• Advertisement
  • Advertisement
  • Advertisement
Sabtu, 30 Agustus 2008 || 27 Syakban 1429 Hijriah
Total SportSaatnya Juara

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Teras UtamaSepakati Multi Tafsir Perjuangan Pers

Jumat, 29 Agustus 2008

article thumbnail

Manichaeanisme
Minggu, 23 Maret 2008
Oleh YUSMAR YUSUF
Petiklah semagat kosmopolitanisme yang telah berlangsung dalam tubuh seorang genius pada paruh pertama Masehi. Petik pula kisah kesetaraan dan upaya penggeseran yang dilakukannya terhadap tokoh-tokoh yang berada pada puncak wibawa kemanusiaan seperti Zarathustra, Buddha, juga tokoh besar dari Tiongkok K’ung dan mahaguru Nanak dari tanah India. Kenapa keempat tokoh ini bisa digeser? Karena sekian juta manusia dari Asia, Eropa, Afrika, daratan Cina terinspirasi pada ajaran yang disebarkannya yang berlangsung selama seribu tahun. Semangat kosmopolitanisme inilah yang menjadi dasar ajaran sang Mani. Gereja (atau rumah Tuhan) Manichee juga menjadi sumber inspirasi bagi komunitas-komunitas warga minoritas yang menjunjung keadilan.

Dia yang hidup pada 216-277 Masehi, adalah seorang kosmopolit sejati. Dia lahir dan dibesarkan pada suatu titik persilangan peradaban dan kehidupan religius. Pada masa itu merupakan satu dari pusat dunia yang unggul. Pada masa hidupnya, dia menyaksikan keperkasaan kekaisaran Parsi Sasani yang bertahan selama empat abad. Dan dia sendiri adalah seorang sahabat sang kaisar. Bahasa resmi kekaisaran masa itu adalah bahasa Aramaik sebagai lingua franca. Namun, dia juga mampu bertutur dalam bahasa Parsia dan Yunani. Dia juga seorang yang melakukan pengelanaan geografis ke anak benua India, demi mengungkai mistik dan jalan spiritual yang terbenam dalam gelap subur tanah India. Kaidah-kaidah fikirannya menguntum dari benturan-benturan kalangan tradisi religius besar yang pernah ada di zamannya, dan saling bersaing. Dia menjadi pewaris segala khazanah dan perbenturan kebudayaan dan tradisi religius yang berlangsung pada zaman itu. Akibat dialektika dari saling silang benturan itu, dia memimpikan sebuah sistem universal yang bisa menjadi sebuah instalasi kedamaian dan keadilan bagi seluruh umat muka bumi.

Mengenai sistem universal itu, bukanlah sebuah idaman personalnya, tetapi dia malah memproduksinya. Dia tidak berurusan dengan Tuhan dan manusia, tetapi dia berurusan dengan religi. Soal apakah urusan ini bersinggungan dengan efek ilahiah dan efek humanisme, itu hanya sebuah akibat semata. Nama yang dia berikan atas hasil produksi sistem universal itu adalah “Keadilan”. Namun pihak luar (exonym) menyebutnya sebagai Manichaeanisme.

Teramat sulit orang mendapat informasi tepat dan jitu mengenai sistem universal yang diproduksi Mani. Sebab, selain sumber yang terbatas, lebih banyak tulisan-tulisan yang berkembang dan subur berasal dari lawan-lawannya. Di sela-sela temuan pada versi lawan, juga ditemukan dokumen-dokumen dari kelompok ini dan bahkan tulisan tangan dari Mani sendiri, yang dibaca ulang, ditafsir ulang dengan susah payah, sehingga mampu mengubah pemahaman kita hari ini. Dari sumber dan tafsiran terbatas itu, dapat disimpulkan bahwa, Mani dan jamaahnya ketika itu tengah berhadap dengan sesuatu yang baru menurut ukuran di zaman itu; pluralisme dari tradisi-tradisi religius dengan semangat dakwah atau misionaritas yang saling bersaing bahkan menghancurkan satu sama lain.

Kaidah universal yang dipikul oleh ajaran ini adalah keadilan. Keadilan hanya dapat dicapai, berkat kemampuan kita melakukan pelayanan dalam bentuk ‘memanjakan kemanusiaan’. Semangat yang terkandung dalam tradisi-tradisi religius yang terhidang pada zaman Sasani itu adalah semangat mendakwahkan ajaran, menyling sistem universal yang saling bersaing, bahhkan saling memusnahkan. Dalam suasana persaingan seperti ini, masyarakat hidup dalam sangkaan-sangkaan, hidup dalam ‘proyek rejuvenasi’, dalam silang subur sak wasangka dan menghancurkan. Tiada keadilan dan upaya ‘memanjakan kemanusiaan’ yang tersembul dari semangat perkauman. Alias tiada dimensi humanisme yang disediakan oleh lalu lintas persaingan antar tradisi religius yang tumbuh subur di zaman Mani hidup dan memproduksikan ajaran universum itu.

