaran, pembuatan pakan, pembuatan kerambak jaring apung, kolam ikan sampai ke pada pasca panen seperti pembuatan krupuk, salai, abon, nugget, kaki naga, fish bugger, fillet sampai kepada pengalengan ikan patin sudah dan akan ada di Kampar. Karena ikan patin ini juga akan diekspor, maka tentu saja sangat diperlukan agar air untuk usaha budidaya ini harus terjaga dari pencemaran lingkungan. Karena itu perlu dibangun kerja sama yang harmonis antara instansi terkait seperti Bapedalda, termasuk dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pekerjaan Umum, Kesehatan, Pendidikan, Perguruan Tinggi, Kehutanan, Majelis Ulama Indonesia, PLN, perhubungan, badan promosi dan investasi, balitbang dan lain-lain sehingga hasil perikanan benar-benar dapat diekspor keluar negeri dengan mudah. Dengan sinerji ini saya sangat berkeyakinan ekspor hasil perikanan maupun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri akan dapat kita tingkatkan sehingga perikanan benar-benar dapat menjadi tulang punggung ekonomi Riau masa kini dan masa depan. Mari kita sukseskan Minapolitan Riau.*** |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





