Jumat, 21 November 2008 || 23 Zulqaidah 1429 Hijriah
Total SportFantastis

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Teras UtamaTindak Tegas Biro Travel Telantarkan JCH di Malaysia

Jumat, 21 November 2008

article thumbnail

Jacques le Fataliste
Minggu, 23 Maret 2008
Oleh HASAN JUNUS
Judul lengkap karya ini ialah ‘’Jacques le Fataliste et son Maître’’, suatu bancuhan antara hiburan dan filsafat karya Denis Diderot (1713-1784). Karya ini harus menunggu lama sampai munculnya karya sastra yang mengimbanginya untuk disetarakan sebagai sebuah ‘’anti roman’’. Roman anti-roman yang ditahbiskan oleh para kritikus sebagai pengimbang itu ialah ‘’Les faux monnnnayeurs’’ karya André Gide (1869-1951). Dari kedua karya anti roman inilah kemudian muncul karya-karya yang bersumber dari kelompok ‘’nouveux roman’’ dengan para pendekar yang terdiri dari para pengarang semacam Nathalie Sarraute, Alain Robbe-Grillet, Michel Butor, Claude Simon, Marguerite Duras dan sekian teman-teman mereka lainnya.

DALAM karyanya Art of Novel Milan Kundera menjelaskan tentang karya Denis Diderot sebagai berikut: Pada pembukaan Jacques le Fataliste et son Maître muncul dua tokoh hero di tengah suatu perjalanan; kita tak tahu dari mana keduanya datang dan ke mana mereka pergi. Mereka ada di dalam waktu tanpa awal dan tanpa akhir, di dalam ruang tanpa batas, di tengah-tengah Eropa yang masa depannya tak pernah berakhir.         

Kedua tokoh yang terdiri dari seorang tuan dan pembantu atau pengiringnya pada awalnya ditokohkan oleh Don Quijote de la Mancha dengan Sancho Panza dan dilanjutkan dengan tokoh-tokoh semacam itu lainnnya. Pembukaan cerita yang mengisahkan munculnya tokoh-tokoh di tengah perjalanan dapat dijumpai lagi dalam cerita-cerita prosa Samuel Beckett (1906-1989) yang lebih jelas dibandingkan dengan cerita-cerita pentasnya.

Ketika menjelaskan tentang pesona sosok permainan  dalam karya sastra, Milan Kundera dalam karya yang sama mengatakan bahwa Tristram Shandy karya Laurence Sterne (1713-1768) dan Jacques le Fataliste et son Maître karya Denis Diderot  baginya merupakan dua karya pengarang besar abad XVIII, dua karya sastra yang sengaja disusun sebagai suatu sosok permainan yang membangkitkan keriangan dan menabur wangi kegembiraan. Kedua karangan itu sesungguhnya berhasil dengan mudah dan ringan mencapai pucuk puncak kelucuan, tiada tolok bandingnya dengan karya-karya yang pernah ada sebelumnya. Sesudah masa itu roman @ novel membiarkan dirinya terikat pada pemunculan kebenaran yang imperative, pada setting yang realistis dan aturan kronologi. Ini melepaskan kesempatan agar bisa membuka berbagai kemungkinan pada kedua karya penting yang disebuit tadi  yang akan mengarah kepada pengembangan seni roman @ novel yang berbeda. Bagi pengarang pemberontak, keriangan dan kelucuan merupakan sosok yang sama, yang satu. Pada abad XVIII humor Sterne dan Diderot ialah sesuatu yang mengharukan rekoleksi nostalgis kegembiran riuh rendah kelompok pemberontak. Pada abad XIX pengarang Rusia Nikolai Gogol (1809-1852) dipandang sebagai humoris yang melankolis.

Dalam Jacques le Fataliste et son Maître, Si Jacques dengan sikap tanpa beban menggoda cewek-cewek para sahabatnya, sambil berpesta dan bermabuk-mabukan. Orang tuanya memarahinya dengan sangat, bahkan menghajarnya, sementara suatu pasukan dari suatu resimen lewat di jalan. Walaupn Jacques sudah mencatatkan diri sebagai anggota pasukan dan siap bertempur, pada pertempuran pertama ia tertembak di lutut sehingga ia mengalami pincang seumur hidup.