Kaisar yang mendatangi maha spiritual Mani. Bukan sebaliknya. Saat gerombolan orang pandai, sibuk mendatangi penguasa, Mani mematahkan tradisi itu. Dia seorang yang dekat dengan kaisar. Dalam hal rujukan dan kepentingan politik negara, maka kaisar lah yang berkwajiban mendatangi Mani. Sebab tugas hidup baginya adalah ‘memanjakan kemanusiaan’. Kita melupakan kemanusiaan setelah kita memanggul pedang, bersandang keris, dan menghulu parang. Pedang, keris dan parang, seolah-olah kepercayaan itu sendiri, agama itu sendiri, jalan hidup itu sendiri. Maka agama, politik dan kekuasaan yang nota bene menjadi pedang, keris dan parang diberhalakan. Ada yang sibuk mengibas-ngibaskan pedang, ada yang terbirahikan terus mengacung-acungkan keris, sementara adapula yang sibuk mengasah parang.

Bunga ajaran yang menjadi selimut dan bunga bagi dunia, disilaukan oleh kehendak pedang, keris dan parang. Ajaran yang dimaksud sebagai mahakarya dalam isntalasi kemanusiaan itu malah berbelok menjadi pedang, keris dan pedang. Dia tidak lagi menjalani tugas-tugas naratif mengungkai kaidah-kaidah kemanusiaan, mengurai esensialitas kemanusiaan. Para pengikut ajaran, sepanjang persilangan tradisi itu melakukan upaya untuk memaksa tugas dan fungsi ke-Tuhan-an hadir dan berperan. Tuhan diperangkap dengan tugas-tugas yang dikonstruksi secara sosiologis oleh manusia. Tuhan menjalani tugas sesuai dengan kehendak pendukung sebuah ajaran. Tugas apocalypses, tugas menghakimi, tugas memberi azab dan mencederai orang lain di luar kepercayaan yang dianut oleh sekelompok komunitas dihubungan dengan kehendak Tuhan. Dilegitimasi dengan ayat-ayat suci yang turun dari langit. Tuhan sudah masuk dalam perangkap manusia, menjalani tugas-tugas rutin menurut nalar dan logika manusia.

Terlalu banyak dan cerewet tugas Tuhan yang kita beri peran selama kehidupan manusia berlangsung. Main domino, main catur juga Tuhan dilibatkan. Padahal ini, hanyalah sebuah dunia mainan manusia. Dunia panggung dan sinetron televisi juga melibatkan fungsi-fungsi ketuhanan dan efek ilahiah yang diterjemah secara hitam putih. Tugas dan fungsi ke-tuhan-an itu, dilakoni oleh para bidadari, jin muslim, peran supranatural yang memabukkan sebuah segmen sosiologik. Tuhan ditugaskan manusia untuk mebereskan penyelesaian-penyelesaian naratif, ketika manusia tidak lagi sabar berhadapan dengan kemungkaran. Juga ketika manusia tidak lagi sabar berhadapan dengan lambatnya keadilan turun berdasarkan doa, atau sebuah permohonan yang lebih sarat dengan upaya memaksa kekuatan lagit itu. Doa jenis ini berbau untung rugi dan perdagangan.

Inilah tugas Mani untuk membereskan perkara komunitas yang mabuk dalam menerjemahkan keadilan di masa itu. Ini juga upaya dia untuk menelanjangi persilangan dan permusuhan dari ragam tradisi religius yang saling memusnahkan. Sebuah upaya pemusnahan pelantar jiwa manusia, sebuah upayan pemusnahan khazanaha kemanusiaan muka bumi. Bahwa kehidupan ini adalah sebuah perjalanan panjang kemanusiaan itu sendiri. Kematian itu sendiri, bagi Manichee adalah bagian dari rangkaian ‘sejarah kemanusiaan’ itu sendiri. Kematian tidak lebih dari sebuah etape dari perjalanan panjang ‘sejarah kemanusiaan’. Ini pula semangat kosmopolit yang berhajat menghentikan perilaku-perilaku instan, perilaku serba tak sabar. Keadilan bagi Manichee, ialah kemampuan dalam ‘menahan diri’. Inilah makna kosmopolit itu.***

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

StopGlobalWarming.org