Kepincangan atau ketimpangan kaki yang  dialami Jacques le Fataliste tidaklah sama dengan ‘’tépok’’ yang dialami oleh Bendahara Paduka Raja sebagaimana tertulis dalam Sejarah Melayu. Dalam terjemahan bahasa Perancis (agar karya Tun Seri Lanang dapat dibariskan bersebelahan dengan karya Denis Diderot) tertera seperti disalin berikut ini: Le Bendahara Paduka Raja était vieux, il n’avait plus de dents, il était paralysé. Assis devant la porte, c’est là qu’il dormait, qu’il mangeait, qu’il déféquait, qu’il urinait. (Archipel 73 halamn 203). Padahal dalam sosok aslinya  ialah sebagai di bawah ini: Adapun Bendahara Paduka Tuan itu sudah tualah, giginya pun habis, kaki pun telah tépok, duduk di muka pintu, di sana duduk di sana tidur, di sana makan, di sana bérak, di sana kencing.

Bendahara Melaka itu semasa mudanya  mungkin sekali bengis dan kejam, sebagaimana biasanya orang-orang berpangkat tinggi, sehingga pada masa tuanya duduk di depan pintu lumpuh layu tak berdaya dipermainkan anak-anak dengan senandung mengejek, ‘’Epok-epok penganan talam, hantu tépok berjalan malam, Tepuk-tepuk tengah talam, Bendahara tépok  timbul tenggelam, Hore!’’         

Karya sastra Melayu memang kurang memberikan tekanan kepada keriangan dan seloroh. Tentu saja saya bisa menyebutkan karya Shahnon Ahmad Detik-detik Diri di Daerah Dhaif yang amat kocak itu. Namun kekocakan dalam karya-karya sastra di kedua tepi Selat Melaka tetaplah barang langka.

   Padahal sejak lama kita hidup dalam sastra gembira seperti yang terlihat dalam karya-karya M Kasim dan Suman Hs. Bahkan dengan Rabelais pun kita sudah membuat kontak.

Karya François Rabelais (1494-1553) cerita Le pauvre et le rôtisseur disadur dalam buku bacaan huruf Arab-Melayu sebelum Perang Dunia Kedua  menjadi ‘’Bau Dibayar dengan Bunyi’’. Benih yang disemai kedua orang itu dapat ditelusuri dengan terbitnya serangkaian karya oleh Mosthamir Thalib  dalam masa sepanjang beberapa dekade terakhir ini. Cerita-cerita Rabelais mungkin dipungut dari buku-buku pelajaran bahasa Perancis, mungkin pula dari penerbitan lama yang hampir tidak dikenal lagi asal usulnya karena melalui proses saduran atau adaptasi yang terlampau bebas. ‘’Bau Dibayar dengan Bunyi’’ mengisahkan seorang yang pergi ke pasar dan melihat seorang tukang jual goreng pisang sedang menggoreng pisang.  Ia bertanya kepada si tamu, ‘’Mau beli?’’ “”Tak perlu membeli, bau goreng pisang itu sudah mengenyangkan perutku.’’ ‘’Untuk itu kau harus membayar. Perkara sampai ke polisi, dan polisi menyuruh si tamu membayar. Dengan marah ia membanting sebuah uang logam. ‘’Wah, aku puas mendengar bunyinya!’’ kata penjual goreng pisang. Polisi menyuruh ia mengembalikan uang itu kepada si tamu, Bau dibayar dengan bunyi.   

Cerita Rabelais yang lain ialah tentang anjing-anjing Paris membalas dendam dengan mengencingi suatu tempat sampai menimbulkan banjir di kota Paris. Cerita Melayu terjadi di Pulau Penyengat tentang Pak Urip, seorang asal Ponorogo yang sudah 30 tahun menetap dan beristeri dan beranak cukup banyak. Ia ingin main sandiwara bangsawan tapi tak mengerti bahasa raja-raja. Tapi sutradara menyuruh Pak Urip jadi Menteri dan  dengan suara lantang ia berseru, ‘’Patek sudah bilang, jangan jangan tuanku degil!’’ Dua minggu Pulau Penyengat bergoyang oleh ketawa penduduknya. Tak maukah kau menciptakan karya sastra yang berkesan dalam, lama teringat dan penuh keriangan?***   

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
epaper.riaupos.co.id

StopGlobalWarming.org